Labuan Bajo (ANTARA) - Sebuah bangunan gereja di Kota Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur tampak berdiri kokoh dengan material batu bata yang berbeda dari bata pada umumnya. Batu itu berwarna abu-abu pekat dan sedikit lebih berat, namun rapi ketika terpasang pada dinding dan disatukan bersama batu-batu lainnya.

Batu tersebut merupakan bata interlock, sebuah inovasi konstruksi yang terbuat dari abu hasil pembakaran batu bara berupa abu terbang dan abu dasar (Fly Ash Bottom Ash/FABA) yang ada pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Ropa di Ende.

Gereja Santo Donatus Bhoanawa Ende ini merupakan gereja pertama di Indonesia yang menggunakan bata interlock dari FABA sebagai material pembangunan.

Pastor Paroki Santo Donatus Bhoanawa Romo Domi Nong kepada ANTARA mengatakan telah mendapatkan bantuan 52.000 buah bata interlock yang diproduksi di PLTU Ropa untuk pembangunan gereja tersebut. Sekiranya 60 persen material pembangunan gereja menggunakan bata hasil pemanfaatan limbah batu bara itu.

"Perbandingan 60:40. Jadi, 40 persen batako biasa, karena memang sudah mulai dikerjakan sejak tahun 2020 sebelum tahu adanya bata interlock. Sekarang semuanya gunakan bata dari FABA ini," kata Romo Domi.

Bermula dari informasi terkait adanya inovasi bata yang disediakan PLN, Romo Domi bergegas menyiapkan proposal permohonan bantuan pembangunan dan berangkat ke Maumere di Sikka untuk bertemu dengan Manajer PLN Unit Pelaksana Pembangkitan (UPK) Flores Lambok Siregar.

Gayung bersambut, proposal disetujui oleh pihak PLN. Bahkan, seluruh biaya pengangkutan bata interlock dari PLTU Ropa ke Kota Ende ditanggung oleh PLN. Tak hanya membangun gereja, bata juga digunakan untuk membedah rumah warga tidak mampu dalam lingkungan paroki.

Domi tak henti-hentinya memuji inovasi FABA itu. Bata tersebut kokoh dan kuat. Cara pemasangan bata interlock dari FABA juga perlu ketelitian.

Pastor tua ini menyebut, ada ruang kosong pada bagian dalam batu yang nantinya berisikan cairan campuran perekat. Campuran cairan yang dimasukkan dalam rongga batu itulah yang menjadi pengganti sloof. Selain itu, bata yang telah tersusun pada dinding terlihat rapi meski tanpa plester. Bagian dalam dinding Gereja Santo Donatus Bhoanawa Ende, Flores, NTT yang menggunakan bata interlock dari FABA sebagai material pembangunan. (ANTARA/Fransiska Mariana Nuka)
Pemanfaatan FABA
Transisi energi hijau berlanjutan menjadi salah satu topik dalam KTT G20 2022. Dengan tema Recover Together, Recover Stronger, posisi Indonesia sebagai Presidensi dalam G20 tahun 2022 ini menjadi penting untuk bersama-sama mendorong transisi energi hijau yang berkelanjutan. Untuk itulah, G20 2022 menjadi momen penting untuk mendorong kebijakan transisi energi hijau yang berkelanjutan, efisien, mudah, terjangkau dan konkret.  

Femanfaatan FABA sebagai produk bernilai ekonomi di masa mendatang bisa menjadi bagian dari praktik baik dalam menjaga kelestarian lingkungan. Yang terpenting dari prinsip pemanfaatan FABA adalah keekonomian yang mensejahterakan masyarakat, dan perhatian terhadap aspek lingkungan yang kita harus jaga kelestariannya

Lambok Siregar mengatakan, FABA telah dikeluarkan dari daftar limbah B3 sebagaimana tertulis dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Oleh karena itu, PLN berupaya untuk merumuskan program pemanfaatan FABA melalui inovasi pengolahan FABA menjadi bata interlock. 

Baca juga: Artikel - Mengenal NTT yang terus bergerak wujudkan energi hijau berkelanjutan

Sebelum dimanfaatkan secara luas, PLN UPK Flores telah melakukan uji coba untuk membuat bata interlock dan paving block pada laboratorium Institut Teknologi Sepuluh November (ITS). Hasil dari uji coba tersebut yakni bata interlock dinyatakan telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI).

Penggunaan bata interlock dalam proses konstruksi akan menghemat 40 persen biaya pembangunan rumah jika dibandingkan menggunakan material biasa. Bata interlock yang tidak memerlukan plesteran akan menghemat pemakaian material lain seperti semen dan pasir.

Biaya yang dikeluarkan untuk rumah sederhana tipe 36 dengan dua kamar dan fasilitas mandi cuci kakus (MCK) yang menggunakan bata interlock FABA sebesar Rp25 juta. FABA memungkinkan masyarakat membangun rumah sederhana dengan biaya yang terjangkau.

FABA sendiri memiliki banyak manfaat, di antaranya untuk campuran jalan raya, pemecah ombak, campuran semen untuk plesteran bangunan, stabilisasi lahan, tanah bergelombang, dan urukan rawa agar lebih kuat dan memitigasi risiko longsor.

Namun, untuk wilayah NTT sendiri, PLN memanfaatkan FABA untuk dua hal saja, yakni pembangunan rumah, baik gereja maupun rumah warga dan pembangunan rabat jalan lingkungan.

PLTU Ropa bisa menghasilkan 1.700 buah bata interlock per hari. Kini, bata interlock dari FABA telah berhasil digunakan untuk membangun gereja, bedah rumah, dan membangun rumah dinas prajurit TNI.

Bagi wilayah Ende, FABA telah dimanfaatkan untuk membangun Gereja Santo Donatus Bhoanawa, 5 unit rumah warga di lingkungan gereja, 2 unit rumah dinas prajurit TNI di Kodim 1602 Ende, dan rabat jalan.

Selanjutnya, FABA juga digunakan di Maumere dengan total 340 ton FABA untuk penguatan pangkalan angkatan laut di Sikka bekerja sama dengan Lanal Maumere. Selain itu, Kodim Sikka juga melakukan bedah rumah dinas prajurit sebanyak enam unit rumah.

Untuk memanfaatkan FABA tersebut, PLN melakukan kerja sama baik dengan pemerintah daerah, lembaga agama, bahkan instansi vertikal. Bagi wilayah Ende sendiri, PLN sudah melakukan penandatanganan kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Ende dan Keuskupan Agung Ende sebagai bentuk dukungan terhadap pemanfaatan FABA.

Dengan demikian, masyarakat yang ingin menggunakan FABA dapat mengajukan permohonan melalui lembaga tersebut untuk diteruskan kepada PLN. Lambok menegaskan bahwa FABA yang akan diberikan kepada masyarakat tersebut bersifat gratis, karena PLN tidak memperjualbelikan FABA.

Baca juga: Artikel - Pentingnya mempersiapkan SDM pariwisata di Floratama NTT

Romo Domi sebagai salah satu penerima bantuan FABA menilai PLN tidak mengejar pembangunan fisik. Dia melihat adanya nilai sosial yang tertuang dalam upaya PLN membantu masyarakat melalui penggunaan FABA. Ketika banyak nilai sosial tergerus oleh mentalitas modern, PLN mengedepankan nilai kemanusiaan dan sosial seperti gotong royong. Pengerjaan bedah rumah bagi warga tidak mampu itu menjadi bukti wujud solidaritas dan kesetiakawanan bagi sesama yang kesusahan.

"Umat sangat terbantu. Kesadaran umat pun terbangun untuk berbagi, senasib, dan sepenanggungan bersama," ungkap Romo Domi.

Fokus Keberlanjutan
PLN sebagai penyedia FABA sangat menginginkan keberlanjutan dalam program pemanfaatan ini. Oleh karena itu, pemanfaatan FABA sejak tahun 2021 tidak dimulai pada penggunaan material. Pertama, PLN melakukan pembangunan kapasitas (capacity building) dari sumber daya manusia itu.

Mereka pun harus melatih masyarakat untuk bisa menguasai teknik penggunaan bata interlock, cara membuat bata dari FABA, dan cara membangun rumah dari FABA.

Setelah masyarakat terlatih menggunakan FABA, PLN pun mulai menggulirkan FABA untuk dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Namun, tak hanya FABA, PLN juga mendukung keberlanjutan FABA di tengah masyarakat dengan membentuk UMKM berbasis FABA. Pada 5 Februari 2022, PLN dan Keuskupan Agung Ende pun meresmikan UMKM Industri Batako Berbasis FABA di Ende.

Melalui inisiasi UMKM tersebut, PLN ingin FABA dapat bermanfaat bagi masyarakat, tidak sebatas pada penghematan biaya pembangunan, melainkan juga menciptakan lapangan kerja baru. Dengan adanya UMKM itu, masyarakat dapat memproduksi batako standar dan menjualnya dengan harga murah untuk perputaran ekonomi masyarakat setempat.

Romo Domi menyebut PLN memberikan dua bantuan alat bagi UMKM tersebut. Dengan alat itu, UMKM di sana bisa memproduksi batako standar sebanyak 700-800 batako. Setelah itu, mereka menjual batako untuk memenuhi kebutuhan ekonomi kelompok dan keluarga. Sedangkan Lambok menambahkan sudah ada empat alat yang disalurkan PLN untuk membantu produktivitas UMKM yang ada di Ende.

Karena keterbatasan anggaran, PLN tidak ingin menggulirkan produksi FABA asal-asalan. Selain itu perlu adanya pendampingan sehingga proses pemanfaatan FABA bisa berkelanjutan. Sejak 2021, sudah 6.000 ton FABA tersalurkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Kini tersisa 30 persen FABA yang harus digunakan sebaik mungkin agar tepat sasaran dan tepat guna.
 
Baca juga: Artikel - Dari tenda menjadi istana, Nusantara Generasi Beta

Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia Surya Darma pernah mengatakan FABA bisa mendorong pengembangan sektor energi baru terbarukan (EBT). Indonesia sendiri memiliki target EBT sebesar 23 persen dalam bauran energi nasional pada 2025 mendatang.

Program akselerasi pengembangan energi hijau pun terus digalakkan termasuk pemanfaatan FABA.

FABA kini menjadi nilai tambah bisnis PLTU Batu Bara bisa dimanfaatkan untuk mendorong pembangunan energi terbarukan. Adapun hasil keuntungan dari bisnis FABA bisa dialokasikan khusus untuk dana pengembangan energi terbarukan.

Sementara itu pemanfaatan FABA lebih kepada inovasi dalam pengolahan limbah menjadi sumber daya yang bermanfaat. Yang tidak kalah penting adalah, bagaimana FABA juga menggerakkan sirkular ekonomi masyarakat di daerah sekitar sumber FABA, yang sebelumnya dianggap tidak bermanfaat akhirnya memiliki nilai guna.

 

Pewarta : Fransiska Mariana Nuka
Editor : Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2024