Kartini di tengah arus feminisme

id kartini,feminisme,perempuan,hari kartini,Gerakan emansipasi wanita,kesetaraan gender

Kartini di tengah arus feminisme

RA Kartini. (Istimewa)

Jakarta (ANTARA) - Wafat di usia 25 tahun, tidak berarti Kartini belum berbuat banyak, karena sekolah untuk kaum perempuan yang dibangunnya hanya beberapa bulan sebelum ia menghembuskan nafasnya yang terakhir, telah memberi inspirasi banyak tokoh akan pentingnya sekolah bagi perempuan.

Surat-surat Kartini kepada teman-temannya di Eropa yang kemudian dikumpulkan dan diterbitkan pemerintah Hindia Belanda memang mengungkap lembaran-lembaran keresahannya tentang perempuan di negerinya yang masih terbelakang.

Namun, lebih dari seabad setelah Kartini tutup usia pada 1904, siapapun sepakat bahwa perempuan Indonesia sudah bisa dibilang cukup maju dalam pendidikan dan di sektor lainnya, jauh dibanding masa ketika kumpulan suratnya, Habis Gelap Terbitlah Terang, diterbitkan.

Tentu 115 tahun adalah waktu yang sangat lama untuk suatu proses perubahan, karena pada masa itu Indonesia pun belum lahir, dan kemerdekaan pun masih dalam tahap perjuangan.

Berbeda dengan Hari Ibu, Hari Kartini sering disangkut-pautkan dengan gerakan emansipasi, perjuangan keadilan gender, dan persamaan hak antara perempuan dan laki-laki di berbagai aspek kehidupan.

Hal ini terkait dengan tulisan-tulisan Kartini yang dengan bahasa Belandanya yang lancar dan rapi menyuarakan pemikirannya tentang perempuan, termasuk ke majalah milik organisasi perempuan di Belanda.

Gerakan Feminisme

Gerakan emansipasi wanita seiring gerakan feminisme telah berkembang sejak abad ke-18, saat dimulainya tuntutan persamaan hak politik bagi perempuan, seperti dalam tulisan Mary Wollstonecraft yang berjudul A Vindication of The Rights of Woman yang dianggap sebagai salah satu karya tulis feminis awal.

Institusi keluarga, nilai budaya, dan agama sering dituduh gerakan ini, melestarikan pola relasi hirarkis yang dinilai meminggirkan dan menindas kaum perempuan.

Bukan hanya soal kesetaraan dalam kesempatan berkarir, pekerjaan-pekerjaan domestik remeh seperti membuatkan kopi untuk kaum lelaki bahkan juga menjadi pertanyaan dasar bagi pejuang kesetaraan gender ini.

Namun pada dasarnya, gerakan perempuan di dunia tidak seragam antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya dan memiliki pola yang berbeda-beda yang dipengaruhi oleh aspek politik, sosial, budaya setempat serta sering mengalami pergeseran pola dari waktu ke waktu.

Terkait sejarahnya, gerakan feminisme terbagi menjadi sejumlah gerakan, dimana gerakan feminis gelombang pertama disebutkan mulai berkembang sejak abad ke-18 di Eropa dan menular ke Amerika Serikat dan kemudian dunia, termasuk ke Indonesia.

Gerakan feminisme di masa ini lebih cenderung menuntut revolusi sosial dan politik terhadap hak perempuan, seperti menuntut adanya hak pilih bagi kaum perempuan, menuntut pendidikan setara hingga pembaruan hukum yang dinilai bersifat diskriminatif.

Feminisme jenis ini menentang pandangan biologis yang menyebut bahwa laki-laki bersifat 'macho' dan agresif, sementara perempuan harus bersikap anggun dan lembut, dan menganggap hal itu hanya sebagai hasil indoktrinasi peran di masyarakat sejak kanak-kanak.

Naomi Wolf, tokoh gerakan feminisme liberal misalnya, mendorong perempuan untuk terus menuntut persamaan haknya sehingga bisa berkehendak bebas tanpa bergantung pada lelaki dan mengakibatkan banyaknya perempuan melepaskan diri dari ranah domestik ke wilayah publik.

Sementara gerakan feminisme radikal lebih melihat pada sistem patriarki dimana hubungan hirarkis didasarkan jenis kelamin sebagai penyebab penindasan terhadap perempuan, dan karenanya penghapusan sistem patriarki adalah tujuan utama dari gerakan feminis ini agar terjadi kesetaraan gender.

Tokohnya, misalnya Shulamith Firestone, yang menganggap basis utama dominasi laki-laki adalah perkawinan, dimana perempuan sebenarnya dieksploitasi oleh lelaki dengan dibungkus ideologi romantisme cinta kasih.

Tubuh perempuan disebutkan juga menjadi objek utama penindasan oleh kekuasaan laki-laki, dan karena itu penganut aliran ini juga menolak institusi perkawinan dan keluarga.

Sementara itu, gerakan feminisme gelombang kedua yang muncul pada paruh kedua abad ke-20 bertema besar pada pembebasan perempuan (women's liberation) yang dianggap sebagai gerakan kolektif yang revolusionis.

Gelombang ini muncul sebagai reaksi ketidakpuasan perempuan atas berbagai diskriminasi yang belum juga terselesaikan hingga abad ke-20 dan melihatnya lebih dalam dengan berbagai kajian.

Gelombang ini dikoreksi lagi oleh gerakan feminisme yang terakhir (postfeminisme) yang lebih pada pendefinisian kembali berbagai konsep feminisme sebelumnya, dengan menolak cara berpikir yang fanatik tradisional dan lebih menekankan pada interpretasi yang plural ketimbang subjektifitas.

Bell Hooks, misalnya, mengkritik teori feminisme Amerika sebagai sekedar kebangkitan anglo-white-American-feminism karena ketidakmampuan mengakomodasi perempuan kulit hitam dan karenanya memasukkan gagasan multikulturalisme serta upaya meredakan bias-bias rasial.

Tumpang-tindih

Pakar perempuan Brigitte Holzner mengakui bahwa sulit mengutub-kutubkan pemikiran berbagai gerakan perempuan yang ada, karena pemikiran mereka seringkali tumpang-tindih dan kabur batasannya.

Di satu sisi gerakan feminisme di masa lalu memberi dampak pada pemenuhan tuntutan kesetaraan yang bisa dirasakan oleh kaum perempuan di masa sekarang, namun di sisi lain juga berdampak pada masalah sosial lainnya, seperti perpecahan keluarga dan penelantaran anak.

Pengamat masalah perempuan Ratna Megawangi menilai, perdebatan berkisar masalah filosofi tentang hakikat perbedaan laki-laki dan perempuan sampai pada pembuatan dan implementasi kebijakan seringkali justru menimbulkan antipati terhadap gerakan feminisme.

Banyak kalangan menuduh gerakan feminis sebagai gerakan yang justru menghancurkan institusi keluarga, yang membuat perempuan menjadi egois, serta kurang peduli pada anak sebagai generasi penerus, ujarnya.

Perjuangan RA Kartini untuk kaumnya, menurut Ratna, bukanlah kesetaraan gender seperti yang diperjuangkan kaum feminis, dan bahwa pertentangan antara kaum perempuan dan kaum laki-laki bukanlah harapannya.

Pada awalnya tulisan Kartini memang lebih pada protes atas budaya Jawa kala itu yang memingit anak gadis serta kebiasaan kaum lelaki bangsawan berpoligami, namun gejolak keresahan Kartini kemudian mulai mereda seiring bertambahnya usia.

Gaya tulisannya dan semangatnya kemudian berubah menjadi lebih ke arah bagaimana membebaskan perempuan dari lembah kemiskinan, dimana pendidikan menjadi kunci utamanya.

Kalimat Kartini itu, antara lain: Kecerdasan pikiran penduduk Bumiputera tiada akan maju dengan pesatnya, bila perempuan ketinggalan dalam usaha itu, perempuan jadi pembawa peradaban...betapa ibu Bumiputera itu sanggup mendidik anaknya bila mereka tiada berpendidikan?

Titik tolak kemerdekaan perempuan bukanlah menjadikan perempuan sebagai makhluk otonom yang terpisah dari lingkungannya, melainkan sebagai pribadi yang ikut berperan dalam kemajuan bangsa. (*)

Pewarta : Dewanti Lestari
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar