Kupang (ANTARA) - Masih tergambar jelas di ingatan Jeffry Pugel (34) kejadian empat tahun silam. Pengamat Gunung Api Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu sedang mengamati dengan saksama seismograf analog sembari menunggu mi instan yang dimasak oleh rekannya.

Namun, mendadak rasa lapar yang ia tahan sejak pagi hilang karena dikagetkan dengan banyaknya grafik memanjang yang muncul dan jarum seismograf yang mentok. 

“Tunggu dulu, ada tremor overscale mulai muncul!” teriak Jeffry saat itu yang meminta rekannya untuk segera naik ke lantai atas. Peristiwa itu terjadi pada Minggu (29/11/2020) pukul 09.42 WITA.

Detik itu juga Jeffry memberikan laporan secepat mungkin ke Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di Bandung. Dia diingatkan agar berhati-hati karena ada potensi erupsi yang lebih besar karena telah terjadi erupsi pembuka dua hari sebelumnya.

Selang tiga menit berlalu, tepatnya pukul 09.45 WITA, Jeffry dan rekannya menatap seismograf analog dan melihat adanya grafik penanda erupsi yang besar disertai suara gemuruh.

Mereka pun segera naik ke bagian atas gedung. Dari arah gunung, Jeffry melihat kepulan asap berwarna hitam kelabu dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 4.000 meter di atas puncak gunung. 

Angin membawa kepulan asap itu dengan cepat ke arah selatan tenggara, tepatnya ke Pos Pengamatan Gunung Ile Lewotolok sehingga menyebabkan hujan abu. Pengamat gunung api yang baru bekerja dua tahun itu kebingungan, panik karena pertama kalinya mengalami langsung kejadian gunung api meletus.

Berbekal pengetahuan yang mereka miliki, keduanya kembali mengirimkan laporan secepat mungkin ke Bandung. Para pimpinan PVMBG mengerti kepanikan mereka dan mengarahkan dua pengamat gunung api itu.

Setelah mengirim laporan dengan cepat, Jeffry mulai menelpon Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lembata untuk memberikan informasi terkait rekomendasi PVMBG. Koordinasi antarpemangku kepentingan kebencanaan pun mulai diperkuat.

Hari itu, sekitar pukul 13.00 WITA, Gunung Ile Lewotolok naik status dari Level II (Waspada) ke Level III (Siaga).
 

Visual erupsi Gunung Ile Lewotolok, di Lembata, NTT, Minggu (29/11/2020). (ANTARA/Dokumentasi Pribadi)


Gunung Ile Lewotolok

Gunung Api Ile Lewotolok merupakan gunung api aktif di Kabupaten Lembata yang berada pada ketinggian 1.423 meter dari permukaan laut (mdpl).

Gunung api ini mengalami peningkatan aktivitas dari Level I (Normal Aktif) ke Level II (Waspada) pada 7 Oktober 2017, lalu naik lagi menjadi Level III (Siaga) pada 29 November 2020.

Selang dua tahun, status gunung itu diturunkan kembali ke Level II (Waspada) pada 27 Desember 2022.

Setelah 14 bulan bertahan pada Level II (Waspada), status gunung naik menjadi Level III (Siaga) pada 27 Februari 2024.

Untuk mendapatkan data akurat dari gunung api itu, pos pengamatan memiliki berbagai alat pemantauan, di antaranya 4 stasiun seismik analog, 3 stasiun repeater, 4 stasiun CCTV, dan 2 stasiun reflektor deformasi.

Dengan berbagai alat itu, pengamat gunung api melakukan empat metode pemantauan yakni pemantauan visual, seismik, deformasi, dan geokimia.

Pada pemantauan visual, para pengamat gunung api melihat kondisi gunung api menggunakan mata telanjang, bantuan teropong, maupun CCTV.

Sedangkan pada pemantauan seismik, pengamat mengamati dan mengolah data yang dikirim dari stasiun seismik.

Selanjutnya, pemantauan deformasi dilakukan menggunakan alat yang disebut Electronic Distance Measurement (EDM) untuk mendapatkan data deformasi yang bisa disandingkan dengan data seismik.

Lalu, ada pula pengukuran geokimia yang dilakukan dengan pengukuran suhu mata air panas yang bersumber dari Gunung Api Ile Lewotolok.

Selain melakukan pengamatan gunung api, para pengamat yang bertugas di sana juga melakukan pemeliharaan rutin alat-alat yang tersebar pada beberapa titik itu.

Pemeliharaan alat yang dilakukan antara lain pengecekan aki, pembersihan di sekitar stasiun, pengecekan komponen lain, serta perbaikan alat. Semua itu dilakukan berulang kali, bergantung pada kondisi alat di lapangan.

Para pengamat gunung api sangat mengetahui risiko dari pekerjaan itu, terutama jika perbaikan alat harus dilakukan saat gunung mengalami “krisis”.

Namun demikian, mereka tidak asal-asalan melakukan perbaikan, melainkan berpedoman pada standar operasional dan keamanan yang telah ditetapkan.

Pekerjaan itu tetap dilakukan, karena pengamat gunung api harus memastikan semua alat berfungsi baik sehingga bisa mengirimkan data gunung api.

Sebelum kejadian erupsi tahun 2020, koordinasi antara Pos Pengamatan Gunung Api Ile Lewotolok dengan BPBD Lembata telah terjalin. Berbagai komunikasi dibangun, diantaranya bersama-sama melakukan sosialisasi terkait bahaya dan mitigasi gunung api.

Sosialisasi pun terus berjalan hingga kini dengan mengunjungi desa-desa yang masuk dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB). Para pengamat gunung api juga dilibatkan dalam berbagai kegiatan terkait mitigasi bencana.



Peran penting

Tingkat aktivitas Gunung Ile Lewotolok kini telah dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) sejak 27 Februari 2024 karena adanya peningkatan aktivitas baik tinggi kolom erupsi dan asap, kemunculan aliran lava baru, dan letusan eksplosif yang masih berlangsung.

Erupsi gunung api tidak sebatas pada lontaran abu vulkanik yang keluar dari dalam kawah, namun bisa juga dalam bentuk gas atau aliran lava sesuai dengan sifat gunung api masing-masing.

Berdasarkan evaluasi yang dilakukan oleh Pos Pengamatan Gunung Ile Lewotolok dari tanggal 16 hingga 26 Februari 2024, terlihat kemunculan aliran lava baru pada arah selatan dan tenggara.

Pada tanggal 26 Februari, hasil pantauan menunjukkan jarak aliran ke arah tenggara telah mencapai sekitar dua kilometer. Laju aliran lava terjadi cukup cepat, khususnya ke arah tenggara yang disebabkan morfologi lereng tenggara yang lebih curam.

Tak hanya itu, erupsi atau letusan eksplosif masih tetap berlangsung dengan jangkauan lontaran lava pijar dominan masih di sekitar area kawah, namun dapat juga menjangkau sejauh sekitar 500 meter keluar dari kawah.

PVMBG mencatat jumlah gempa meningkat pada periode itu, terutama gempa-gempa yang berasosiasi dengan aktivitas permukaan seperti gempa hembusan dan tremor non-harmonik. Hal itu mengindikasikan aktivitas vulkanik gunung berada pada kedalaman magmatik dangkal.

Selanjutnya, PVMBG juga mencatat sumber gempa vulkanik dangkal dan dalam berada di bawah Gunung Ile Lewotolok. Gempa vulkanik dangkal dan vulkanik dalam yang masih terekam mengindikasikan masih adanya tekanan pada tubuh gunung api itu yang berkaitan dengan suplai fluida magmatik dangkal dan dalam.

Dari hasil evaluasi, PVMBG mengeluarkan rekomendasi agar masyarakat tidak melakukan aktivitas di sekitar gunung dalam radius dua kilometer.

Masyarakat Desa Lamawolo, Lamatokan, dan Jontona diimbau untuk mewaspadai potensi ancaman bahaya longsoran lava dan awan panas dari bagian timur puncak gunung.

Khusus bagi masyarakat Desa Jontona dan Todanara, PVMBG merekomendasikan agar tidak memasuki dan melakukan aktivitas dalam wilayah sektoral selatan dan tenggara sejauh empat kilometer dari pusat aktivitas gunung.

Masyarakat juga harus mewaspadai potensi ancaman bahaya guguran atau longsoran lava dan awan panas dari bagian selatan dan tenggara puncak kawah.

PVMBG mengeluarkan rekomendasi agar masyarakat Desa Jontona diungsikan ke daerah yang lebih aman. Namun begitu, berdasarkan hasil Rapat Terbatas Satuan Komando Penanganan Darurat Bencana di Lewoleba, Selasa (27/2) malam, mengambil langkah pengungsian mandiri dan terbatas, sembari terus memantau perkembangan aliran lava yang melaju mengarah ke selatan dan tenggara.

BPBD Lembata saat ini telah mengaktifkan posko siaga darurat yang berlokasi di kantor tersebut serta pengaktifan desa siaga bencana di Desa Jontona dan Todanara. Masyarakat diminta untuk tetap mengikuti perkembangan terkini dari Pos Pengamatan Gunung Api Ile Lewotolok.

Jeffry mengatakan potensi ancaman bahaya saat ini berkaitan dengan aliran lava dari Gunung Ile Lewotolok. Empat pengamat gunung api di Pos Pengamatan Ile Lewotolok pun mengoptimalkan segala metode pemantauan untuk mendapatkan data terkini sehingga bisa menjadi informasi bagi masyarakat. Tidak hanya mengamati data yang masuk ke pos, mereka pun memantau langsung dari lapangan.

Pos Pengamatan Gunung Api Ile Lewotolok selalu mengirimkan laporan per 24 jam saat status gunung itu berada pada Level II (Waspada). Namun, ritme kerja menjadi lebih intens ketika status gunung berada pada Level III (Siaga) yang mana laporan diberikan setiap enam jam.

Semakin naik status tingkat aktivitas gunung, maka koordinasi pun harus lebih sering dilakukan. Selain itu pemantauan juga lebih intens, karena semua itu berkaitan dengan data yang diolah.

Upaya pengurangan risiko bencana kini dimulai dari informasi yang akurat dari para pengamat gunung api. Sebagai garda terdepan, mereka berkewajiban memberikan laporan yang detail terkait gunung api agar ada rekomendasi yang tepat kepada masyarakat.

Di tengah ancaman erupsi saat ini, bagi Jeffry dan kawan-kawan yang menjadi pengamat gunung api adalah sebuah pekerjaan yang tidak hanya mengandalkan keterampilan fisik semata.

Salah satu hal yang menjadi pegangan Jeffry dan juga pengamat gunung api adalah kepekaan dan insting terhadap aktivitas gunung.

Baca juga: Artikel - Peran pengamat gunung api memitigasi bencana di Flores

Pengamat gunung api harus mampu mengetahui sifat dari gunung yang ia amati. Pengamat juga harus serius dalam memantau gunung api, karena semua perubahan dari karakter gunung itu harus dilaporkan kepada pihak-pihak terkait yang berwenang.

Baca juga: Artikel - Semburat emas di Mantar

“Pengamat gunung api harus mengenal karakter gunung yang diamatinya," ucap Jeffry yang saat ini mendapatkan amanah sebagai Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Ile Lewotolok Lembata.








Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Peran pengamat gunung api Lembata NTT di tengah ancaman erupsi

Pewarta : Fransiska Mariana Nuka
Editor : Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2024