Tujuh desa tangguh bencana dibentuk BPBD Gunung Kidul-Yogyakarta

id desa tangguh bencana,Gunung Kidul-Yogyakarta

Tujuh desa tangguh bencana dibentuk BPBD Gunung Kidul-Yogyakarta

Banjir Rob Gunung Kidul Warga menyeberang genangan banjir rob di kawasan pantai Somandeng, Gunungkidul, DI Yogyakarta, Kamis (9/6/2016). Ratusan lapak pedagang di kawasan wisata pantai Gunungkidul terendam banjir rob, gelombang pasang setinggi 5 meter tersebut hingga menutup akses jalan sepanjang pantai. (ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah)

Gunung Kidul, Yogyakarta (ANTARA News) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, 2019 menargetkan membentuk tujuh desa tangguh bencana untuk mengantisipasi risiko dampak terjadinya bencana.

 "Tahun ini kita membentuk tujuh desa tangguh bencana," kata Kepala Pelaksana BPBD Gunung Kidul?Edy Basuki di Gunung Kidul, Selasa.

 Adapun rencana tujuh desa tangguh bencana difokuskan di Desa Songbanyu dan Jepitu ( Kecamatan Girisubo), Siraman (Wonosari), Desa Karangngawen (Rongkop), Desa Bejiharjo (Karangmojo), dan Serut (Gedangsari).

 Sampai saat ini, ada 47 desa di Gunung Kidul yang masuk desa tangguh bencana. "Harapannya setiap tahun kita menambah desa yang masuk destana. Ada beberapa persiapan yang dilakukan sebelum desa ditetapkan menjada destana," katanya.

Edy mengatakan Pemerintah DIY juga mencanangkan seluruh desa di kawasan rawan bencana sudah menjadi destana di 2022.

"Pembentukan destana sangat penting karena sebagai bagian dari mitigasi bencana kepada masyarakat," katanya.

Ia mengimbau kepada pemerintah desa agar menganggarkan dana bencana dari APBDesa masing-masing. Penganggaran dana kebencanaan penting, mengingat semua desa rawan bencana. Kalau sudah dianggarkan, nantinya bisa mempermudah dalam penanganan. Kerusakan yang sifatnya ringan dan mampu ditangani desa tidak perlu dengan anggaran pemkab.

"Dari total 144 desa, saat ini kami memiliki 47 desa tangguh bencana. Kalau 47 desa itu sudah menganggarkan dana kebencanaan. Sisanya belum menganggarkan," katanya.

Edy mengatakan, besaran anggaran yang tertuang dalam mata anggaran desa pada kisaran Rp2 juta hingga Rp3 juta per tahun.

"Kami mendorong desa yang belum memasukkan anggaran kebencanaan dalam APBDes mereka segera dituangkan," katanya.?

Kades Tegalrejo, Kecamatan Gedangsari, Sugiman mengatakan setiap tahun sudah menganggarkan dana kebencanaan. Bahkan di 2018 menganggarkan Rp12 juta untuk keperluan jaringan komunikasi sukarelawan.

"Tahun ini juga dianggarkan, namun nilainya harus buka data terlebih dahulu. Nanti detailnya kami sampaikan," katanya.

Dia mengatakan Desa Tegalrejo rawan bencana tanah longsor, sehingga upaya terus dilakukan untuk mengurangi risiko bencana. "Kami berupaya agar bisa meminimalisir korban akibat bencana," katanya.

Baca juga: Puluhan rumah Gunung Kidul rusak diterjang angin

Baca juga: BPBD Gunung Kidul mencatat ada 24 titik tanah ambles sejak Januari

Pewarta : Sutarmi
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar