Logo Header Antaranews Kupang

Wilayah NTT Dikelilingi Tektonik

Senin, 24 Juli 2017 10:51 WIB
Image Print
Kepala BMKG NTT Hasanuddin sedang menunjuk hilal saat berlangsungnya Ramadhan 1438 H
Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur umumnya dikelilingi daerah tektonik, dan di selatan terdapat zona subduksi sehingga membuat daerah itu sering dilanda gempa.

Kupang (Antara NTT) - Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur umumnya dikelilingi daerah tektonik, dan di selatan terdapat zona subduksi sehingga membuat daerah itu sering dilanda gempa.

"Selain itu, di sekitar kepulauan NTT banyak sekali sesar atau patahan aktif yang mengakibatkan juga sering terjadi gempa di wilayah perairan laut maupun daratan," kata Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Kupang/Koordinator BMKG NTT Hasanuddin di Kupang, Senin.

Dia mengemukakan hal itu, terkait faktor yang menyebabkan wilayah-wilayah di provinsi berbasis kepulauan itu selalu diguncang gempa bumi, baik dalam skala kecil sampai menengah.

Daerah-daerah yang hampir setiap hari dilanda gempa bumi adalah wilayah-wilayah di Pulau Sumba, Pulau Timor dan Manggarai Barat di Pulau Flores.

"Daerah Sumba khususnya dan NTT umumnya dikelilingi daerah tektonik, diselatan NTT terdapat zona subduksi dan di sekitar kepulauan NTT banyak sekali sesar atau patahan aktif yang mengakibatkan juga sering terjadi gempa di wilayah perairan laut maupun daratan, katanya.

Sementara penyebab tingginya aktivitas kegempaan di sekitar kepulauan Nusa Tenggara, Bali dan Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) antara lain karena aktivitas tektonik sebagai akibat pertemuan lempeng Indonesia-Australia (zona subduksi) di selatan.

Selain Flores fault (patahan flores) di bagian utara yang aktif serta adanya sesar-sesar lokal di daerah tersebut, katanya menjelaskan.

Penyebab lain adalah aktivitas gunung api (vulkanik) yang berada di wilayah Nusa Tenggara dan Bali.

Menurut dia, jika dilihat dari peta kegempaan, hampir seluruh daratan dan laut sekitar wilayah Nusa Tenggara Timur pernah terjadi gempa, walaupun dengan kekuatan antara kecil dan sedang.

"Di Kantor BMKG Kupang, kita memiliki banyak sekalid datanya, karena petugas kita memantau selama 1x24 jam," katanya.

Artinya, selama ini, kata dia masyarakat hanya mengetahui gempa yang dirasakan dan yang merusak saja, tetapi sebenarnya aktivitas kegempaaan dengan skala kecil-kecil juga banyak sekali terjadi, kata Hasanuddin.



Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2026