Tiga titik panas terdeteksi di Aceh

id titik panas,aceh,kebakaran hutan,bmkg,satelit,citra satelit

Tiga titik panas terdeteksi di Aceh

Ilustrasi personel TNI memadamkan api yang membakar perkebunan kelapa sawit di Sungai Aur, Muaro Jambi, Sabtu (12/9). (ANTARA FOTO/Wahyu Putro)

Meulaboh, Aceh (ANTARA News) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan, dua satelit yang digunakan memantau titik panas menemukan ada kebakaran hutan dan lahan pada dua kabupaten wilayah barat selatan Aceh.

"Hingga pagi tadi (Rabu) satelit mendeteksi tiga titik panas. Dua titik panas di Kabupaten Nagan Raya dan satu titik panas lain di Kabupaten Aceh Selatan," kata Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Blang Bintang, Aceh, Zakaria, saat dihubungi dari Meulaboh, Rabu.

Dia berujar, dua titik api di Nagan Raya yang terdeteksi melalui sensor modis pada satelit Terra dan Aqua itu, memberikan gambaran lokasi wilayah yang mengalami kebakaran lahan dengan tingkat kepercayaan masing-masing 62 persen dan 67 persen.

Sementara satu titik panas lainnya di Kabupaten Aceh Selatan dengan tingkat kepercayaan 32 persen, menurut Zakaria, ada kemungkinan di Kabupaten Nagan Raya dengan tingkat kepercayaan paling tinggi memiliki pesebaran titik bara api yang terpisah.

Dia menyampaikan, ada dua kelemahan dari alat yang digunakan mendeteksi hotspot, pertama apabila tertutup awan, kedua luasan tidak mencapai 1 km persegi, karenanya bisa jadi ada lebih ditemukan lokasi kebakaran lahan bergambut di Nagan Raya, Aceh.

"Apabila ada sensor modis lain yang bisa menemukan 5-6 titik panas, itu bisa saja terjadi namun luasannya tidak terdeteksi oleh sensor modis Terra dan Aqua. Data itu bisa menjadi pegangan untuk mereka di daerah mencari lokasi kebakaran,"sebutnya.

Lebih lanjut disampaikan, apabila tingkat kepercayaan terdeteksi di atas 60 persen kemungkinan besar terjadi titik api atau kebakaran, namun di bawah itu belum bisa diartikan adanya kebakaran, bisa jadi karena kenaikan suhu pada satu daerah.

Pewarta : Anwar
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar