Logo Header Antaranews Kupang

Populasi Sapi Potong NTT Meningkat

Jumat, 30 November 2012 17:03 WIB
Image Print

Kupang (Antara NTT) - Populasi sapi potong di Nusa Tenggara Timur meningkat menjadi 778,6 ribu ekor hingga pertengahan 2012 dari 2011 yang baru 588 ribu ekor.

Data Badan Pusat Statistik NTT, Jumat, menunjukkan di Kepulauan Timor terdapat peningkatan dari 523 ribu ekor pada 2011 menjadi 533,7 ribu ekor pada pertengahan 2012, kata Kepala Dinas Peternakan Nusa Tenggara Timur Semuel Rebo di Kupang, Jumat.

Komposisi peningkatan berikut terdapat di pulau Flores sebanyak 132,4 ribu ekor (17,0 persen), lalu Pulau Sumba 62,5 ribu ekor (8,0 persen) dan Kepulauan lainnya sebanyak 50,1 ribu ekor (6,4 persen) dari total peningkatan populasi pada 2011 dengan 588 ribu ekor meningkat menjadi 778,6 ribu ekor pada pertengahan 2012.

Dari total tersebut, katanya, sekitar 48 persen digunakan untuk kebutuhan konsumsi daging, sementara sekitar 52 persen diantarpulaukan ke Jawa Timur dan daerah lainnya.

Jumlah populasi ini katanya masih jauh harapan yang dibutuhkan yaitu 25.000 ekor berdasarkan potensi lahan yang dimiliki untuk kebutuhan pengembangan ternak ini guna mendukung swasembada daging secara nasional pada 2014 dan mengembalikan wilayah ini sebagai gudang ternak.

"Untuk mengembalikan daerah ini pada predikat "gudang ternak", pada 2008 Gubernur Frans Lebu Raya dan Wakil Gubernur Esthon Foenay meluncurkan empat tekad dalam kepemimpinan mereka dan satu di antaranya adalah menjadi "NTT Sebagai Provinsi Ternak" pada 2015," katanya.

Untuk itu, berbagai langkah dan strategi terus dilakukan terutama penyediaan lahan, pakan, tenaga kesehatan hewan, pencegahan penyakit yang rawan terhadap ternak di kabupaten/kota di NTT.

Ia mengatakan hingga 2011, kabupaten yang memiliki populasi sapi potong lebih dari 100 ribu ekor adalah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) 167,8 ribu ekor, Kabupaten Kupang 151,2 ribu ekor dan Kabupaten Belu 111,2 ribu ekor.

Sementara itu sapi perah hanya terdapat di tiga kabupaten, yakni Timor Tengah Selatan (TTS) 23 ekor, Belu lima ekor dan Kupang empat ekor.

Untuk kerbau, kabupaten dengan populasi lebih dari 13 ribu ekor berturut-turut adalah Sumba Timur 37,1 ribu ekor, Manggarai Barat 22,6 ribu ekor; dan Sumba Barat Daya 13,7 ribu ekor.

Berikut Pulau Flores 132,4 ribu ekor (17,0 persen), Pulau Sumba 62,5 ribu ekor (8,0 persen), dan Kepulauan Lainnya (Alor, Lembata, Rote Ndao, dan Sabu Raijua) 50,1 ribu ekor (6,4 persen).

Untuk kerbau terbanyak dijumpai di Pulau Sumba 69,9 ribu ekor (46,6 persedn), Pulau Flores 57,5 ribu ekor (38,3 persen), Pulau Flores 57,5 ribu ekor (38,3 persen); Pulau Rote 11,5 ribu ekor (7,7 persen), dan sisanya tersebar di pulau-pulau Lainnya (7,4 persen).

Ia mengatakan komposisi jenis kelamin antara populasi sapi potong, sapi perah dan kerbau menunjukkan pola yang relatif sama, dimana jumlah terbesar adalah pada jenis kelamin betina.

"Proporsi betina terhadap total populasi masing-masing jenis ternak adalah sapi potong betina sekitar 68,4 persen, sapi perah betina 53,1 Persen dan kerbau betina 68,3 persen," katanya.

Jika dilihat berdasarkan komposisi umur ternak betina untuk ternak sapi potong, sapi perah, dan kerbau), proporsi terbanyak adalah pada umur dewasa (lebih 2 tahun).

Proporsi betina dewasa terhadap total betina untuk masing-masing jenis ternak adalah sapi potong 66,2 persen, sapi perah 88,2 persen dan kerbau 73,3 persen.

Menurut komposisi umur ternak jantan, proporsi terbanyak pada sapi potong dan kerbau jantan juga ada pada umur dewasa, yakni sekitar 39,2 Persen dan 43,6 Persen terhadap total populasi jantan masing-masing jenis ternak.

Sementara untuk sapi perah jantan, proporsi terbanyak ada pada umur muda (1-2 tahun) sekitar 46,7 persen dari total populasi sapi perah jantan.

Keberadaan ternak tersebut merupakan potensi yang potensial bagi pengembangan untuk mewujudkan program swasembada daging sapi dan kerbau di daerah ini pada 2014 dan tercapainya program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia atau MP3EI di bidang peternakan yang diluncurkan Presiden pada 2011.



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026