Eksplorasi 36 Mata Air di Pegunungan Mutis
Rabu, 1 November 2017 15:23 WIB
Antonius Bele
Kupang (Antara NTT) - Anggota DPRD Nusa Tenggara Timur dari F-PDI Perjuangan Antonius Bele meminta pemerintah untuk segera mengeksplorasi 36 sumber mata air di Pegunungan Mutis, Kabupaten Timor Tengah Selatan untuk memenuhi kebutuhan air bagi masyarakat setempat.
"Hasil penelitian ilmiah dari Jacob Hariyanto pada 2016 menunjukkan bahwa ada 36 sumber mata air di Gunung Mutis, tapi sejauh ini belum diekplorasi lebih jauh oles pemerintah daerah," katanya dalam sidang paripurna DPRD bersama pemerintah provinsi di Kupang, Rabu.
Menurut dia, potensi sumber air di sekitar pegunungan Mutis itu sangat melimpah sehingga harus dikelola secara baik untuk kepentingan masyarakat setempat maupun kabupaten lain di sekitarnya.
Untuk itu, Antonius meminta agar pemerintah provinsi dan kabupaten membangun koordinasi bersama sehingga potensi sumber air yang ada bisa dimanfaatkan secara maksimal dalam mengatasi bencana kekeringan yang kerap terjadi saban tahun.
Salah satu cara, lanjutnya, dengan pemanfaatan Dana Desa untuk pengadaan sarana atau infrastruktur pendukung termasuk untuk penyaluran air dari sumbernya ke masyarakat.
"Semua unit pelaksa teknis daerah (UPTD) yang berkaitan dengan air juga harus bisa menyadarkan masyarakat agar air bisa dikelola dengan baik," katanya.
Selain itu, perlu adanya arahan dari pemerintah provinsi agar kabupaten/kota tidak mempertahankan ego sektoralnya untuk memanfaatkan air bagi daerahnya sendiri.
"Harus ada kerja sama lintas daerah, sehingga banyaknya sumber mata air di pegunungan Mutis itu dapat dikelola untuk dimanfaatkan secara bersama-sama pula," katanya.
Wilayah Gunung Mutis di Kabupaten Timor Tengah Selatan itu, brbatasan langsung dengan Kabupaten Kupang, Timor Tengah Utara serta Kabupaten Malaka.
Antonius juga memberi apresiasi kepada Pemerintahan Presiden Joko Widodo yang telah membangun sejumlah bendungan raksasa di daerah ini, seperti Rotiklot di Kabupaten Belu dan Raknamo di Kabupaten Kupang dalam upaya mengatasi krisis air di wilayah provinsi berbasis kepulauan ini.
Selain bendungan, sumber-sumber mata air yang menjadi potensi setiap daerah, juga perlu dieksplorasi untuk memenuhi kebutuhan air baku bagi masyarakat yang berada di wilayah pedesaan.
"Dengan demikian, di masa mendatang, masyarakat kita tidak terus-terusan mengeluh soal krisis air untuk kebutuhan hidupnya sehari-hari serta hewan dan sektor pertanian," demikian Antonius Bele.
"Hasil penelitian ilmiah dari Jacob Hariyanto pada 2016 menunjukkan bahwa ada 36 sumber mata air di Gunung Mutis, tapi sejauh ini belum diekplorasi lebih jauh oles pemerintah daerah," katanya dalam sidang paripurna DPRD bersama pemerintah provinsi di Kupang, Rabu.
Menurut dia, potensi sumber air di sekitar pegunungan Mutis itu sangat melimpah sehingga harus dikelola secara baik untuk kepentingan masyarakat setempat maupun kabupaten lain di sekitarnya.
Untuk itu, Antonius meminta agar pemerintah provinsi dan kabupaten membangun koordinasi bersama sehingga potensi sumber air yang ada bisa dimanfaatkan secara maksimal dalam mengatasi bencana kekeringan yang kerap terjadi saban tahun.
Salah satu cara, lanjutnya, dengan pemanfaatan Dana Desa untuk pengadaan sarana atau infrastruktur pendukung termasuk untuk penyaluran air dari sumbernya ke masyarakat.
"Semua unit pelaksa teknis daerah (UPTD) yang berkaitan dengan air juga harus bisa menyadarkan masyarakat agar air bisa dikelola dengan baik," katanya.
Selain itu, perlu adanya arahan dari pemerintah provinsi agar kabupaten/kota tidak mempertahankan ego sektoralnya untuk memanfaatkan air bagi daerahnya sendiri.
"Harus ada kerja sama lintas daerah, sehingga banyaknya sumber mata air di pegunungan Mutis itu dapat dikelola untuk dimanfaatkan secara bersama-sama pula," katanya.
Wilayah Gunung Mutis di Kabupaten Timor Tengah Selatan itu, brbatasan langsung dengan Kabupaten Kupang, Timor Tengah Utara serta Kabupaten Malaka.
Antonius juga memberi apresiasi kepada Pemerintahan Presiden Joko Widodo yang telah membangun sejumlah bendungan raksasa di daerah ini, seperti Rotiklot di Kabupaten Belu dan Raknamo di Kabupaten Kupang dalam upaya mengatasi krisis air di wilayah provinsi berbasis kepulauan ini.
Selain bendungan, sumber-sumber mata air yang menjadi potensi setiap daerah, juga perlu dieksplorasi untuk memenuhi kebutuhan air baku bagi masyarakat yang berada di wilayah pedesaan.
"Dengan demikian, di masa mendatang, masyarakat kita tidak terus-terusan mengeluh soal krisis air untuk kebutuhan hidupnya sehari-hari serta hewan dan sektor pertanian," demikian Antonius Bele.
Pewarta : Aloysius Lewokeda
Editor : Laurensius Molan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
TNI-Polri berhasil evakuasi jenazah pilot Smart Air dari Korowai ke Timika
12 February 2026 15:31 WIB
Kaops: Pilot dan kopilot Smart Air tewas ditembak KKB setelah pesawat mendarat di Korowai
11 February 2026 15:04 WIB
KKB menembak pesawat Smart Air di Korowai, pilot dan co pilot dilaporkan tewas
11 February 2026 14:08 WIB
13 penumpang selamat saat pesawat karavan Smart Air mendarat darurat di pantai Nabire
27 January 2026 14:04 WIB
Terpopuler - Kesra
Lihat Juga
Kemdiktisaintek resmikan 33 prodi spesialis demi mempercepat pemenuhan dokter,
13 February 2026 18:43 WIB
Pemerintah menyiapkan beasiswa bagi dokter yang ambil spesialis di Undana
13 February 2026 17:00 WIB
Komisi X DPR meminta Kemendigdasmen revitalisasi sekolah daerah 3T jadi prioritas
13 February 2026 13:23 WIB
Undana hadirkan peta digital interaktif rumput laut berbasis AI bagi petani
12 February 2026 16:27 WIB