China siapkan Rp3,3 triliun untuk perlindungan keanekaragaman hayati

id Presiden China Xi Jinping,keanekaragaman hayati,COP15,Kunming

China siapkan Rp3,3 triliun untuk perlindungan keanekaragaman hayati

Arsip - Seekor panda raksasa bersandar di pohon di lokasi perlindungan panda Bifengxia di Ya'an, Sichuan, China, April 2013. (ANTARA/Reuters/as)

Kunming (ANTARA) - Presiden China Xi Jinping mengumumkan peluncuran dana senilai 1,5 miliar yuan (sekitar Rp3,3 triliun) untuk mendukung perlindungan keanekaragaman hayati di negara-negara berkembang, Selasa.

Xi menyampaikan pidato secara virtual pada KTT keanekaragaman hayati COP15 di Kunming, China, di mana para diplomat, ilmuwan, dan ahli konservasi bertemu dengan tujuan membentuk kesepakatan global untuk menghentikan dan memperbaiki kerusakan alam.

"Negara berkembang membutuhkan bantuan dan dukungan, dan solidaritas harus diperkuat untuk memungkinkan negara berkembang mendapat keuntungan dengan cara yang lebih adil," kata Xi.

Presiden Xi mengatakan kontribusi China untuk Dana Keanekaragaman Hayati Kunming akan dimulai dari 1,5 miliar yuan dan kontribusi pihak lain disambut baik.

Dia juga mengumumkan rencana untuk mengonsolidasikan sistem taman nasional di China, proyek pertama yang akan melindungi lahan seluas 230.000 km persegi.

Daerah ini adalah rumah bagi hampir 30 persen spesies satwa liar darat utama yang ada di China, kata Xi.

Baca juga: PBB desak negara-negara lebih berinvestasi pada keanekaragaman hayati

Para ahli memperingatkan bahwa upaya China untuk melestarikan keanekaragaman hayati di dalam negeri belum diimbangi dengan upaya untuk membersihkan rantai pasokan globalnya atau memulai investasi berkelanjutan di luar negeri.

Li Shuo, penasihat iklim senior di Greenpeace China, mengatakan dana tersebut "harus mendorong pembicaraan yang sangat dibutuhkan tentang pendanaan keanekaragaman hayati".

“COP15 perlu melihat negara-negara donor dari negara maju berkontribusi dalam hal ini,” kata dia.

Menurut para ahli, dibutuhkan sekitar 1 triliun dolar AS (sekitar Rp14.197 triliun) per tahun untuk membangun rantai pasokan yang berkelanjutan dan membantu negara-negara melindungi alam dengan cara lain.

Perkiraan tersebut jauh lebih banyak dibandingkan 150 miliar dolar AS (sekitar Rp2.129 triliun) dana yang dihabiskan untuk upaya serupa pada 2019.

Baca juga: Presiden China akan ikuti KTT perubahan iklim atas undangan Biden
Baca juga: Peneliti: Hilangnya biodiversitas lebih cepat dari penemuan spesies


Sumber: Reuters

Pewarta : Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Anton Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar