Pakar: Tingginya mobilitas abai prokes picu penyebaran varian Delta

id ULM,Universitas Lambung Mangkurat,Hidayatullah Muttaqin

Pakar: Tingginya mobilitas abai prokes picu penyebaran varian Delta

Tim KBR Satuan Brimob Polda Kalsel membantu proses pemakaman jenazah pasien COVID-19 di Rumah Sakit Idaman Kota Banjarbaru. (ANTARA/Firman)

Banjarmasin (ANTARA) - Anggota Tim Pakar Universitas Lambung Mangkurat (ULM) untuk Penanganan COVID-19 Hidayatullah Muttaqin SE, MSI, Pg.D mengatakan tingginya mobilitas penduduk yang mengabaikan protokol kesehatan (prokes) memicu COVID-19 varian Delta terus menyebar.

"Varian Delta dari India atau yang dikenal dengan B.1.617.2 masuk dan meledakkan pandemi di Indonesia melalui celah tingginya mobilitas penduduk, lemahnya testing dan tracing serta menurunnya penerapan protokol kesehatan," katanya di Banjarmasin, Jumat.

Baca juga: Seluruh pasien varian Delta di RSLI dinyatakan sembuh

Baca juga: Pakar: Varian Delta menular saat berpapasan perlu pembuktian ilmiah

Menurut Taqin, perkembangan pandemi di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Setelah sepekan terakhir kasus konfirmasi melonjak di level 12 ribu hingga 15 ribu penduduk yang terinfeksi, bahkan Kamis 24/6) jumlahnya sudah menyentuh 20 ribu kasus harian.

Ledakan kasus tersebut diperkirakan lantaran pengendalian mobilitas penduduk belum maksimal dan menurunnya testing. Sementara ketaatan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan cenderung semakin lemah.

"Saya cenderung melihat penurunan kasus sejak Maret lalu bukan karena keberhasilan PPKM Mikro, melainkan akibat turunnya testing dan tracing. Indikasinya terlihat semakin rendahnya angka testing dengan PCR hingga setengah dari jumlah testing di bulan Januari dan Februari," jelasnya.

Sejak Maret hingga Mei, penurunan kasus berhenti di kisaran 4.000 sampai 5.000 kasus per hari dari sebelumnya 9.000 sampai 10.000 kasus per hari pada Januari dan Februari.

Tingkat penurunan tersebut sesuai dengan level penurunan tes PCR, yaitu dari sekitar 40 ribuan orang di tes PCR tiap harinya menjadi hanya sekitar 20 ribuan orang per hari.

Akibatnya, ungkap Taqin, terjadi penurunan semu yang justru berbahaya karena membuat penanganan pandemi melemah. Sementara kegiatan ekonomi semakin dilonggarkan yang mendorong laju mobilitas penduduk, sedangkan masyarakat semakin terdorong untuk mengabaikan protokol kesehatan.

Kondisi saat ini diperparah dengan menyebarnya COVID-19 varian Delta dengan daya transmisi virus 30 sampai 100 persen lebih tinggi dan dua kali lebih besar risikonya untuk dirawat di rumah sakit dibanding varian Alpha dari Inggirs (B.1.1.7).

Baca juga: Kemenkes: Varian Delta cenderung infeksi pasien usia 18 ke bawah

Baca juga: Pakar: Masker dobel dapat cegah penularan COVID-19 varian Delta

Untuk itu, Taqin mengharapkan pemerintah sigap mengambil strategi mitigasi penularan yang lebih besar. Perlunya menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) secara total di pulau Jawa dan pembatasan ketat di luar Jawa.

Kunci menghentikan proses reflikasi COVID-19 di wilayah yang sedang meledak dengan menghentikan sementara mobilitas penduduk, testing dan tracing secepat dan sebanyak-banyaknya.

Sementara daerah yang masih rendah tingkat penularannya juga harus mengendalikan mobilitas penduduk dengan menurunkan tensi kegiatan ekonomi dan penerapan protokol kesehatan dengan ketat.

"Pada saat bersamaan proses vaksinasi terus dipercepat untuk mewujudkan kekebalan komunal di tengah masyarakat," pungkasnya.


Pewarta : Firman
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar