New York (ANTARA) - Harga minyak berjangka sedikit bervariasi pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), setelah China melaporkan siap untuk membeli lebih banyak minyak dan pasokan energi lainnya guna memenuhi permintaan yang meningkat mengimbangi tekanan harga dari kenaikan tak terduga dalam persediaan minyak mentah AS dan dolar yang lebih kuat.

Minyak berjangka Brent untuk pengiriman November terkikis 12 sen atau 0,2 persen, menjadi menetap di 78,52 dolar AS per barel. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman November menguat 20 sen atau 0,3 persen, menjadi ditutup pada 75,03 dolar AS per barel.

Sebelumnya pada awal perdagangan harga acuan kedua kontrak tersebut sempat jatuh lebih dari satu dolar AS per barel. Untuk September, WTI melonjak 9,5 persen, sementara Brent meningkat 7,6 persen, berdasarkan kontrak bulan depan.

"Berakhirnya (kontrak November) produk NYMEX dan minyak mentah Brent ... meningkatkan volatilitas," kata Jim Ritterbusch, Presiden Ritterbusch and Associates, di Galena, Illinois.

Sementara itu, Perdana Menteri China Li Keqiang mengatakan importir minyak mentah terbesar dunia dan konsumen nomor dua dunia itu, akan memastikan pasokan energi dan listrik dan akan menjaga operasi ekonomi dalam kisaran yang wajar.

"Jika China dengan senang hati membayar harga berapa pun untuk energi, ini bisa meningkatkan krisis energi di Eropa," kata Edward Moya, analis pasar senior di OANDA.

SPBU-SPBU Inggris masih melihat permintaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan lebih dari seperempat pompa masih kering, saat krisis bahan bakar memangkas volume lalu lintas jalan ke level terendah sejak penguncian COVID-19 berakhir dua bulan lalu.

Kemungkinan peredam harga minyak adalah krisis listrik dan kekhawatiran pasar perumahan di China, yang telah memukul sentimen karena setiap kejatuhan untuk ekonomi terbesar kedua di dunia itu, kemungkinan akan mempengaruhi permintaan minyak, kata para analis.

Aktivitas pabrik-pabrik China secara tak terduga menyusut pada September, karena pembatasan yang lebih luas pada penggunaan listrik dan kenaikan harga-harga bahan baku.

Sementara itu, persediaan telah naik pada konsumen minyak utama Amerika Serikat. Data pemerintah pada Rabu (29/9) menunjukkan stok minyak dan bahan bakar AS meningkat 4,6 juta barel menjadi 418,5 juta barel pekan lalu.

Kenaikan persediaan AS minggu lalu terjadi karena produksi di Pesisir Teluk kembali mendekati level yang dicapai sebelum Badai Ida melanda kawasan tersebut sekitar sebulan lalu.

Dalam perkembangan bearish lainnya, dolar AS mencapai level tertinggi baru satu tahun pada hari sebelumnya, membuat minyak lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Tetapi ekspektasi defisit pasokan minyak mentah yang berkelanjutan membantu mendukung harga.

OPEC+ minggu depan diperkirakan akan mempertahankan kesepakatan untuk menambah 400.000 barel per hari ke produksinya untuk November.

"Rystad Energy memperkirakan kelompok produsen itu mengambil pendekatan menunggu dan melihat, paling tidak karena kelompok tersebut belum menunjukkan kemampuannya untuk meningkatkan pasokan minyak dengan cepat," kata Louise Dickson, analis pasar minyak senior di Rystad Energy.

Baca juga: Minyak tergelincir lagi, persediaan AS naik

Pembicaraan yang terhenti antara Iran dan kekuatan dunia untuk mengembalikan kesepakatan nuklir 2015 akan dilanjutkan "segera", Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Josep Borrell mengatakan pada Kamis (30/9). Kesepakatan nuklir seharusnya memungkinkan Iran mengekspor lebih banyak minyak mentah.

Baca juga: Minyak tergelincir lagi, persediaan AS naik

Pewarta : Apep Suhendar
Editor : Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2024