Logo Header Antaranews Kupang

Ekonomi Indonesia Tetap Tumbuh

Selasa, 24 Januari 2017 15:43 WIB
Image Print
Presiden AS Donald Trump
"Optimistis itu didasarkan pada banyak faktor di antaranya hubungan bilateral Indonesia-Amerika Serikat yang berjalan dengan baik selama masa pemerintahan Presiden Barrack Obama," kata Thomas Ola Langodai.

Kupang (Antara NTT) - Pengamat ekonom dari Universitas Widya Mandira (Unwira) Kupang Dr Thomas Ola Langoday, SE,M.Si menyatakan optimistis bahwa ekonomi Indonesia akan terus tumbuh pada pemerintahan Presiden AS Donald Trump.

"Optimistis itu didasarkan pada banyak faktor di antaranya hubungan bilateral Indonesia-Amerika Serikat yang berjalan dengan baik selama masa pemerintahan Presiden Barrack Obama," katanya kepada Antara di Kupang, Selasa.

Dekan Fakultas Ekonomi Unwira Kupang mengatakan hal itu terkait dampak ekonomi bagi Indonesia termasuk di antaranya Nusa Tenggara Timur terhadap pertumbuhan ekonomi nasional di bawah pemerintahan Donald Trump.

"Kita (RI-AS) mempunyai ikatan yang makin kuat selama bertahun-tahun. Di bawah kepemimpinan Obama, AS telah menyeimbangkan kebijakan dan fokus pada kepentingan di kawasan Asia-Pasifik. Saya pikir hubungan AS dengan Indonesia itu adalah simbol dari keseimbangan itu," ujarnya.

Artinya, menurut dia, Indonesia merupakan negara yang penting bagi Amerika Serikat, khususnya kawasan Asia Tenggara dan dampak ikutannya tentu adalah pertumbuhan ekonomi.

"Saya yakin bahwa pemerintahan Amerika Serikat yang mendatang akan terus berusaha meningkatkan hubungan bilateralnya dengan Indonesia, khususnya di bidang ekonomi, politik, dan sosial budaya, termasuk `people-to-people contact`," katanya.

Menurut dia, pemerintah AS di bawah kepemimpinan siapa pun akan tetap melihat Indonesia sebagai mitra strategis, tidak hanya dalam konteks kerja sama bilateral, tetapi juga dalam kerja sama regional.

"Apalagi saat ini Bank Indonesia secara konsisten mengarahkan bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makro ekonomi melalui tiga pilar kebijakan utama Bank Indonesia yakni moneter, makroprudensial, sistem pembayaran dan pengelolaan uang rupiah," katanya.

Dari kebijakan moneter, Bank Indonesia secara konsisten akan menempuh kebijakan pengendalian inflasi agar sesuai dengan sasarannya dan menjaga defisit transaksi berjalan pada tingkat yang aman.

Salah satu strategi di bidang moneter adalah pengelolaan likuiditas. Pada tahun 2017 akan diperkenalkan sistem Giro Wajib Minimum (GWM) Averaging yang hanya mewajibkan bank untuk memelihara rata-rata kecukupan GWM dalam satu maintenance period.

Dari sisi nilai tukar, Bank Indonesia menginisiasi transaksi lindung nilai untuk mengakomodasi transaksi valas dalam denominasi USD dan non-USD.

Bank Indonesia juga melakukan kerja sama bilateral dengan negara kawasanuntuk menggunakan local currency pada transaksi perdagangan dan investasi.

Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi berbagai potensi dampak nilai tukar seiring dinamika perekonomian yang terjadi baik nasioanl maupun global.



Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2026