Regenerasi bidang pertanian agak macet, kata Dirjen SDID Kemenristekdikti

id kemenristekdikti,pertanian,seminar

Regenerasi bidang pertanian agak macet, kata Dirjen SDID Kemenristekdikti

Sejumlah tokoh berfoto bersama dalam seminar ketahanan pangan di Jakarta, Senin, (indriani)

Jakarta (ANTARA) - Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti (SDID) Kemenristekdikti Prof Ali Ghufron Mukti mengatakan regenerasi bidang pertanian agak macet dibandingkan bidang lainnya.

"Berbicara pertanian tidak hanya mengenai lahan pertanian, juga sumber daya manusianya. Usia petani makin bertambah, karena regenerasinya agak macet," ujarnya dalam seminar nasional mengenai ketahanan pangan di Jakarta, Senin.

Menurut dia, jika orangtuanya dokter maka anak itu ingin menjadi dokter, begitu juga jika orangtuanya dosen maka anak itu ingin menjadi dosen. Lain halnya dengan petani, yang mana anaknya belum tentu mau menjadi petani.

"Lulusan perguruan tinggi bidang pertanian pun, begitu lulus tidak jadi petani tetapi jadi bankir," tambahnya.

Untuk meningkatkan SDM di bidang pertanian, Kemenristekdikti mewacanakan akan adanya pendampingan terhadap mahasiswa pertanian, seperti adanya kewajiban magang seperti halnya mahasiswa kedokteran.

Menurut dia, para petani di era revolusi industri 4.0 membutuhkan pendampingan dan transfer teknologi serta pengetahuan, sehingga petani bisa memproduksi pangan secara tajam karena merasa ada yang mendampingi.

"Ini yang belum terjadi saat ini. Sehingga dalam diskusi publik ini, kami akan membuat buku bagaimana program studi di perguruan tinggi bisa mengacu buku ini." terangnya.

Menurut dia, harus ada semacam keberpihakan bahwa menjadi petani kedepan itu menarik. Kalau tidak jadi kebijakan, makan komitmen akan hal itu harus ada.

"Sehingga kalau menjadi petani tidak menarik, maka makin lama akan habis sekolah di bidang pertanian dan lulusannya tidak bekerja di pertanian. Ini sangat disayangkan karena kita sangat membutuhkan SDM di bidang pertanian," jelas dia.

 

Pewarta : Indriani
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar