Peneliti: Pendekatan sosial ekologis penting dalam pembangunan tanggul

id pembangunan tanggul,perubahan iklim,bencana banjir

Peneliti: Pendekatan sosial ekologis penting dalam pembangunan tanggul

Seorang anak bermain di sekitar lokasi pembangunan tanggul pemecah ombak (break water) di Desa Suak Indrapuri, Meulaboh, Ibu Kota Kabupaten Aceh Barat, Sabtu (5/12/2020). Pembangunan tanggul sepanjang 210 meter yang ditargetkan rampung pada tahun 2020 ini telah dituntaskan, sebagai upaya untuk menanggulangi banjir rob yang selama ini melanda kawasan tersebut. (ANTARA/Teuku Dedi Iskandar)

Jakarta (ANTARA) - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan pembangunan tanggul perlu memperhatikan aspek perubahan iklim dan aspek sosial ekologis seperti dampak aktivitas manusia termasuk kegiatan pembangunan dan urbanisasi untuk mengoptimalkan upaya mitigasi bencana banjir.

"Tidak semata tanggulnya saja, artinya perbaikannya tidak hanya pada konstruksinya saja tetapi juga sistem sosial dan lingkungan di sekitarnya," kata peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI Gusti Ayu Surtiari kepada ANTARA, Jakarta, Rabu.

Gusti menuturkan pembangunan tanggul saat ini tidak lagi bisa disamakan dengan pembangunan dalam kondisi normal, karena adanya tantangan perubahan iklim yang harus di hadapi seperti cuaca ekstrem yang berakibat pada meningkatnya intensitas curah hujan, serta aktivitas manusia yang semakin menekan lingkungan.

Pembangunan tanggul harus sudah mempertimbangkan kenaikan atau kecenderungan meningkatnya limpasan air permukaan akibat dua faktor, yakni limpasan air yang tidak lagi dapat dianggap normal di saat cuaca ekstrem dan daya dukung lingkungan yang menurun, dan dampak dari aktivitas penduduk.

Baca juga: Pembangunan tanggul laut Jakarta harus jamin akses nelayan melaut

Baca juga: Tanggul laut roboh karena cuaca, pembangunan tetap lanjut


Salah satu dampak dari cuaca ekstrem yaitu meningkatnya curah hujan yang juga merupakan satu dari banyak dampak perubahan iklim.

Untuk itu, strategi dalam membangun infrastruktur untuk adaptasi bencana banjir, harus mempertimbangkan potensi dampak ekstrem tersebut, dan diikuti dengan peningkatan kontrol pada kegiatan-kegiatan manusia yang cenderung sudah mengurangi aspek keberlanjutan lingkungan.

Kemudian, yang harus diperhatikan juga adalah tidak melulu berkonsentrasi pada perbaikan atau konstruksi tanggul, tetapi pada sistem sosial dan lingkungan di sekitarnya.

Robohnya tanggul sungai yang disebabkan karena kapasitas yang terbatas dalam menampung aliran air disebabkan karena kualitas lingkungan yang semakin menurun.

Kualitas lingkungan yang menurun itu bisa ditunjukkan dengan adanya sedimentasi di sepanjang sungai karena dampak dari aktivitas manusia atau berbagai kegiatan tak ramah lingkungan di sekitarnya, dan juga berkurangnya resapan di berbagai kawasan sepanjang daerah aliran sungai.

"Kita tidak bisa mengharapkan hanya berfokus pada aspek sungainya saja yang menjadi tempat atau ruang bagi air dapat mengalir ke laut tetapi juga pada daerah-daerah atau kawasan sekitarnya yang berpengaruh langsung dan tidak langsung pada badan sungai tersebut," tutur Gusti.

Beberapa hal yang harus dilakukan dalam mitigasi bencana banjir adalah melakukan pemeliharaan yang maksimal terhadap tanggul-tanggul dengan terus mempertimbangkan perubahan ekstrem yang terjadi baik di dalam konteks iklim maupun konteks perubahan penggunaan lahan, dan pengontrolan aktivitas pembangunan yang konsisten dengan lebih menggunakan pendekatan ekosistem.

Selain itu, pemantauan rutin terhadap kualitas tanggul sangat penting dilakukan karena banyak infrastruktur yang masih berpotensi menghadapi risiko yang lebih besar di masa mendatang. Sehingga potensi dampak bagi masyarakat dapat dipantau secara reguler.*

Baca juga: Pembangunan tanggul tsunami di Kota Palu telan dana Rp250 miliar

Baca juga: Pembangunan tanggul laut di Pekalongan tunjukkan progres positif

Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar