Logo Header Antaranews Kupang

Solar nonsubsidi mulai dijual di Kupang

Jumat, 23 November 2012 06:57 WIB
Image Print

Kupang (Antara NTT) - Stasiun pengisian bahan bakar minyak di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, mulai menjual bahan bakar minyak jenis solar nonsubsidi bagi industri, karena solar subsidi stoknya mulai menipis memasuki akhir tahun.

"Meskipun masih sepi dari pembeli, karena harga BBM jenis ini melambung tinggi mencapai Rp9.000 dibandingkan harga solar bersubsidi yang hanya Rp4.500 per liter, namun harus dilakukan, karena solar subsidi stoknya mulai menipis," kata pemilik SPBU 54.851.01 Oebufu Kupang, Niti Susanto di Kupang, Jumat.

Ia mengatakan hal itu terkait antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU dalam tiga hari terakhir.

Menurut dia, antrean panjang kendaraan pada sejumlah SPBU di Kota Kupang disebabkan stok solar bersubsidi mulai berkurang, sehingga pilihan lain adalah menjual solar untuk kepentingan industri.

"Jika satu liter solar bersubsidi dijual seharga Rp4.500, harga solar nonsubsidi justru bisa dua kali lipat dari harga solar bersubsidi. Bahkan dalam sepekan terakhir, harga solar nonsubsidi melonjak hingga Rp11.000 per liter," katanya.

Tingginya harga solar nonsubsidi tersebut karena mengikuti harga minyak dunia. Jika harga minyak dunia turun, maka harga solar

nonsubsidi yang dijual di seluruh Indonesia, ikut turun.

Sebaliknya, kata dia, jika harga minyak dunia naik, maka harga solar non subsidi ikut tergerek naik.

Ia saat ini meskipun merugi karena harus bersaing dengan sebagian besar SPBU di Kota Kupang, bahkan NTT yang masih menjual BBM solar jenis subsidi, pihaknya tetap optimis akan meraih keuntungan ke depan.

Untuk jangka pendek, kami memang merugi. Tapi untuk jangka panjang, kami optimis bisa meraih untung," kata Niti Susanto.

"Pasokan solar lima ton per hari yang terjual hanya sekira seribu liter saja. Padahal sebelumnya, waktu masih jual solar bersubsidi, sepuluh ton yang didistribusikan tiap hari, habis terjual," katanya.

Dia mengatakan SPBU miliknya itu merupakan percontohan sarana prasarana pemenuhan BBM yang pertama menjual BBM Solar non subsidi di NTT dan ke depan semua SPBU di NTT juga diharuskan oleh Pertamina untuk menjual solar non subsidi.

"Saya pikir, ini upaya untuk memenuhi target jangka panjang, karena semua SPBU di Indonesia, termasuk di NTT, diharuskan oleh Pertamina untuk menjual solar nonsubsidi," katanya.

Sehingga, kata dia, tidak ada keraguan dalam usaha. "Semua bisnis pasti punya risiko, termasuk penjualan solar non subsidi ini," katanya.

Dengan penunjukkan SPBU-nya sebagai percontohan SPBU yang menjual solar non subsidi di NTT, Niti berharap, ke depan tidak ada lagi alasan bagi industri untuk membeli solar khusus industri.

Terpisah, Kepala Kepolisian Dareah (Kapolda) NTT, Brigadir Jenderal Polisi, Ricky H.P Sitohang memerintahkan seluruh jajaran di polda dan polres se-NTT menggelar operasi kendaraan bermotor dan memantau stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Langkah itu, kata dia, ditempuh menyikapi adanya kelangkaan dan penyelundupan bahan bakar minyak (BBM) di beberapa wilayah di NTT.

Kapolda NTT Brigadir Jenderal Polisi Ricky H.P Sitohang yang dikonfirmasi melalui Kabid Humas, AKBP Ida Pello mengatakan hal itu saat dihubungi Pos Kupang, Kamis (22/11/2012) siang. Ia dikonfirmasi terkait langkah Polda NTT terkait maraknya penyelundupan BBM dan kelangkaan BBM yang berlangsung di beberapa kabupaten.

Menurut Ida, operasi itu merupakan bagian dari kesatuan operasi kendaraan bermotor menyikapi maraknya pencurian kendaraan bermotor di beberapa tempat.

"Kapolda NTT telah memerintahkan seluruh jajaran untuk melaksanakan operasi besar-besaran dengan membentuk tim gabungan lengkap. Tim itu dibawah kendali Karo Ops Polda NTT, Kombes Pol Marphin Effendi" katanya.

Ida menjelaskan sasaran operasi itu yakni pemeriksaan seluruh kendaraan bermotor. Pemeriksaan dimulai kelegalan dokumen setiap kendaraan yang mengangkut bahan bakar minyak. Selain itu kelengkapan kendaraan baik fisik dan surat-surat.



Pewarta :
Editor: Ibnu
COPYRIGHT © ANTARA 2026