Kunming (ANTARA) - Seorang perempuan tiba-tiba menyusup di antara orang-orang yang berdiri berbaris memanjang sambil menunggu pintu terbuka yang diperkirakan masih akan setengah jam lagi.

"Di sini antrean untuk yang memegang paspor?" tanya perempuan itu dalam bahasa Mandarin dengan dialek yang terdengar aneh.

"Betul," jawaban spontan seorang pria berkewarganegaraan asing yang berada di barisan antrean terdepan.

Merasa punya teman senasib, perempuan itu lalu mengeluarkan paspornya.

"Dari Laos ya?" pria tadi mencoba mengonfirmasi yang langsung ditanggapi perempuan itu dengan anggukan kepala sambil menunjukkan sampul paspornya berwarna biru dengan lambang negara Laos pada bagian depan.

Barisan antrean paling kanan Stasiun Kunmingnan pada Rabu (8/2/) pagi itu diperuntukkan bagi pemegang paspor.

Dua sampai tiga barisan antrean lainnya bagi pemegang kartu tanda penduduk China yang bisa digunakan untuk membuka pintu kaca secara otomatis dengan cara memindai.

Dua puluh menit sebelum kereta tiba, pintu kaca dibuka. Para penumpang turun melalui eskalator sampai peron.

Kereta tidak lama berhenti. Petugas stasiun dibantu relawan berteriak-teriak menggunakan megaphone agar para penumpang segera naik, mengingat kereta sudah mau berangkat.

Pagi itu memang penumpang yang naik dari Stasiun Kunmingnan banyak. Sampai batas waktu pemberhentian tinggal beberapa detik lagi, penumpang belum seluruhnya naik, khususnya di gerbong 4. Mereka terhalang penumpang lainnya di dalam kabin yang masih bingung mencari tempat duduk dan sibuk menata koper di bagasi khusus koper besar di dekat kamar kecil.

Kereta berwarna hijau dengan strip kuning akhirnya meninggalkan emplasemen stasiun di Ibu Kota Provinsi Yunnan itu begitu petugas memastikan tak ada satu pun penumpang yang tertinggal.

Kecuali warna bodi, sekilas kereta tersebut tidak jauh berbeda dengan kereta cepat buatan China pada umumnya. Bagian interior berwarna putih dipadu motif kayu pada dinding kompartemen masih menjadi ciri khas kereta api cepat China. Formasi tempat duduk 2-3 pada kereta cepat penumpang kelas III juga masih sama dengan kereta cepat di jalur-jalur lainnya di China.

Namun kereta hijau itu bukan dari keluarga Fuxing yang memiliki kecepatan maksimum 400 hingga 600 kilometer per jam. Fuxing Hao merupakan generasi kereta cepat terbaru yang dikembangkan secara mandiri oleh China dalam beberapa tahun terakhir yang pada bagian eksterior didominasi warna perak metalik dengan livery merah marun atau biru.

Meskipun sama-sama dikategorikan sebagai kereta berkecepatan tinggi atau "kereta peluru", kecepatan maksimum kereta hijau ini bisa mencapai 250 kilometer per jam. Kereta tersebut termasuk dalam keluarga Hexie Hao, kereta cepat generasi pertama China yang dikembangkan perusahaan domestik CRRC dengan mengadopsi teknologi Jepang dan Jerman yang warna asalnya putih dengan strip biru.

Dengan kecepatan rata-rata 160 kilometer per jam ditambah pemberhentian di tiga sampai empat stasiun antara, Kunming-Mohan yang berjarak sekitar 570 kilometer dapat ditempuh dalam tempo 5 jam, 20 menit. Suasana dari luar gedung Stasiun Mohan, kota paling selatan China yang berbatasan langsung dengan Laos, Rabu (8/2/2023). ANTARA/M. Irfan Ilmie
Laksana Perjalanan Malam

Deru mesin dan roda-roda besi yang menggelinding di atas rel listrik dapat diredam dengan baik sehingga menghasilkan suasana di dalam kabin kereta berjenis electric multiple unit (EMU) itu senyap.

Suara berisik justru ditimbulkan oleh penumpang yang mengobrol dan pramugari yang lalu-lalang menawarkan barang dagangan, mulai dari makanan, minuman, camilan, suvenir, boneka, hingga obat gosok.

Pengumuman kru ketika kereta hendak memasuki stasiun tertentu juga turut menambah suasana di dalam kabin bertambah ramai. Uniknya pengumuman di kereta hijau itu disampaikan dalam tiga bahasa, Mandarin, Lao, dan Inggris. Di China biasanya pengumuman kru kabin secara bilingual, Mandarin dan Inggris saja.

Atmosfer keramah-tamahannya sangat terasa unsur Laos.

Perjalanan panjang dengan menggunakan kereta api cepat pada pagi hingga siang hari itu terasa membosankan. Perjalanan pada hari yang cerah itu justru seperti malam hari.

Kontur tanah yang bergunung dan berbukit di wilayah selatan daratan Tiongkok menjadikan laju jenis kereta peluru itu harus menembus banyak terowongan. Bahkan tidak jarang di antara terowongan itu ada yang panjang. Infrastruktur jalur kereta api di China tidak dirancang menanjak, menurun, dan berkelok meskipun harus melintasi gugusan-gugusan perbukitan dan lembah.

Sama dengan model konstruksi track lurus kereta cepat yang diterapkan di jalur Jakarta-Bandung yang dijadwalkan mulai beroperasi pada pertengahan tahun ini.

Track lurus di atas permukaan tanah menjadikan laju kereta melesat bagaikan peluru dengan keseimbangan yang tetap terjaga, aman dari guncangan, dan tidak mudah anjlok (derailed) dibandingkan dengan menanjak atau berkelok yang sampai-sampai lokomotif penarik rangkaian terlihat dari gerbong tengah dan belakang seperti pada saat kereta melintasi perbukitan di wilayah selatan Jawa Barat.

Banyaknya terowongan yang harus dilalui di sepanjang jalur kereta api China-Laos itulah membuat suasana di dalam kabin seperti pada malam hari. Sistem penerangan di dalam kabin dibiarkan aktif sepanjang hari sehingga tidak terpengaruh suasana di luar yang gelap karena berkali-kali keluar-masuk terowongan.

Jarum jam menunjuk angka 12 lewat 40 menit saat kereta tiba di Stasiun Mohan. Tidak terlalu besar, apalagi jika dibandingkan dengan Stasiun Kumningnan, namun bangunan Stasiun Mohan relatif baru dan arsitekturnya bernuansa mirip-mirip Laos.

Stasiun Mohan baru dioperasikan pada Desember 2021, berbarengan dengan dioperasikannya kereta api China-Laos via Kunming-Viantiane.

Mohan merupakan stasiun terakhir di wilayah selatan China. Kereta cepat berwarna hijau bergaris kuning itu pun menjadikan Stasiun Mohan sebagai tempat pemberhentian terakhirnya.

Bagi penumpang yang hendak melanjutkan perjalanan ke Laos melalui Boten, Provinsi Luang Namtha, harus melalui pos pemeriksaan imigrasi yang berjarak sekitar 3 kilometer dari Stasiun Mohan. Di luar stasiun sudah banyak orang menawarkan jasa pengantaran penumpang dengan kendaraan pribadi menuju pos imigrasi selain juga ada kendaraan umum mikrobus.

Demikian juga di sekitar pos perbatasan Mohan-Boten, banyak warung, termasuk penjual makanan halal karena Provinsi Yunnan dikenal sebagai salah satu sentra komunitas Muslim China. Laksamana Cheng Ho, legenda Muslim China yang sangat populer di Indonesia, berasal dari Yunnan ini.

Baca juga: Opini - N-250 Gatotkoco, pembuktian kemampuan anak bangsa

Tempat-tempat penukaran uang asing juga banyak ditemukan di sekitar pos perbatasan. Pos perbatasan Mohan-Boten yang berada di tengah hutan belantara kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara itu sudah berubah menjadi kawasan perkotaan.
Sejak otoritas China mencabut protokol kesehatan ketat nol kasus COVID-19 pada Desember 2022, pos perbatasan itu mulai ramai orang, baik pejalan kaki maupun penumpang kendaraan bermotor. Kendaraan berpelat nomor Laos juga bisa ditemui lalu-lalang melintasi tapal batas.

Baca juga: Artikel - Mengenal jam tangan berkemampuan mendeteksi kesehatan darah

Dalam upaya memperlancar pertukaran antar-masyarakat, otoritas kedua negara sedang membicarakan mekanisme pemeriksaan keimigrasian penumpang kereta api.

Jika mekanisme itu disepakati, maka bukan saja penumpang kereta api China-Laos yang dimudahkan karena tidak perlu lagi turun dari kereta dan keluar dari area Stasiun Mohan untuk menuju pos pemeriksaan keimigrasian, melainkan juga akan memberikan akses yang lebih leluasa bagi ASEAN dan China melalui jalur darat.

"Memang tidak mudah, tapi kami tetap berupaya ke arah situ," kata Han Yue, dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Yunnan, kepada ANTARA di Kunming. 

 

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Menembus perbatasan China-Laos dengan kereta peluru

Pewarta : M. Irfan Ilmie
Editor : Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2024