Logo Header Antaranews Kupang

Rp153 Miliar Untuk "DeMAM"

Rabu, 18 Januari 2017 17:46 WIB
Image Print
Kepala Bappeda Nusa Tenggara Timur Wayan Darmawa
Untuk saat ini jumlah desa yang sudah tersalurkan dana "Anggur Merah" sebanyak 2.658 desa/keluran yang menyebar di wilayah provinsi berbasis kepulauan ini.

Kupang (Antara NTT) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur segera menyalurkan dana sebesar Rp153 miliar untuk Program Desa Mandiri Anggur Merah (DeMAM) bagi 612 desa/kelurahan dalam tahun ini dengan masing-masing desa sebesar Rp250 juta.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Nusa Tenggara Timur Wayan Darmawa kepada Antara di Kupang, Rabu, mengatakan sebanyak desa/kelurahan tersebut belum kebagian dana Anggur Merah--Anggaran Untuk Rakyat Menuju Sejahtera--dan baru akan disalurkan dalam 2017 ini.

Dia mengatakan untuk saat ini jumlah desa yang sudah tersalurkan dana "Anggur Merah" sebanyak 2.658 desa/keluran yang menyebar di wilayah provinsi berbasis kepulauan ini.

Dia mengatakan, sebagian desa penerima dana tersebut sudah mampu mengelola dengan baik yang terindikasi dari kemampuan membentuk koperasi dan peningkatan aset.

Secara keseluruhan, lanjutnya, sekitar 40 persen koperasi penerima dana sudah mampu meningkatkan tambahan aset.

"Ada koperasi yang kita berikan Rp250 juta sudah meningkatkan asetnya menjadi Rp1 miliar. Memang ada juga yang belum menunjukkan kemajuan yang signifikan," katanya pula.

Dia menambahkan, model program desa mandiri "Anggur Merah" sudah diadopsi menjadi program nasional.

Menurutnya, program tersebut merupakan salah satu upaya pemerintah setempat dalam mengurangi angka kemiskinan dengan penekanan pada peningkatan skala usaha mereka.

Program tersebut, katanya, berbeda dengan program lain seperti bantuan langsung tunai yang hanya selesai pada saat itu atau tidak berlanjut sementara "Anggur Merah" sifatnya mengembalikan.

"Sifatnya juga memberdayakan karena masyarakat penerima bertanggung jawab untuk mengelola dengan baik untuk peningkatan kesejahteraannya dan setelahnya dikembalikan," katanya.

Wayan mengakui, jumlah dana tersebut memang belum memadai untuk menjangkau semua masyarakat yang tidak mampu.

Menurutnya, dana Rp250 juta itu mungkin saja cukup jika diberikan untuk 10 orang dalam satu desa/kelurahan, namun tentu kurang memadai jika penerimanya berjumlah 50 atau 100 orang.

"Untuk itulah ke depannya program ini perlu disinergikan dengan program-program lainnya untuk peningkatan skalanya," demikian Wayan Darmawa.


Diadopsi UNDP
Sementara itu, Program Bantuan Teknis PBB (UNDP--United Nations Development Programs) telah mengadopsi program pengentasan kemiskinan tersebut dalam mengatasi masalah kemiskinan di dunia.

"DeMAM mendapat apresiasi positif dari UNDP, karena dinilai sangat efektif dalam memerangi kemiskinan dan meningkatkan skala usaha ekonomi masyarakat miskin," kata Wayan.

Anggur Merah--Anggaran Untuk Rakyat Menuju Sejahtera--merupakan gagasan cemerlang dari Gubernur NTT Frans Lebu Raya pada 2010 untuk membebaskan rakyatnya dari belenggu kemiskinan dan keterbelakangan.

Tiap-tiap desa, dialokasikan dana sebesar Rp250 juta dari APBD NTT untuk membangun usaha menuju sejahtera dengan meningkatkan aset usaha dari dana awal yang didapat.

Kebijakan pembangunan yang dirancang Gubernur Lebu Raya ini, kata Wayan, mendapat apresiasi positif dari UNDP yang dibentuk pada 1965, karena program "DeMAM" dinilai sangat efektif dalam memberantas kemiskinan dengan meningkatkan skala usaha ekonomi masyarakat miskin.

Wayan mengatakan, karena keunggulan program tesebut maka dirinya sudah diundang UNDP untuk mensosialisasikan program tersebut di beberapa negara.

"UNDP memberikan kesempatan kepada saya untuk berbicara di Hongkong dan baru-baru ini di Maroko untuk membicarakan program pengentasan kemiskinan berbasis desa/kelurahan yang replikasinya dilakukan UNDP," katanya.

Dia mengatakan, program "SPARC" merupakan replikasi dari "Anggur Merah" dan saat ini menjadi unggulan UNDP yang sudah mulai dikembangkan di berbagai daerah.

Untuk itulah, katanya, pemerintah setempat tetap memandang bahwa program "Anggur Merah" masih sangat efektif untuk mengentaskan kemiskinan di provinsi kepulauan itu.

Selain itu, katanya, program pemerintah nasional juga sudah mengadopsi pola yang diterapkan program "Anggur Merah".

"Anggur Merah" merupakan satu-satunya program di Indonesia yang diterapkan dengan cara "by name, by address" yang bisa dipantau siapa yang penerima program serta perkembangannya," katanya.

Dia mengatakan, tahun 2017 merupakan tahun terakhir realisasi penyaluran dana program "Anggur Merah" sebesar Rp250 juta per desa/kelurahan di daerah setempat, dan saat ini sudah tersalurkan untuk 2.658 desa/kelurahan.

Sisanya sebanyak 612 desa/kelurahan yang ditargetkan akan tuntas pada tahun 2017 dengan ketentuan, desa/kelurahan sebagai penerima wajib membentuk koperasi.

Wayan mengakui bahwa jumlah dana pemberdayaan tersebut masih terbilang kecil untuk menjangkau semua masyarakat miskin di daerah setempat.

Oleh karenanya, "Anggur Merah" bisa menjadi perintis yang disinergikan dengan program lainnya guna meningkatkan skalanya.

"Dana Rp250 juta itu mungkin saja cukup jika diberikan untuk 10 untuk mengembangkan ternaknya, namun ini yang terima puluhan orang dalam satu desa/kelurahan sehingga perlu disinergikan dengan program-program lainnya untuk meningkatkan skalanya," demikian Wayan Darmawa.



Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2026