Perlu penyegaran kepemimpinan PDIP di NTT
Jumat, 26 Juli 2019 10:43 WIB
Ketua DPP Andreas Hugo Parera saat berpidato dalam Konferda V DPD PDI Perjuangan NTT di Kupang, Kamis (25/7). (ANTARA FOTO/Kornelis Kaha)
Kupang (ANTARA) - Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI Perjuangan menilai kepemimpinan partai di tubuh Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDIP NTT perlu penyegaran, sehingga DPP menunjuk Emelia Nomleni sebagai ketuanya menggantikan Frans Lebu Raya yang sudah 20 tahun memimpin partai berlambang kerbau gemuk mulut putih dalam lingkaran itu.
"Kami menilai perlu ada penyegaran kepemimpinan partai di tubuh PDIP NTT. Sebab, sudah sangat lama sekali Pak Frans Lebu Raya yang juga Gubernur NTT dua periode itu memimpin PDIP NTT," kata Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Parera kepada wartawan di Kupang, Jumat (26/7).
Hal ini disampaikan berkaitan dengan penunjukan Emelia Nomleni menjadi Ketua DPD PDIP NTT yang diumumkan dalam Konferensi Daerah (Konferda) DPD PDIP V di Kupang pada Kamis (25/7) malam.
Frans Lebu Raya memang sudah empat periode memimpin DPD PDIP NTT. Pada tahun 2000, Frans Lebu Raya menang dalam Konferda DPD PDIP pertama kali di Ende, Flores. Kemudian pada tahun 2005, 2010 dan 2015, terpilih secara aklamasi.
Andreas mengatakan bahwa dengan ditunjuknya Emi dan tim diharapkan struktur yang baru tersebut bisa bekerja solid dalam membangun PDIP di provinsi berbasis kepulauan itu.
"Kemudian cepat beradaptasi dengan lingkungan yang ada di dalam struktural mulai dari nasional hingga ke tingkat kabupaten/kota. Tak hanya itu, satu hal yang utama yakni dengan semakin berkembangnya jaman, diperlukan kader-kader muda yang melek teknologi," ujarnya.
Andreas menambahkan bahwa dengan terpilihnya Emi dan tim merepsentasi tiga pulau yang besar di NTT ini, yakni Emi (Ketua DPD PDIP NTT) dari Pulau Timor, Yunus Takandewa (Sekretaris Partai) dari Pulau Sumba dan Patris Lali Wolo (Bendahara) dari Pulau Flores.
Baca juga: PDIP usul bentuk program desa mandiri telur ayam di NTT
Baca juga: Nomleni gantikan Frans Lebu sebagai Ketua DPD PDIP NTT
"Kami menilai perlu ada penyegaran kepemimpinan partai di tubuh PDIP NTT. Sebab, sudah sangat lama sekali Pak Frans Lebu Raya yang juga Gubernur NTT dua periode itu memimpin PDIP NTT," kata Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Parera kepada wartawan di Kupang, Jumat (26/7).
Hal ini disampaikan berkaitan dengan penunjukan Emelia Nomleni menjadi Ketua DPD PDIP NTT yang diumumkan dalam Konferensi Daerah (Konferda) DPD PDIP V di Kupang pada Kamis (25/7) malam.
Frans Lebu Raya memang sudah empat periode memimpin DPD PDIP NTT. Pada tahun 2000, Frans Lebu Raya menang dalam Konferda DPD PDIP pertama kali di Ende, Flores. Kemudian pada tahun 2005, 2010 dan 2015, terpilih secara aklamasi.
Andreas mengatakan bahwa dengan ditunjuknya Emi dan tim diharapkan struktur yang baru tersebut bisa bekerja solid dalam membangun PDIP di provinsi berbasis kepulauan itu.
"Kemudian cepat beradaptasi dengan lingkungan yang ada di dalam struktural mulai dari nasional hingga ke tingkat kabupaten/kota. Tak hanya itu, satu hal yang utama yakni dengan semakin berkembangnya jaman, diperlukan kader-kader muda yang melek teknologi," ujarnya.
Andreas menambahkan bahwa dengan terpilihnya Emi dan tim merepsentasi tiga pulau yang besar di NTT ini, yakni Emi (Ketua DPD PDIP NTT) dari Pulau Timor, Yunus Takandewa (Sekretaris Partai) dari Pulau Sumba dan Patris Lali Wolo (Bendahara) dari Pulau Flores.
Baca juga: PDIP usul bentuk program desa mandiri telur ayam di NTT
Baca juga: Nomleni gantikan Frans Lebu sebagai Ketua DPD PDIP NTT
Pewarta : Kornelis Kaha
Editor : Laurensius Molan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Hasto Kristiyanto: Kantor PDIP di Rote Ndao merupakan wujud visi geopolitik Bung Karno
07 November 2025 6:33 WIB
Megawati tegaskan PDIP tak akan jadi partai oposisi, tapi penyeimbang konstitusi
02 August 2025 19:06 WIB
Terpopuler - Politik & Hukum
Lihat Juga
Presiden Prabowo: Kami tahu ada yang mengganggu Indonesia, kami tidak bodoh
14 February 2026 8:24 WIB
Eks Dirut PT PIS dituntut 14 tahun penjara pada kasus dugaan korupsi minyak
14 February 2026 8:16 WIB
Anak Riza Chalid dituntut 18 tahun penjara pada kasus dugaan korupsi minyak
14 February 2026 8:14 WIB
Gubernur NTT menegaskan proses hukum pihak memanipulasi data warga miskin
13 February 2026 18:36 WIB