BRIN mulai riset roket bertingkat

id riset roket,BRIN,Badan Riset dan Inovasi Nasional

BRIN mulai riset roket bertingkat

Ilustrasi - Roket Falcon 9 membawa Satelit Merah Putih pada peluncuran di Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat. ANTARA FOTO/Saptono/Spt/ama/pri.

Jakarta (ANTARA) - Organisasi Riset (OR) Penerbangan dan Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memulai riset roket bertingkat pada 2021.

"Untuk tahun 2021, target utama antara lain memulai riset roket bertingkat," kata Kepala OR Penerbangan dan Antariksa BRIN Erna Sri Adiningsih saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Rabu.

Riset roket bertingkat dimaksudkan untuk penguasaan teknologi roket sounding atau roket sonda keperluan riset dengan jangkauan ketinggian 200 kilometer (km).

Erna menuturkan penguasaan teknologi roket bertingkat diharapkan akan menjadi jembatan untuk pengembangan selanjutnya, yaitu roket pengorbit satelit dengan ketinggian lebih dari 300 km.

"Roket sonda akan mengemban misi penelitian atmosfer. Pengembangan roket juga penting untuk mendukung sistem komunikasi dan pertahanan bagi negara kepulauan Indonesia," katanya.

Indonesia memerlukan kemajuan teknologi roket yang merupakan teknologi terdepan untuk menjaga keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan untuk kesejahteraan dan kemajuan masyarakat Indonesia.

Baca juga: BRIN: Indonesia berpeluang ciptakan nilai ekonomi dari keantariksaan

Baca juga: Lapan dan BPPT lakukan riset roket untuk modifikasi cuaca


Erna mengatakan pengembangan roket bertingkat semula dijadwalkan bisa dilakukan uji terbang pada 2024 tapi mundur dari jadwal karena pandemi COVID-19.

Tantangan dalam pengembangan roket tersebut adalah bahan-bahan untuk teknologi roket tidak mudah untuk diperoleh baik dari penyedia lokal maupun internasional.

Oleh karena itu, lanjut Erna, perlu riset-riset untuk pembuatan komponen-komponen roket yang dilakukan secara intensif dan berkesinambungan.

OR Penerbangan dan Antariksa BRIN sebelumnya memiliki agenda periode 2021-2025 untuk mengembangkan roket dua tingkat dengan ketinggian 300 kilometer.

Sementara pada 2040, diharapkan Indonesia memiliki roket pengorbit satelit yang dapat membawa satelit 100 kilogram, dan roket itu diluncurkan dari bandar antariksa milik Indonesia.

Baca juga: Rektor Unhan paparkan urgensi penguasaan teknologi roket

Baca juga: Lapan buka kerja sama pengembangan roket

Pewarta : Martha Herlinawati Simanjuntak
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar