Logo Header Antaranews Kupang

Adat dan Peradaban Diambang Kepunahan

Rabu, 15 Maret 2017 15:53 WIB
Image Print
Kapolda Nusa Tenggara Timur Brigjen Pol Agung Sabar Santoso mengadakan audiens dengan tokoh masyarakat adat Timor dibawah pimpinan Meo Naek (Panglima Besar) Yoseph Ariyanto Lu Teflopo. (Foto ANTARA/Kornelis Kaha)
"Generasi muda kita lebih cenderung kebarat-baratan, dan jarang berkunjung ke museum untuk menemukan akar budayanya," kata Prof Dr Felysianus Sanga MPd.

Kupang (Antara NTT) - Budayawan Nusa Tenggara Timur Prof Dr Felysianus Sanga MPd mengatakan adat dan peradaban masyarakat Indonesia saat ini sudah diambang kepunahan, karena sudah hampir tidak diperdulikan lagi oleh generasi bangsa saat ini.

"Generasi muda kita lebih cenderung kebarat-baratan, dan jarang berkunjung ke museum untuk menemukan akar budayanya, padahal di sana (museum) kita bisa menemukan adat dan peradaban," kata guru besar dari Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang itu saat beraudiens dengan Kapolda NTT Brigjen Pol Agung Sabar Santoso di Kupang, Rabu.

Audiens tersebut dipelopori oleh Meo Naek (Panglima Besar) Timor Yoseph Ariyanto Lu Teflopo untuk menyatukan persepsi tentang adat dan budaya dalam menjaga keamanan bersama agar rakyat Nusa Tenggara Timur hidup penuh dengan kedamaian dan kenyamanan dalam ikatan Bhineka Tunggal Ika.

Dalam pandangan Prof Dr Felysianus, unsur ke-Bhinekaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sudah diakui oleh semua elemen bangsa, namun untuk menemukan unsur Tunggal Ika-nya, hanya lewat laut dan selat yang menyatukan serta Bahasa Indonesia yang mempersatukan.

"Lalu bagaimana untuk menemukan unsur Tunggal Ika dari adat dan peradaban bangsa Indonesia yang memiliki 1.340 suku bangsa ini? Karena masing-masing budaya memiliki kekuatan yang unik dan magnis serta misterius yang merupakan warisan leluhur dalam tata adat dan peradaban," katanya.

Menurut dia, pada masing-masing adat dan peradaban itulah yang menyimpan nyawa dan kekuatan saktinya Tunggal Ika, namun untuk menemukan kembali kekuatan sakti Tunggal Ika di zaman sekarang, masih merupakan sebuah pekerjaan rumah.

"Sepanjang kita belum menemukan unsur inti adat dan beradaban itu maka kita bisa disebut biadab. Ini kata yang teramat kasar untuk diucapkan, namun dengan terpaksa dikatakan, karena zamannya telah merubah keberadaan generasi muda," katanya.

Kapolda Nusa Tenggara Timur Brigjen Pol Agung Sabar Santoso juga menyadari bahwa adat dan beradaban sekarang sudah mulai hilang, karena tak ada generasi bangsa yang berusaha untuk menghidupkannya kembali.

"Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Itulah prinsip hidup saya, dan saya selalu menekankan kepada para Kapolres di seluruh NTT untuk tahu adat dan budaya di suatau daerah agar bisa menjadi seorang pemimpin yang dihormati," kata jenderal polisi berbintang dua itu.

Menurut Kapolda Santoso, para pemangku adat dan budaya memiliki sebuah kekuatan yang tidak nyata yang tidak dimiliki oleh semua orang, karena mereka adalah bagian dari sebuah perutusan masa lalu.

"Dimana pun saya bertugas, saya selalu memilih beraudiens dengan para tokoh adat dan masyarakat, karena mereka adalah kekuatan inti dalam masyarakat yang patut kita hargai sebagai orang yang berbudaya," ujarnya.

Meo Naek (Panglima Besar) Timor Yoseph Ariyanto Lu Teflopo kemudian menjelaskan panjang lebar tentang kisah para raja di Pulau Timor yang terbentang dari Gunung Ramelau di Los Palos Timor Leste sampai di Gunung Taebenu di Timor Barat, Nusa Tenggara Timur.

"Dan yang berkuasa atas Tanah Timor adalah Teflopo, karena beliau yang bertakhta di atas puncang Gunung Mutis yang kemudian mewariskan kepada kami sebagai anak cucunya," demikian Ariyanto Lu Teflopo.



Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2026