
Pembangunan Kampung Toleransi

Enam rumah ibadah yang akan dibangun secara berdampingan tersebut yakni Agama Katolik, Agama Kristen Protestan, Agama Islam, Agama Hindu, Agama Budha serta Agama Konghucu.
Kupang (Antara NTT) - Sejumlah tokoh agama di Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur menyambut baik pembangunan enam rumah ibadah di Kampung Toleransi Naibonat, Kabupaten Kupang.
"Menurut saya satu hal yang saat ini dibutuhkan adalah menjaga toleransi umat beragama. Terobosan pembangunan kampung toleransi merupakan cara terbaik untuk tetap menjaga toleransi tersebut," kata Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nusa Tenggara Timur Abdul Kadir Makarim kepada Antara di Kupang, Senin.
Sebelumnya pada Sabtu (7/1), pemerintah Kabupaten Kupang, TNI serta sejumlah tokoh agama dari enam agama di Indonesi melakukan peletakan batu pertama untuk pembangunan enam rumah ibadah secara berdampingan di satu lokasi di lahan seluas 4,4 hektare.
Enam rumah ibadah yang akan dibangun secara berdampingan tersebut yakni Agama Katolik, Agama Kristen Protestan, Agama Islam, Agama Hindu, Agama Budha serta Agama Konghucu.
Abdul Kadir sendiri mengatakan, kampung toleransi yang dibangun di Kabupaten Kupang tersebut, dapat menjadi kabupaten percontohan tidak hanya di NTT tetapi juga seluruh Indonesia.
"Kita berharap agar kedepannya jika sudah dibangun, daerah-daerah lain di NTT atau bisa daerah-daerah di seluruh Indonesia bisa mencontohinya," tambahnya.
Namun satu hal yang menurutnya paling utama adalah disamping didukung oleh rumah ibadah yang rukun karena dibangun secara berdampingan, ia juga mengharapkan kerukunan antarumat juga harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Perwakilan dari Gereja Injili Masehi di Timor (GMIT) NTT Guten Seran mengatakan pembangunan enam rumah ibadah tersebut merupakan simbol untuk mempererat kembali simpul-simpul persatuan dan kesatuan sebagai sebuah bangsa yang berbhinneka.
"Dengan adanya perbedaan bukan berarti bahwa kita harus saling bermusuhan, tetapi untuk saling melengkapi, karena merupakan suatu cuarahan Rahmat dari yang mahakuasa,"ujarnya.
Berbagai kejadian yang berkaitan dengan toleransi antarumat beragama yang terjadi akhir-akhir ini menurutnya karena berbagai pihak tidak mendalami arti dari perbedaan tersebut.
Pewarta : Kornelis Kaha
Editor:
Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
