Logo Header Antaranews Kupang

OTMI Kampanyekan Migrasi Aman

Selasa, 18 April 2017 18:01 WIB
Image Print
Direktur OnTrack Media Indonesia (OTMI) Imelda Theresia (kedua dari kiri) saat kampanye "Jangan Maklum Dengan Pikun" bersama mantan Menteri Kesehatan Ny Nafsiah Mboy (tengah) di Jakarta.
OnTrackMedia Indonesia (OTMI) di lima kabupaten dalam Provinsi Nusa Tenggara Timur, yaitu Kupang, Timor Tengah Selatan, Belu, Sumba Barat, Sumba Barat Daya, mengampanyekan cara migrasi aman.

Kupang (Antara NTT) - OnTrack Media Indonesia (OTMI) di lima kabupaten dalam Provinsi Nusa Tenggara Timur, yaitu Kupang, Timor Tengah Selatan, Belu, Sumba Barat, Sumba Barat Daya, mengampanyekan cara migrasi aman.

Direktur OTMI Imelda Theresia, kepada wartawan di Kupang, Selasa, menjelaskan kampanye dilakukan melalui sosialisasi langsung ke desa-desa, dan sekolah menengah pertama (SMP).

"Kami menyasar pelajar SMP di desa-desa karena kebanyakan mereka setelah tamat berangkat ke luar negeri mencari kerja, tanpa keterampilan yang memadai," katanya.

Dia mengatakan, kampanye migrasi aman itu dilakukan sejak September 2015 dengan didukung Palang Merah Indonesia (PMI), Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah, Bulan Sabit Merah (IFRC) serta Uni Eropa.

Kampenye migrasi aman, katanya, juga menggandeng mitra lokal seperti LSM CIS Timor, Sanggar Suara Perempuan, Yayasan Pengembangan Kemanusiaan.

Kampanye migrasi aman dan antiperdagangan perempuan dan anak dilakukan karena hingga saat ini NTT termasuk salah satu pengirim tenaga kerja yang banyak dan masuk zona merah perdagangan orang, katanya.

Menurutnya, selain itu upaya yang dilakukan juga memperkuat Gugus Tugas Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPI) serta Balai Latihan Kerja (BLK) setempat.

Untuk itu, OTMI telah menyalurkan bantuan untuk BLK yang dikelola Unit Pelaksana Tugas BLK Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi NTT senilai RP50 juta dalam bentuk sarana, serta prasarana pelatihan tata laksana rumah tangga.

Imelda menyebutkan, bantuan peralatan berupa perabot rumah tangga itu berstandar nasional yang umumnya digunakan dalam dan luar negeri serta peralatan kecantikan.

"Bantuan ini juga merupakan bentuk lain dari kampanye migrasi aman dan `anti trafficking`," katanya.

Menurutnya, jika kapasitas calon tenaga kerja dari NTT bisa ditingkatkan secara memadai, maka mereka tidak menghadapi kendala saat bekerja di dalam maupun luar negeri.

"Misalnya untuk jenis pekerjaan pembantu rumah tangga, lewat pelatihan maka mereka tidak lagi bingung mengenal dan mengoperasikan peralatan rumah tangga dan dibekali pemahaman tentang pekerjaan rumah tangga sehingga mudah beradaptasi," katanya.

Dia berharap, melalui bantuan tersebut semakin banyak calon tenaga kerja asal NTT bisa mendapatkan pelatihan keterampilan melalui BLK.



Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2026