
NTT alami inflasi 0,94 persen

"Inflasi ini disebabkan kenaikan indeks harga pada lima dari tujuh kelompok pengeluaran, di mana kelmpok bahan makanan menjadi penyumbang terbesar," kata Maritje Pattiwaellapia.
Kupang (Antaranews NTT) - Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur Maritje Pattiwaellapia mengatakan pada Januari 2018 provinsi setempat mengalami inflasi sebesar 0,94 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 131,91.
"Inflasi ini disebabkan kenaikan indeks harga pada lima dari tujuh kelompok pengeluaran, di mana kelmpok bahan makanan menjadi penyumbang terbesar," kata Maritje Pattiwaellapia kepada wartawan di Kupang, Kamis.
Kondisi inflasi Januari 2018 ini masih berada di atas inflasi nasional sebesar 0,62 persen, meskipun mengalami penurunan dari inflasi Desember 2017 sebesar 1,22 persen.
Ia menjelaskan, dari tujuh kelompok pengeluaran, yang mengalami inflasi paling besar yaitu pada kelompok bahan makanan sebesar 5,26 persen, diikuti kelompok bahan makanan jadi 0,81 persen.
Selain itu, kelompok kesehatan mengalami inflasi sebesar 0,21 persen, sementara kelompok pendidikan merupakan yang terendah sebesar 0,20 persen.
"Hanya ada dua kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi yaitu sandang sebesar 0,25 persen dan kelompok transportasi 2,65 persen," katanya.
Ia menjelasakan, dua kota Indeks Harga Konsumen di NTT yang mengalami inflasi terbesar yaitu Kota Kupang sebesar 1,06 persen dan Kota Maumere 0,17 persen.
Ia menyebut, sejumlah komoditi pada kelompok bahan makanan yang menjadi penyumbang utama inflasi sebesar 0,94 itu, yaitu pada beberapa jenis ikan seperti kembung, kakap untuk NTT secara keseluruhan.
"Kemudian juga beras yang secara nasional juga mengalami inflasi cukup tinggi, sementara di NTT andilnya 0,16," katanya.
Ia menjelaskan, khusus untuk komoditi beras terus mengalami kenaikan harga per minggu hingga terkahir mencapai Rp11.767 per kilogram, dengan kondisi harga secara rata-rata mencapai Rp11.614.
"Kalau Desember 2017 kemarin harga beras kita rata-rata Rp11.200, jadi naik sekitar Rp500, dan bukan hanya di NTT saja tapi secara keseluruhan di Indonesia mengalami kenaikan," katanya.
Untuk itu, Maritje berharap Badan Urusan Logisitik (Bulog) setempat dapat memastikan stok beras yang aman untuk kebutuhan masyarakat di provinsi berbasiskan kepulauan itu untuk beberapa bulan ke depan sehingga harga beras bisa terkendali.
"Melihat perkembangan beberapa minggu di Januari 2018 ini harganya mengalami peningkatan, mudah-mudahan di Februari, apalagi musim hujan juga masih berlangsung," katanya.
Pewarta : Aloysius Lewokeda
Editor:
Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
