Logo Header Antaranews Kupang

Benarkah Sumba Timur masih dilanda kekeringan?

Jumat, 17 Januari 2020 14:58 WIB
Image Print
Bupati Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, Gideon Mbilijora. (FOTO ANTARA/ Benny Jahang)
"Sampai saat ini sejumlah daerah di Kabupaten Sumba Timur masih mengalami kekeringan ekstrem. Hujan tidak pernah turun hingga saat ini," kata Bupati Sumba Timur Gideon Mbilijora..

Kupang (ANTARA) - Sejumlah kawasan di wilayah Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur dilaporkan masih mengalami hari tanpa hujan dengan kategori kekeringan ekstrem yang menyebabkan banyak lahan pertanian di wilayah timur Pulau Sumba itu gagal tanam dan masyarakat kesulitan air bersih..

"Sampai saat ini sejumlah daerah di Kabupaten Sumba Timur masih mengalami kekeringan ekstrem. Hujan tidak pernah turun hingga saat ini," kata Bupati Sumba Timur Gideon Mbilijora di Kupang, Jumat (17/1) saat ditanya Antara terkait kondisi wilayah yang dipimpinnya saat ini.

Ia mengatakan, beberapa daerah yang mengalami kekeringan ekstrem di kabupaten ujung timur Pulau Sumba itu terjadi di wilayah Kecamatan Umalulu dan Pandawai.

"Beberapa daerah itu belum turun hujan juga sampai sekarang kendati pun beberapa daerah lainnya di Sumba Timur sudah turun hujan dengan intensitas hujan ringan," katanya.

Kekeringan yang melanda Nusa Tenggara Timur mengakibatkan ternak sapi mengalami kekurangan pakan. (ANTARA FOTO/Benny Jahang)
Dikatakannya, akibat kekeringan yang melanda daerah menyebabkan banyak lahan persawahan mengalami kekeringan akibat ketiadaan air.

"Sumber air untuk kebutuhan irigasi pertanian juga mengering sejak terjadi kemarau panjang," katanya.

Masyarakat di dua daerah itu mengalami krisis air bersih akibat sumber air bersih untuk kebutuhan masyarakat juga mengering.

Pemerintah Kabupaten Sumba Timur melalui BPBD setempat masih terus mendistribusikan air bersih untuk kebutuhan masyarakat setempat, demikian Gideon Mbilijora.

Ilustrasi - Warga Kelurahan Munjul, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, mengantre bantuan air bersih dari produsen PT Aetra Air Jakarta, Kamis (21/11/2019), akibat dilanda kekeringan sejak Oktober 2019. (ANTARA/Andi Firdaus/am).



Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2026