Logo Header Antaranews Kupang

Antarpulau Beras Bisa Ditekan

Selasa, 18 April 2017 07:01 WIB
Image Print
Pengamat pertanian agribisnis dari Undana Kupang Ir Leta Rafael Levis
"Jika konsumsi beras masyarakat NTT ditekan hingga 500.000 ton per tahun maka antarpulau beras dari luar sebenarnya tidak perlu lagi terjadi," kata Leta Rafael Levis.

Kupang (Antara NTT) - Pengamat Pertanian Agribisnis dari Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang Ir Leta Rafael Levis, M.Rur.Mnt mengatakan antarpulau beras dari sejumlah daerah untuk Nusa Tenggara Timur bisa ditekan jika konsumsi masyarakat bisa ditekan pula.


"Jika konsumsi beras masyarakat NTT ditekan hingga 500.000 ton per tahun maka antarpulau beras dari luar sebenarnya tidak perlu lagi terjadi, kecuali NTT sedang dilanda kelaparan," kata Rafael kepada Antara di Kupang, Senin.

Antarpulau beras dari Jawa Timur, Sulawesia Selatan dan Nusa Tenggara Barat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat NTT dalam setahun diperkirakan mencapai 115.000 - 130.000 ton.

Dari jumlah itu sebagiannya merupakan beras cadangan untuk memenuhi stok daerah dari tingkat produksi yang diperkirakan mencapai 970.000 ton kotor dalam setahun atau sekitar 600.000 ton bersih setelah penyusutan saat panen yang mencapai sekitar 0,6 persen.

Dosen pada Fakultas Pertanian Undana Kupang itu mengatakan NTT masih mendatangkan beras dari luar daerah seperti dari Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Sulawesi Selatan karena produksi beras 600.000 ton per tahun, sedangkan kebutuhan konsumsi mencapai sekitar 800.000 - 900.000 ton.

"Kalau konsumsi beras masyarakat bisa ditekan sampai 500.000 ton per tahun maka antarpulau beras dari luar sebenarnya tidak perlu lagi terjadi, kecuali NTT dilanda bahaya kelaparan," katanya.

Ia juga mengharapkan pemerintah terus menggalakkan konsumsi makanan nonberas, seperti sagu, pisang, dan singkong untuk menekan angka beras antarpulau tersebut.

Ketua Penyuluh Pertanian NTT itu mengatakan pemerintah baru berkomitmen untuk menekan kekurangan atau selisih antara total produksi beras dan kebutuhan masyarakat, sebab produksi beras dan jagung cenderung memiliki hubungan yang negatif.

"Artinya, di saat produksi padi meningkat, produksi jagung malah menurun atau sebaliknya. Ini yang saya sebut hubungan negatif antara padi dan jagung itu," ujarnya.



Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2026