Presiden Praktikkan Tradisi Cium Hidung
Kamis, 13 Juli 2017 15:23 WIB
Presiden Joko Widodo (kiri) mempraktikan "cium Sumba" saat mengunjungi Pulau Sumba pada Rabu (12/7) kemarin di Weetabula, Sumba Barat Daya. (Foto Antara/Kornelis Kaha)
Weetebula, NTT (Antara NTT) - Presiden Joko Widodo dalam kunjungannya ke Sumba Barat Daya, Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur mempraktikkan tradisi cium hidung, khas masyarakat setempat.
"Tadi setelah turun dari pesawat di Bandara Tambolaka, Bupati Sumba Barat Daya membisiki saya tentang budaya cium hidung yang biasa dipraktikan oleh masyarakat Sumba dalam keseharian. Oleh karena itu, saya tak kaget lagi ketika saya disambut dengan cium hidung," katanya kepada wartawan di Weetebula, Sumba Barat Daya, Rabu.
Ia menjelaskan tradisi unik itu menyentuhkan ujung hidung satu sama lain ketika bertemu kapanpun, di manapun, dengan siapapun.
Jokowi juga mengimbau tradisi cium hidung dilestarikan, jangan pernah hilang karena merupakan keunikan dari persahabatan orang Sumba.
Cium hidung merupakan tradisi orang sumba ketika bertemu baik dengan sesama, maupun dengan orangn yang baru dikenal, karena melambangkan persahabatan.
Tradisi ini sudah turun temurun sehingga siapun tamu yang datang mencium hidung tuan rumah terlebih dahulu sebelum di persilakan untuk duduk.
Dalam kunjungan ke Sumba, orang nomor satu di Indonesia ini mempraktikkannya cium hidung dengan dua kepala desa di kabupaten Sumba Barat Daya.
Dua kepala desa tersebut yakni Marthen Luter dari desa Walla Ndimu kecamatan Kodi Bengedo dan Laurensius Todo dari desa Watu Kawula Kecamatan Kota Tambolaka.
Salah satu kepala Desa, Marthen Luter mengaku bahagia karena secara langsung mencium orang nomor satu di Indonesia itu dan berkesempatan berpose dengan Presiden di atas panggung serta mendapatkan sebuah sepeda.
"Saya sangat bahagia karena bisa melihat langsung Pak Jokowi apalagi diberikan kesempatan untuk melakukan tradisi cium hidung," tuturnya.
Presiden Jokowi ke Sumba untuk menutup Parade 1001 Kuda Sandelwood, serta membuka Festival Tenun Ikat yang dihadiri oleh 1.250 penenun sedaratan Sumba.
Ia juga mendapatkan gelar Rato Sumba Barat Daya, serta mendapatkan seekor kuda Sandelwood, serta parang khas Sumba yakni Ulu Gading.
Ia mengatakan Parade Kuda Sandelwood dan Festival Tenun Ikat Sumba adalah contoh nyata, bagaimana alam memberikan sebuah budaya lokal yang menjadi keunggulan dalam pariwisata.
"Saya berharap, parade dan festival ini tidak seperti kembang api, menyala terang satu kali tapi langsung redup. Harus dibuat secara berkelanjutan, dipertahankan, agar wisatawan tetap datang meski tidak ada parade dan festival," demikian Jokowi.
"Tadi setelah turun dari pesawat di Bandara Tambolaka, Bupati Sumba Barat Daya membisiki saya tentang budaya cium hidung yang biasa dipraktikan oleh masyarakat Sumba dalam keseharian. Oleh karena itu, saya tak kaget lagi ketika saya disambut dengan cium hidung," katanya kepada wartawan di Weetebula, Sumba Barat Daya, Rabu.
Ia menjelaskan tradisi unik itu menyentuhkan ujung hidung satu sama lain ketika bertemu kapanpun, di manapun, dengan siapapun.
Jokowi juga mengimbau tradisi cium hidung dilestarikan, jangan pernah hilang karena merupakan keunikan dari persahabatan orang Sumba.
Cium hidung merupakan tradisi orang sumba ketika bertemu baik dengan sesama, maupun dengan orangn yang baru dikenal, karena melambangkan persahabatan.
Tradisi ini sudah turun temurun sehingga siapun tamu yang datang mencium hidung tuan rumah terlebih dahulu sebelum di persilakan untuk duduk.
Dalam kunjungan ke Sumba, orang nomor satu di Indonesia ini mempraktikkannya cium hidung dengan dua kepala desa di kabupaten Sumba Barat Daya.
Dua kepala desa tersebut yakni Marthen Luter dari desa Walla Ndimu kecamatan Kodi Bengedo dan Laurensius Todo dari desa Watu Kawula Kecamatan Kota Tambolaka.
Salah satu kepala Desa, Marthen Luter mengaku bahagia karena secara langsung mencium orang nomor satu di Indonesia itu dan berkesempatan berpose dengan Presiden di atas panggung serta mendapatkan sebuah sepeda.
"Saya sangat bahagia karena bisa melihat langsung Pak Jokowi apalagi diberikan kesempatan untuk melakukan tradisi cium hidung," tuturnya.
Presiden Jokowi ke Sumba untuk menutup Parade 1001 Kuda Sandelwood, serta membuka Festival Tenun Ikat yang dihadiri oleh 1.250 penenun sedaratan Sumba.
Ia juga mendapatkan gelar Rato Sumba Barat Daya, serta mendapatkan seekor kuda Sandelwood, serta parang khas Sumba yakni Ulu Gading.
Ia mengatakan Parade Kuda Sandelwood dan Festival Tenun Ikat Sumba adalah contoh nyata, bagaimana alam memberikan sebuah budaya lokal yang menjadi keunggulan dalam pariwisata.
"Saya berharap, parade dan festival ini tidak seperti kembang api, menyala terang satu kali tapi langsung redup. Harus dibuat secara berkelanjutan, dipertahankan, agar wisatawan tetap datang meski tidak ada parade dan festival," demikian Jokowi.
Pewarta : Kornelis Kaha
Editor : Kornelis Aloysius Ileama Kaha
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Roy Suryo dkk mengajukan dilaksanakan gelar perkara khusus terkait kasus ijazah palsu
20 November 2025 14:49 WIB
Prabowo: Pembangunan RS Kardiologi Emirates Indonesia di Jateng inisiatif Jokowi
19 November 2025 13:13 WIB
Prabowo: Jokowi paling berjasa memulai proyek pabrik petrokimia Lotte di Cilegon
06 November 2025 12:58 WIB
Terpopuler - Daerah
Lihat Juga
Festival Lamaholot lolos KEN 2026 dan diyakini dongkrak pariwisata Lembata
27 January 2026 20:45 WIB