Dinkes DKI sedang melakukan pemetaan sekolah rawan DBD

id dbd, dinkes dki

Dinkes DKI sedang melakukan pemetaan sekolah rawan DBD

Kepala Dinas Kesehatan DKI, Widyastuti di Jakarta Pusat, Senin (4/03/2019). ANTARA/Susylo Asmalyah

Jakarta (ANTARA) - Dinas Kesehatan DKI Jakarta saat ini sedang melakukan pemetaan sekolah rawan Demam Berdarah Dengue (DBD) untuk nantinya dilakukan pengasapan (fogging) apabila ditemukan positif terjangkit penyakit yang disebabkan nyamuk Aedes aegypti  tersebut.

"Kami sedang memproses pemetaan sekolah rawan DBD.  Selama ini Disdik dan tim dari kami rutin melakukan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk)," kata Kepala Dinkes DKI, Widyastuti di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu.

Dijelaskannya bahwa pemetaan terhadap sekolah rawan DBD paling banyak ditemukan pada anak usia SD dan SMP yang kena gigitan nyamuk, rata-rata jam 10.00 WIB.

"Kita khawatir dan patut diduga kalau ada kemungkinan (gigitan nyamuk), meskipun di pemukiman juga tak menutup kemungkinan terkena gigitan nyamuk, karena Sabtu dan Minggu libur sekolah," kata Widaystuti.

Saat ini wilayah yang rawan DBD di Jakarta Selatan, Jakarta Timur dan Jakarta Barat. Jumlah pasien DBD untuk Maret ini sebanyak 172 kasus dari 1 Maret 2019.

Selain itu, Dinkes sudah menyampaikan kembali kepada para tenaga medis di bawah orgnisasi masing-masing serta para dokter di bawah Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

"Kami sudah sampaikan dari awal, kita melalui berbagai jalur. Kalau dokternya kita melalui IDI. Untuk klinik kita ingatkan kembali agar tidak terjadi keterlambatan diagnosa," katanya.

Saat ini ada pola agar para medis jangan hanya memegang jumlah trombosit, tapi bagaimana kondisi klinis pasien bervariasi agar jangan ada keterlambatan.

"Memang pola-pola sekarang tidak hanya berpatokan pada jumlah trombosit, kalau dulu ada indikasi bahwa dirawat di rumah sakit kalau jumlah trombositnya kurang dari seratus ribu," kata Widyastuti.

Baca juga: Jakarta waspada Kejadian Luar Biasa DBD

Baca juga: Hingga 14 Januari 2019 ada 111 kasus DBD DKI Jakarta

Pewarta : Susylo Asmalyah
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar