Abaikan kecaman pemerintah, LSM asing ini akan lanjutkan kampanye di Papua

3756 Views

Siswa SD berjalan di samping tumpukan kelapa sawit di perkebunan kawasan Cimulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (10/9/2019). ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/aww.

Jakarta (ANTARA) - Kecaman pemerintah Indonesia terhadap tindak tanduk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) asal Amerika Serikat, Mighty Earth, yang beroperasi secara ilegal di Indonesia nampaknya tidak diambil pusing oleh LSM tersebut. Bahkan, LSM ini berikrar akan tetap melakukan kampanye terhadap industri kelapa sawit yang dituding melakukan deforestasi di Indonesia.

"Tapi kami memiliki laporan, dan kampanye ini tidak akan berhenti" kata Campaign Director Mighty Earth, Phil Aikman di Jakarta, Senin (11/11).

Sejak 2017, Mighty Earth telah melayangkan aduan ke Forest Stewardship Council (FSC) terkait pelanggaran dalam pembukaan lahan sawit di Papua yang dilakukan oleh Korindo Group dengan cara pembakaran. Namun, hasil investigasi yang dilakukan selama dua tahun oleh FSC menunjukkan bahwa Korindo Group tidak terbukti melakukan pembakaran seperti yang dituduhkan LSM tersebut, dan tetap menjadikan Korindo sebagai anggotanya. 

Hal ini kemudian ditegaskan lagi oleh Pemerintah Indonesia yang menyatakan bahwa pembukaan lahan kelapa sawit oleh Korindo telah sesuai dengan prosedur dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Direktur Jenderal (Dirjen) Perkebunan Kementan Kasdi Subagyono, saat ditemui Antara beberapa waktu lalu, menyatakan seluruh perusahaan kelapa sawit yang beroperasi telah diwajibkan mengantongin sertifikat Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

"Dengan kata lain, tidak boleh membabat hutan seenaknya, ada aturan yang sangat ketat untuk itu," tuturnya.

Mematikan perekonomian masyarakat setempat

Terkait ancaman terhadap perekonomian masyarakat akibat adanya kampanye Mighty, Phil Aikman menampik jika kampanye yang dialamatkan kepada Korindo di Papua tersebut berpotensi berdampak langsung pada perekonomian masyarakat setempat. Sebab, tudingnya, masyarakat disana telah diperdaya dengan keberadaan industri sawit selama ini. 

"Terkait ancaman terhadap perekonomian masyarakat, kami kira hal ini tidak terlalu berpengaruh. Sedikit sekali pengaruhnya," tutur Phil.

Sebaliknya, pemilik hak ulayat Distrik Subur, Boven Digoel, Justinus Gambenop mengibaratkan hadirnya Korindo di wilayahnya bagaikan 'Habis Gelap Terbit lah Terang."

"Yang paling terasa adalah dibukanya begitu banyak lapangan kerja dan pembangunan begitu banyak sarana umum seperti klinik, sekolah, tempat ibadah, dan sebagainya, ungkapnya.

Kehadiran perkebunan sawit milik Korindo di Kabupaten Boven Digoel, Papua, menjadi bentuk kontribusi sektor swasta dalam membantu pemerataan pembangunan di daerah 3T, sesuai visi Nawa Cita yang terus digaungkan oleh Presiden Joko Widodo.

Tak hanya membangun banyak infrastruktur dan fasilitas publik, hadirnya Korindo di Boven Digoel pun berdampak pada penyerapan tenaga kerja dari warga lokal, yang mencapai sekitar 1.800 orang.
Pewarta :
Editor : PR Wire
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar