
September NTT Deflasi 0,96 Persen

Kupang (Antara NTT) - Kepala Badan Pusat Statistik NTT, Aden Gultom mengatakan, pada September 2012, Nusa Tenggara Timur mengalami deflasi sebesar 0,96 persen atau terjadi penurunan Indeks Harga Konsumen dari 146,32 pada Agustus 2012 menjadi 144,91 pada September.
Deflasi sebesar 0,96 persen di Nusa Tenggara Timur ini dipicu oleh penurunan indeks harga konsumen (IHK) pada tiga kelompok pengeluaran, kata Aden Gultom, di Kupang, Senin.
Tiga kelompok yang menjadi pemicu deflasi itu adalah Kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan mengalami penurunan terbesar yaitu 5,12 persen, diikuti kelompok bahan makanan turun 1,85 persen, dan kelompok sandang turun 0,14 persen.
Sedangkan kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga naik 1,93 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar naik 1,19 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau naik 0,77 persen, dan kelompok kesehatan naik 0,19 persen.
"Kelompok pengeluaran yang memberikan andil terbesar dalam pembentukan deflasi di Nusa Tenggara Timur September 2012 adalah kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,84 persen dengan perubahan indeks -5,12 persen," katanya.
Diikuti kelompok bahan makanan dengan andil deflasi sebesar 0,60 dan kelompok sandang dengan andil deflasi sebesar 0,01 persen. Sedangkan kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar memberikan hambatan laju deflasi terbesar sebesar 0,29 persen.
Ia mengatakan sepuluh komoditas yang menyumbang deflasi atau penurunan indeks harga terbesar antara lain tarif angkutan udara, ikan tembang, sawi putih, ikan selar, ikan tongkol, ikan kembung/gembung, cabe merah, cabe rawit, ikan merah, dan ikan ekor kuning.
Sedangkan komoditas yang menghambat laju deflasi antara lain harga kangkung, kontrak rumah, pasir, rokok kretek filter, daging babi, daun singkong, tarif sekolah SLTA, labu siam/jipang, sewa rumah dan bayam.
Dalam konteks lokal di Kota Kupang, berdasarkan hasil penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK), maka pada September 2012, Kota Kupang mengalami deflasi sebesar 1,11 persen, atau terjadi penurunan IHK dari 144,82 pada bulan Agustus 2012 menjadi 143,21 pada September 2012.
Laju inflasi tahun kalender (Januari-September 2012) sebesar 3,50 persen dan inflasi "year on year" (September 2012 terhadap September 2011) sebesar 4,66 persen.
Deflasi ini terjadi karena adanya penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada beberapa kelompok pengeluaran. "Selama September 2012, tiga kelompok pengeluaran mengalami penurunan indeks harga yang mengakibatkan deflasi di Kota Kupang. Kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan mengalami penurunan indeks tertinggi, sebesar 5,76 persen diikuti kelompok bahan makanan turun 1,56 persen dan kelompok sandang turun 0,25 persen.
Kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks harga tertinggi terjadi pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau, sebesar 0,87 persen.
Setelah bulan lalu mengalami inflasi 0,72 persen, pada September 2012 ini alami deflasi 1,11 persen. Jika dibandingkan dengan tahun lalu pada bulan yang sama, Kota Kupang juga mengalami deflasi tetapi lebih rendah yakni sebesar 0,49 persen.
Kelompok pengeluaran yang memberikan andil terbesar dalam pembentukan deflasi Kota Kupang bulan September 2012 adalah kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan dengan andil sebesar 0,98 persen.
Kelompok berikutnya yang memberikan andil deflasi yaitu kelompok bahan makanan sebesar 0,46 persen dan kelompok sandang 0,01 persen. Kelompok yang menghambat laju deflasi terbesar adalah kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar yang memberikan andil inflasi sebesar 0,21 persen.
Beberapa komoditas utama yang mengalami kenaikan harga tertinggi di Kota Kupang antara lain kangkung, pasir, rokok kretek filter, daging babi, daun singkong, kontrak rumah, labu siam, bayam, bawang putih, dan sewa rumah.
Sedangkan komoditas utama yang mengalami penurunan harga terbesar di Kota Kupang antara lain tarif angkutan udara, ikan tembang, sawi putih, cabe merah, cabe rawit, ikan ekor kuning, ikan tongkol, ikan merah, ikan kembung/gembung dan daging ayam ras.
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
