Logo Header Antaranews Kupang

Gubernur NTT menegaskan proses hukum pihak memanipulasi data warga miskin

Jumat, 13 Februari 2026 18:36 WIB
Image Print
Gubernur Nusa Tenggara Timur Melki Laka Lena (kedua kanan) saat menghadiri acara peluncuran Prodi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Bali dan Nusa Tenggara di Undana Kupang, Jumat (13/2/2026). ANTARA/Kornelis Kaha

Kupang (ANTARA) - Gubernur Nusa Tenggara Timur Melki Laka Lena menegaskan siapa pun pihak yang terbukti memainkan atau memanipulasi data warga miskin di daerah itu akan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

"Ini penting. Saya ingin ingatkan kepada semua pihak, jadi bagi siapa saja yang masih bermain tentang data orang miskin, baik di RT, RW, kepala bidang maupun pihak apa saja akan diproses sesuai hukum yang berlaku," kata Melki di Kupang, Jumat, berkaitan kasus meninggalnya bocah 10 tahun di Kabupaten Ngada.

Hal ini disampaikan Gubernur NTT usai menghadiri acara peluncuran Prodi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Bali dan Nusa Tenggara dalam program akselerasi mendukung Astacita Presiden Prabowo Subianto.

Dia mengakui bahwa beberapa waktu sebelumnya, pihaknya tidak terlalu serius mengatasi dan mengawasi pendataan orang miskin karena percaya prosesnya sudah berjalan dengan baik dan benar.

Namun, berkaca dari kasus anak bunuh diri di Ngada karena masalah ekonomi, maka hal ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah.

"Jangan lagi mempermainkan data orang miskin. Kami sudah sepakat, siapa pun yang mempermainkan data orang miskin, siapa pun orang yang menjadi pelindung di belakangnya, akan kita proses semuanya sesuai hukum yang berlaku," tegasnya.

Menurut Melki, permainan data orang miskin itu bisa dilakukan dengan berbagai cara, yakni mengganti data orang miskin dengan data orang yang mampu.

Hal ini sering terjadi dan Melki sudah mendapatkan informasi tersebut.

Dia berharap agar pemilihan data orang miskin di NTT tidak dilakukan berdasarkan politik, yakni penentuan penerima dilakukan berdasarkan keluarga miskin itu memilih gubernur atau tidak, memilih bupati atau tidak, bahkan memilih kepala desa atau tidak.

"Saya berharap kejadian seperti di Ngada tidak terjadi lagi di daerah lain dan ini menjadi yang terakhir di NTT," ujar gubernur.

Terkait kasus meninggalnya anak di Ngada, Melki telah menyerahkan kasus itu kepada pihak kepolisian. Namun, pemerintah daerah sudah memberikan pendampingan kepada orang tua anak tersebut.

"Kita juga akan membangun rumah neneknya. Jadi, rumahnya masuk program bedah rumah yang aka dilakukan secara kolektif anggarannya," tambahnya.



Pewarta :
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026