
Pendidikan Kesehatan Keluarga NTT Rendah

"Saat ini penderita hipertensi yang berobat tak teratur sebanyak 61,1 persen, perokok dalam keluarga sebanyak 75,7 persen, dan belum menjadi peserta JKN sebanyak 60,4 persen," kata Apolonaris Berkanis.
Kupang (Antara NTT) - Pendidikan kesehatan keluarga di Provinsi Nusa Tenggara Timur masih terbilang rendah jika melihat data sedikitnya keluarga yang menerapkan hidup sehat, kata Kepala Balai Pelatihan Kesehatan NTT Apolonaris Berkanis, Selasa (2/5).
"Saat ini penderita hipertensi yang berobat tak teratur sebanyak 61,1 persen, perokok dalam keluarga sebanyak 75,7 persen, dan belum menjadi peserta Jaminan Kesehatan Nasional sebanyak 60,4 persen," katanya di Kupang.
Di samping itu ia menambahkan bahwa dari 387 puskesmas yang ada di seluruh NTT, hanya 10 persennya baru mendapatkan pelatihan program Keluarga Sehat dengan pendekatan keluarga.
"Tercatat kondisi masyarakat sehat hanya 17 persen," papar Apolonaris.
Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kesehatan Kementerian Kesehatan Usman Sumantri mengatakan pelatihan Keluarga Sehat di 387 puskesmas di seluruh NTT harus terus didorong mengingat pelaksanaanya baru setahun berjalan.
Kemenkes berkomitmen membangun kesehatan masyarakat melalui target sasaran pelatihan Keluarga Sehat meliputi sembilan provinsi dan 64 kabupaten dengan jumlah puskesmas bertambah setiap tahun.
Ia berharap, Bapelkes dapat berswadaya dan dapat membantu percepatan penyebaran program.
Sasaran pelatihan Keluarga Sehat pada 2016 sebanyak 470 puskesmas dan pada tahun 2017 bertambah 1.768 puskesmas sehingga menjadi 2.238.
Tahun 2018 terdapat penambahan sasaran sebanyak 2.847 puskesmas sehingga total menjadi 5.085 puskesmas.
Sementara pada tahun 2019 target sasaran bertambah sebanyak 3.525 puskesmas di 27 provinsi, 149 kabupaten/kota terpilih sehingga total sasaran adalah 8.610 puskesmas.
Pewarta : Aditya Ramadhan
Editor:
Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
