Fadli Zon katakan DPR konsisten suarakan isu Palestina

id palestina,solidaritas palestina,dpr,indonesia,kemerdekaan indonesia

Fadli Zon katakan DPR konsisten suarakan isu Palestina

Dokumentasi warga Palestina duduk di luar rumah mereka di kamp pengungsi Khan Younis di selatan Jalur Gaza, Rabu (20/6/2018). (REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa)

Jakarta (ANTARA News) - Wakil Ketua DPR, Fadli Zon, menyatakan, DPR selalu konsisten dalam menyuarakan isu Palestina di berbagai forum internasional, karena rakyat Indonesia sejak dahulu selalu mendukung kemerdekaan Palestina dari negara Israel.

"Isu Palestina selalu mendapatkan perhatian penting masyarakat Indonesia," kata dia, dalam pernyataan di Jakarta, Selasa.

Ia dan sejumlah anggota DPR juga telah menghadiri Konferensi Liga Parlemen untuk Yerusalem yang digelar di Istanbul, Turki, 14-15 Desember 2018.

Konferensi yang dihadiri delegasi lebih dari 75 negara itu merupakan organisasi dari parlemen seluruh dunia yang mendukung kemerdekaan Palestina, yang berdiri sejak 2015.

"Rakyat Palestina memang tak boleh berjuang sendirian. Kita harus menggalang dukungan dunia untuk membantu rakyat Palestina. Inilah yang turut diupayakan oleh organisasi ini, yaitu melalui jalur diplomasi parlemen," kata diai.

Sementara itu, Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah, menyatakan, mewujudkan kemerdekaan Palestina jangan diharapkan dapat tercapai dengan bantuan Amerika Serikat.

Ia berpendapat, daripada berharap dari inisiatif Amerika Serikat, lebih baik bila diformatkan sebuah koalisi yang dipenuhi negara-negara yang tulus terhadap isu Palestina.

"Sehingga kemerdekaan negera itu setahap demi setahap dapat dilacak, untuk kemudian menjadi bagian dari proses yang lebih maju dari waktu ke waktu," katanya.

Ia mengingatkan pemerintah Indonesia, inisiatif Indonesia pada tingkat global, dan khususnya tentang Palestina itu sangat dalam, antara lain karena di konstitusi Indonesia disebutkan kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa.

Sementara itu, Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen DPR, Rofi Munawar, menilai langkah Australia mengakui Yerusalem Barat sebagai ibu kota Israel adalah langkah keliru dan ceroboh bagi masa depan perdamaian Palestina-Israel.

"Keputusan itu tidak tepat. Jelas itu merugikan masa depan Palestina dan mengganggu hubungan Australia dengan mitra-mitra strategisnya termasuk Indonesia," kata dia.

Pewarta : M Razi Rahman
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar