Jakarta (ANTARA) - Budi Hartono masih berusia 28 tahun ketika setiap sore pada 1969, brak atau tempat karyawan melinting rokok di pabrik rokok keluarganya, disulap menjadi tempat berlatih bulu tangkis.

Budi yang beberapa masa kemudian menjadi CEO dan karyawan-karyawan PT Djarum, dikenal sebagai pecinta bulu tangkis.

Kecintaan itu pula yang mendorong putra Oei Wie Gwan yang pendiri Djarum itu, menyulap brak menjadi arena bulu tangkis. Dan jalan kecil yang dia retas itu kemudian menjadi jalan besar untuk terciptanya salah satu kawah candradimuka bagi atlet-atlet bulu tangkis Indonesia.

Lima tahun setelah itu, berdirilah PB Djarum pada 1974, salah satu kawah candradimuka untuk atlet-atlet besar bulu tangkis Indonesia, termasuk Liem Swie King.

Sampai kini, kawah candradimuka itu tak berhenti menghasilkan bakat-bakat muda bulu tangkis, yang turut memastikan regenerasi atlet bulu tangkis Indonesia terjaga.

45 tahun setelah PB Djarum berdiri, ketika tentakel bisnis keluarga Budi Hartono merambah ke mana-mana termasuk mengakuisisi BCA yang adalah salah satu bank terbesar di Indonesia, perusahaan e-commerce Blibli dan layanan streaming Mola, grup usaha itu mengalihkan perhatian ke Italia.

Lewat salah satu lengan bisnis medianya yang berpusat di Inggris degan nama SENT Entertainment, Djarum membeli Como 1907 pada 2019, ketika klub itu berkutat di divisi empat Liga Italia, Serie D.

Mereka membeli klub yang sudah bangkrut itu pada harga 800 ribu euro, setara dengan Rp12,5 miliar.

Nilai sebesar itu hanya "kerikil" dibandingkan dengan jumlah kekayaan Djarum yang menurut perhitungan Forbes pada akhir 2024 mencapai 50,3 miliar dolar AS (Rp818 triliun).

Sejak diakuisisi Djarum, Como 1907 melesat tiga level dalam kurun lima tahun ketika pada 2024 klub itu bermain lagi di liga elite Italia, Serie A, setelah 21 tahun tak bisa melakukannya.

Awalnya perjalanan Como di Serie A biasa-biasa saja, tapi perlahan mereka menemukan warna yang membuat komunitas sepak bola Italia berpaling kepadanya.

Kota Como di selatan Danau Como di Italia utara itu pun kini tak lagi dikenal sebagai situs wisata, namun juga oleh klub sepak bolanya yang mulai unjuk gigi.

Mereka membuat kejutan dalam dua pekan terakhir ketika membungkam Fiorentina 2-0 pada 16 Februari dan menumbangkan Napoli 2-1 pada 23 Februari.

Dari nol

Sebelum dua laga itu, klub yang dilatih Cesc Fabregas yang merupakan legenda sepak bola Spanyol itu, membuat repot Juventus. Walau Juventus menang 2-1, Como menjadi tim yang lebih banyak menguasai bola dan menciptakan peluang.

Napoli, Fiorentina dan Juventus, selain raksasa-raksasa sepak bola Italia adalah juga tiga dari enam tim papan atas Serie A musim ini.

Jika melihat bagaimana mereka mengalahkan Napoli dan Fiorentina, sepertinya Como tengah memberi pesan kepada yang lain bahwa mereka tak akan berhenti membuat kejutan.

Perjalanan Como yang untuk sementara menempati urutan ke-23 dalam klasemen Serie A, memang masih terlalu panjang.

Namun, grafik performa permainannya terus menanjak, terutama setelah membeli delapan pemain baru dalam jendela transfer tengah musim ini yang berakhir 3 Februari lalu.

Dengan dana sebesar 40 juta pound (Rp830 miliar), Como menjadi klub Liga Italia yang paling banyak mengeluarkan dana selama bursa transfer Januari, melebihi tim-tim mapan seperti Inter Milan, Napoli, Juventus, dan AC Milan.

Di antara pemain yang mereka beli dalam bursa Januari adalah Dele Alli yang mantan bintang Tottenham Hotspur dan Assane Diao dari Real Betis.

Diao tampaknya bakal menjadi fondasi sukses Como pada masa mendatang. Dibeli pada 7 Januari 2025, Diao sudah memainkan delapan laga sejak debut pada 10 Januari.

Pemain muda Spanyol kelahiran Senegal itu selalu mencetak gol dalam lima dari delapan laga itu, masing-masing satu gol ke gawang AC Milan, Udinese, Juventus, Fiorentina dan Napoli.

Tapi Djarum yang mengubah Como 1907 menjadi klub sepak bola terkaya di Italia saat ini tersebut, tak ingin tergoda memburu sukses instan, walau telah menggelontorkan uang begitu banyak sejak promosi ke Serie A.

Mirwan Suwarso, perwakilan pemilik Como yang juga CEO Mola TV dan Presiden Como 1907, dalam wawancara dengan Reuters pada 26 September 2024, menegaskan bahwa investasi di klub Liga Italia itu adalah proyek jangka panjang.

Mereka tampaknya ingin membangun sukses dari nol sehingga semua akar persoalan dalam klub dikenali baik-baik untuk kemudian menjadi fondasi bagi sukses jangka panjang.

Bakat muda

Tujuan Como saat ini, kata Mirwan kepada Reuters, adalah bertahan pada musim ini dan setelah itu menjadi fondasi untuk mengarungi musim berikutnya.

Mirwan yang sama pula yang mengatakan kepada OneFootBall pada 21 April 2022 bahwa pemilik Como memimpikan klub ini berkembang seperti Atalanta, yang menyandarkan sukses klub kepada pengembangan pemain muda.

Atalanta memang berinvestasi besar-besaran pada akademi mudanya sehingga tak henti menghasilkan pemain-pemain berbakat yang konstan memasok pemain-pemain andal untuk Atalanta dan sekaligus mendatangkan keuntungan dari bakat-bakat muda.

Fokus klub dalam membina bakat muda membuat sukses Atalanta menjadi berkelanjutan. Dan ini sedang ditiru oleh Djarum di Como 1907, setidaknya menurut Mirwan.

Sikap itu sejalan dengan filosofi pemilik Djarum yang dalam turut membangun bulu tangkis di Indonesia pun mempedulikan pembinaan bakat-bakat muda. Dalam sepak bola, mereka bahkan memiliki program Garuda Select bersama PSSI, yang adalah sebuah program pembinaan pesepak bola muda Indonesia.

Mereka berusaha mencetak sukses dengan fundamental atau fondasi yang kuat, seperti mereka membesarkan PB Djarum, dan juga praktik bisnis mereka selama ini yang menekankan kehati-hatian, termasuk saat ekspansi usaha.

Tak banyak pemilik klub olahraga yang memiliki rekam jejak bagus di dunia olah raga, seperti Djarum, yang pernah lama mensponsori liga sepak bola profesional Indonesia.

Kini, bersama para legenda seperti Thierry Henry, Fabregas, dan Dennis Wise, konglomerat Indonesia itu secara evolusioner membangun Como 1907 menjadi kekuatan baru dalam sepak bola Italia.

Tapi mereka berusaha merendah dengan menyatakan tidak memasang target tinggi selama musim ini, walau sepak terjang Como saat ini menunjukkan tengah menapaki jalan yang ambisius dengan grafik yang menanjak.

Akhir pekan ini Como akan unjuk gigi lagi, dengan menghadapi Roma, yang sudah mereka kalahkan dalam pertemuan pertama kedua tim musim ini, pada 16 Desember 2024.

Jika bisa melanjutkan apa yang sudah mereka lakukan terhadap Fiorentina dan Napoli, Como bisa makin menyedot perhatian publik sepak bola Italia.

Tapi sepertinya Como sudah di jalan menuliskan kisah sukses baru dalam sepak bola modern. Sebuah kisah sukses yang dibangun dari bawah, yang dengan itu sukses bisa berkelanjutan untuk waktu yang lama.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Revolusi Como 1907 di bawah Djarum


Pewarta : Jafar M Sidik
Editor : Anwar Maga
Copyright © ANTARA 2025