Labuan Bajo (ANTARA) - Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur memperkuat upaya preventif dan promotif dalam mengatasi masalah stunting di 12 kecamatan di daerah tersebut.

"Ada beberapa program kami, di antaranya pemberian tablet tambah darah pada remaja putri dan pelaksanaan Kelas Ibu Hamil oleh bidan desa/kelurahan," kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata Quintus Irenius Suciadi ketika dihubungi dari Labuan Bajo, Manggarai Barat, Senin, (16/1/2023).

Dia menjelaskan pemberian tablet tambah darah (TTD) penting bagi para remaja putri pada masa pertumbuhan. Hal itu berkaitan erat dengan siklus menstruasi bulanan remaja putri yang berpotensi menyebabkan anemia.

Pemberian TTD ini juga berkaitan dengan upaya mempersiapkan mereka menjadi seorang ibu.

Dia menyebut pemberian TTD rutin dapat mencegah ibu hamil melahirkan bayi stunting atau gagal tumbuh.

"Kita berharap minum TTD rutin ini sebagai langkah preventif kita untuk mencegah lahirnya bayi dalam keadaan stunting. Kalau calon ibu ini sehat, generasi yang dihasilkan pun sehat," ungkap Irenius.

Dia menjelaskan Kelas Ibu Hamil merupakan salah satu bagian program Kampanye Gerakan Ibu Hamil Sehat yang menjadi upaya pemerintah untuk menurunkan angka stunting. Para ibu hamil diberikan edukasi terkait dengan pentingnya gizi bagi tubuh mereka dan anak-anak.

Hal yang paling efektif untuk mencegah stunting pada anak, katanya, tentu dimulai dari memenuhi gizi sejak masa kehamilan.

Oleh karena itu, perempuan yang menjalani proses kehamilan dianjurkan rutin memeriksakan kesehatan ke fasilitas kesehatan terdekat.

Program Dinas Kesehatan setempat lainnya dalam penanganan masalah stunting yakni pemberian makanan tambahan (PMT) bagi ibu hamil yang mengalami kekurangan energi kronis (KEK) dan pendampingan ibu menyusui oleh tenaga kesehatan maupun bidan. Pelaksanaan PMT dan penyuluhan juga diberikan pada saat kegiatan posyandu serta pemberian PMT pemulihan pada sasaran gizi buruk dan stunting.

"Kami melakukan penyebarluasan informasi tentang pola asuh dan pola makan terhadap masyarakat serta aktif melakukan kunjungan rumah. Ada juga pendampingan oleh kelompok orang tua asuh," katanya.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata per November 2022, terdapat 1.185 balita stunting dengan prevalensi kasus 14,9 persen. Angka itu didapat berdasarkan pengukuran terhadap 7.975 balita dari target sasaran 9.252balita yang tersebar pada 12 kecamatan di wilayah
tersebut.

Baca juga: Telkomsel koordinasi percepatan penyelesaian BTS yang ambruk di Lembata

Baca juga: Komunitas lokal Lembata buka paket wisata untuk aksi bedah rumah

Pewarta : Fransiska Mariana Nuka
Editor : Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2024