Jakarta (ANTARA) - Tanah yang sehat merupakan fondasi peradaban manusia. Tanah sehat menghasilkan makanan yang sehat bagi hewan dan manusia. Dari makanan sehat, maka lahir dan tumbuh individu yang sehat serta produktif sehingga masyarakat juga sehat.

Pada masyarakat yang sehat, maka perekonomian sebuah bangsa menjadi sehat. Peradaban manusia yang hidup di atasnya juga menjadi sehat dan unggul.

Indonesia beruntung dikarunia kekayaan dan keragaman sumberdaya lahan yang sangat besar. Dari 12 jenis tanah di dunia, 10 jenis tanah ada di Indonesia. Ragam jenis tanah tersebut memberi gambaran potensi kesuburan tanah serta aspek-aspek turunan lainnya yang saling berkaitan.

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) menyatakan tanah sehat adalah tanah yang mampu menopang sistem kehidupan dan ekosistem serta penggunaan lahan yang mendukung produktivitas tanaman dan hewan, meningkatkan kualitas air dan udara, untuk kehidupan yang aman dan sehat bagi hewan dan manusia di atasnya.

Nenek moyang manusia telah mengelola tanah dengan teknologi sesuai perkembangan pengetahuan dan pengalaman. Pada era sebelum revolusi hijau hadir di Indonesia, petani mengandalkan bahan-bahan alami seperti pupuk kandang, sisa panen, dan sisa tanaman yang ada di sekitar lahan pertanian.

Tentu saja produksi tanaman tidak setinggi saat ini karena belum banyak varietas unggul dengan potensi produksi yang tinggi. Demikian pula penambahan hara tidak sebanding dengan permintaan hara tanaman.

Baru pada revolusi hijau pemerintah menargetkan peningkatan produksi tanaman pangan karena jumlah penduduk terus meningkat pesat. Berbagai upaya dilakukan untuk mencapai ketahanan pangan. Upaya mencapai ketahanan pangan hanya dapat terwujud dengan mempertahankan tanah Indonesia tetap sehat.

Tentu sangat menyedihkan jika tanah Indonesia disebut telah rusak dan sakit. Tanah disebut rusak maupun sakit harus dibandingkan dengan kondisi awalnya yang alami. Belum tentu tanah yang tak mampu menopang kehidupan tanaman pangan disebut rusak atau sakit karena memang secara alami fungsinya berbeda.

Tanah alluvial di lahan di tepi pantai misalnya. Tanah tersebut tidak dapat ditanami padi, jagung, atau kedelai tetapi mampu menopang kehidupan bakau. Hutan bakau bermanfaat mencegah intrusi air laut ke daratan termasuk ke lahan pertanian, menyerap karbon, menjadi ekosistem bagi udang dan kepiting serta memasok oksigen.

Perubahan kondisi

Suatu tanah disebut rusak bila telah berubah sifat kimia, biologi, dan fisika tanah dari kondisi awalnya atau kondisi yang umum. Kerusakan kimia tanah umumnya berhubungan dengan defisiensi unsur tertentu atau justru sebaliknya berlebihan sehingga terjadi toksisitas terhadap unsur tertentu.

Contoh yang paling mudah adalah tanah yang kelebihan unsur natrium atau Na. Struktur tanah yang kelebihan natrium menjadi pecah karena terdispersi. Setelah terdispersi butiran tanah kembali memadat melapisi permukaan tanah. Dampaknya air hujan terhambat masuk ke dalam tanah. Sumber natrium yang berlebihan berasal dari intrusi air laut.

Demikian pula tanah yang terpapar kalsium atau Ca yang berlebihan dapat rusak. Kalsium dalam jumlah tepat dapat meningkatkan pH yang rendah menjadi pH mendekati netral, tetapi kalsium berlebihan menyebabkan tanah terlalu basa. Dampaknya tanah juga memadat sehingga sukar diolah. Kelebihan kalsium berasal dari pengapuran yang overdosis.

Kerusakan biologi tanah berhubungan dengan menurunnya keragaman dan kelimpahan dari mikro dan meso fauna tanah. Situasi lingkungan perakaran kurang kondusif karena makro dan mikro fauna multiguna tanah berkurang populasinya dari tekanan lingkungan tumbuh.

Hadirnya fauna tanah yang sangat dominan sangat membahayakan pertumbuhan tanaman. Demikian juga lingkungan perakaran yang terpapar bahan agrokimia seperti, herbisida, pupuk anorganik dan organik yang melewati batas yang diperkenankan dapat berbahaya.
Terakhir kerusakan fisika tanah berkaitan dengan perubahan sifat fisik tanah.

Struktur yang rusak, kemampuan memegang air yang menurun, infiltrasi tanah yang terlalu lambat dan terlalu cepat, kemampuan tanah menyirkulasikan udara yang semakin sedikit, daya olah yang semakin berat karena tanah memadat, atau tanah yang mudah tererosi karena tidak ada ikatan yang kuat antar partikel tanah.

Parameter tekstur tanah sangat kecil peluangnya menjadi rusak, karena tekstur tanah mengacu pada proporsi pasir, debu dan liat persatuan berat.

Sifat kimia tanah berhubungan dengan reaksi tanah atau disebut dengan pH. Reaksi atau pH tanah yang memberi suasana lingkungan perakaran menjadi kondusif bagi akar tumbuh dan berkembang.

Kisaran pH tanah yang baik bagi pertumbuhan tanaman pada kisaran 5-7,5. Pada pH kurang dari 5, baru diperlukan penambahan kapur atau dolomit dengan takaran yang tepat.

Jika tidak tepat akan menyebabkan keseimbangan hara di dalam tanah akan terganggu (Ca, atau CA dan Mg dominan).

Pada pH lebih dari 7,5 diperlukan gypsum atau perlakuan pencucian garam-garam dengan air yang terstandar mutunya.

pH tanah juga berpengaruh terhadap ketersediaan atau kelarutan hara di dalam tanah. Ketersediaan hara yang optimal terdapat pada kisaran pH 5 – 7,5 yang disebut agak masam hingga agak basa.

Pada kisaran nilai pH tersebut, unsur hara makro seperti P, K, Ca, Mg, S, serta unsur hara mikro (Cu, Zn, Fe, Mn, B, Mo) tersedia secara optimal. Demikian pula jika kita lakukan pemupukan pada tanah dengan pH tersebut, akan larut dan tersedia dengan baik.

Berlebihan

Teknik budi daya dengan memberikan pupuk fospat (P) dan kalium (K) yang jumlahnya melebihi kebutuhan tanaman pada mulanya akan menyebabkan kadar P dan K meningkat.

Namun, berikutnya ketika berlebihan dapat berdampak buruk. Pada kasus fospat, unsur hara tersebut mempunyai sifat yang tidak mobile atau tidak mudah berpindah. Efeknya ketika berlebihan menyebabkan terjadi akumulasi di dalam tanah khususnya tanah sawah.

Sedangkan untuk kalium bersifat semi mobile atau agak mudah berpindah. Bila diberikan melebihi kebutuhan tanaman, maka akan terjadi akumulasi juga. Sebaliknya akan terjadi pengurasan bila dilakukan pemupukan kurang dari kebutuhan tanaman.

Apakah akumulasi P dan K dari pupuk anorganik dapat dipergunakan oleh tanaman selanjutnya? Hasil akumulasi pupuk yang ada di lahan pertanian dapat dioptimalisasi untuk musim selanjutnya.

Aktivitas ini disebut sebagai penambangan hara dengan bantuan mikroba pelarut P dan K. Mikroba baik ini ada yang hidup dan tersedia alami di dalam tanah, tetapi akan lebih efektif bila ditambahkan dalam bentuk pupuk hayati agar populasi mikroba baik dapat bekerja maksimal.

Populasi mikroba berhubungan dengan ketersediaan makanan atau energi di dalam tanah dalam bentuk bahan organik atau pupuk organik yang ditambahkan ke dalam tanah. Dalam satu sendok makan tanah, terdapat populasi mikroba sejumlah lebih dari jumlah populasi penduduk di dunia.

Ada yang bermanfaat, tetapi ada juga yang tidak memberi manfaat bahkan bersifat patogen bagi pertumbuhan tanaman. Mikroba yang bermanfaat dapat menjadi sumber mikroba hayati bagi pembuatan pupuk hayati.

Mikroba tanah sangat tergantung pada tambahan bahan organik tanah seperti pupuk kandang sebagai sumber energi, vitamin, serta zat pengatur tumbuh.

Ketersediaan pupuk kandang dipasok dari peternakan setempat. Pupuk kandang berdasarkan urutan kecepatan ketersediaan hara adalah: pupuk kandang sapi, kandang kambing, dan pupuk kandang ayam. Dengan manajemen yang tepat, maka pupuk kandang dapat memberi manfaat seoptimal mungkin.

Baca juga: Opini - Mendaras pahlawan kehidupan

Oleh karena itu, tingkat kesuburan tanah tidak berdiri sendiri, tetapi gabungan dari beberapa komponen yang membentuk standar kesuburan. Pemahaman tentang parameter karakteristik tanah adalah penting, tetapi lebih penting lagi adalah kemampuan menggabungkan karakter tanah untuk menyatakan penilaian kualitas suatu tanah subur dan sehat atau sebaliknya: rusak.

Baca juga: Opini - Melestarikan swasembada beras di Indonesia

Upaya menilai tingkat kesuburan dan kesehatan tanah hanya dapat dilakukan dengan mempelajari kesuburan tanah atau mengkonsultasikannya dengan ahli-ahli tanah. Mari jaga tanah subur dan sehat di Indonesia.


*) Dr. Ir. Ladiyani Retno Widowati, M.Sc.; Kepala Balai Pengujian Standar Instrumen Tanah dan Pupuk (BPSI Tanah dan Pupuk).

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Menjaga tanah sehat dan subur

Pewarta : Dr. Ir. Ladiyani Retno Widowati, M.Sc*)
Editor : Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2024