AS desak selidiki serangan kepada warga Gaza yang sedang menunggu bantuan
Jumat, 1 Maret 2024 9:25 WIB
Arsip foto - Warga memajang poster dan tulisan dalam Aksi Damai Bela Palestina di kawasan Bundaran Digulis, Pontianak, Kalimantan Barat, Sabtu (13/1/2024). Aksi untuk memperingati 100 hari agresi dan genosida di Jalur Gaza itu dilakukan sebagai bentuk solidaritas dan kepedulian pada rakyat Palestina yang mengalami serangan militer Israel. ANTARA FOTO/Jessica Wuysang/nym. (Antara Foto/Jessica Wuysang)
Washington (ANTARA) - Gedung Putih pada Kamis (29/2) mendesak penyelidikan terhadap tindakan Israel yang menembaki ratusan warga Palestina yang tengah menunggu bantuan kemanusiaan di Jalur Gaza.
"Menurut kami, kejadian baru-baru ini harus diselidiki secara menyeluruh," demikian menurut Juru Bicara Gedung Putih Olivia Dalton dalam sebuah konferensi pers.
Ia menyebut, pihaknya sudah berkomunikasi dengan pemerintah Israel untuk mendapatkan informasi tentang hal-hal yang menyebabkan tragedi tersebut.
Kejadian itu, ucapnya, menegaskan lagi pentingnya memperluas bantuan kemanusiaan supaya sampai di Gaza.
"Tentu saja, kejadian di Gaza utara tersebut sangat memprihatinkan dan mengkhawatirkan karena nyawa manusia hilang secara tragis. Sudah terlalu banyak nyawa rakyat sipil yang hilang akibat operasi militer di Gaza," kata Dalton.
Juru bicara itu juga mengatakan bahwa Washington menghendaki Israel menjelaskan rencananya menjamin keamanan dasar di area operasinya.
"Karena hilangnya nyawa secara terus-menerus sangatlah memprihatinkan dan sangat, sangat tragis," kata dia.
Sementara itu, otoritas kesehatan Gaza mengkonfirmasi bahwa jumlah korban tewas akibat serangan pasukan Israel tersebut bertambah dari yang sebelumnya dilaporkan 104 orang menjadi 112 orang.
Serangan tersebut terjadi ketika ratusan warga Palestina yang tengah menunggu bantuan kemanusiaan di dekat daerah Dowar al-Nablusi di Kota Gaza tiba-tiba ditembaki oleh Israel.
Agresi militer Israel ke Gaza sejak 7 Oktober 2023 telah menewaskan sedikitnya 30.035 warga Palestina dan mencederai lebih dari 70.000 orang lainnya.
Israel juga melakukan blokade total terhadap Jalur Gaza sehingga menyebabkan warganya, khususnya yang bertahan di Gaza utara, terancam kelaparan.
PBB menyebut aksi Israel itu menyebabkan 85 persen penduduk Gaza terusir dari tempat tinggalnya, 60 persen infrastruktur Gaza rusak dan hancur, dan menyebabkan kelangkaan makanan, air bersih, dan obat-obatan yang parah.
Menanggapi tuntutan Afrika Selatan atas agresi militer Israel itu, Mahkamah Internasional mengeluarkan putusan awal pada 26 Januari yang memerintahkan Israel untuk berhenti melakukan genosida dan mengupayakan perbaikan kondisi kemanusiaan di Gaza.
Sumber: Anadolu
Baca juga: Inggris tolak rencana PM Israel untuk Gaza setelah perang
Baca juga: Tentara Israel lanjutkan serangan di Tepi Barat
Baca juga: Malaysia dan Jepang prihatin serangan Israel terhadap kota Rafah
Baca juga: Israel ingin pegang kendali militer di Gaza usai perang
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: AS desak serangan ke warga Gaza yang menunggu bantuan diselidiki
"Menurut kami, kejadian baru-baru ini harus diselidiki secara menyeluruh," demikian menurut Juru Bicara Gedung Putih Olivia Dalton dalam sebuah konferensi pers.
Ia menyebut, pihaknya sudah berkomunikasi dengan pemerintah Israel untuk mendapatkan informasi tentang hal-hal yang menyebabkan tragedi tersebut.
Kejadian itu, ucapnya, menegaskan lagi pentingnya memperluas bantuan kemanusiaan supaya sampai di Gaza.
"Tentu saja, kejadian di Gaza utara tersebut sangat memprihatinkan dan mengkhawatirkan karena nyawa manusia hilang secara tragis. Sudah terlalu banyak nyawa rakyat sipil yang hilang akibat operasi militer di Gaza," kata Dalton.
Juru bicara itu juga mengatakan bahwa Washington menghendaki Israel menjelaskan rencananya menjamin keamanan dasar di area operasinya.
"Karena hilangnya nyawa secara terus-menerus sangatlah memprihatinkan dan sangat, sangat tragis," kata dia.
Sementara itu, otoritas kesehatan Gaza mengkonfirmasi bahwa jumlah korban tewas akibat serangan pasukan Israel tersebut bertambah dari yang sebelumnya dilaporkan 104 orang menjadi 112 orang.
Serangan tersebut terjadi ketika ratusan warga Palestina yang tengah menunggu bantuan kemanusiaan di dekat daerah Dowar al-Nablusi di Kota Gaza tiba-tiba ditembaki oleh Israel.
Agresi militer Israel ke Gaza sejak 7 Oktober 2023 telah menewaskan sedikitnya 30.035 warga Palestina dan mencederai lebih dari 70.000 orang lainnya.
Israel juga melakukan blokade total terhadap Jalur Gaza sehingga menyebabkan warganya, khususnya yang bertahan di Gaza utara, terancam kelaparan.
PBB menyebut aksi Israel itu menyebabkan 85 persen penduduk Gaza terusir dari tempat tinggalnya, 60 persen infrastruktur Gaza rusak dan hancur, dan menyebabkan kelangkaan makanan, air bersih, dan obat-obatan yang parah.
Menanggapi tuntutan Afrika Selatan atas agresi militer Israel itu, Mahkamah Internasional mengeluarkan putusan awal pada 26 Januari yang memerintahkan Israel untuk berhenti melakukan genosida dan mengupayakan perbaikan kondisi kemanusiaan di Gaza.
Sumber: Anadolu
Baca juga: Inggris tolak rencana PM Israel untuk Gaza setelah perang
Baca juga: Tentara Israel lanjutkan serangan di Tepi Barat
Baca juga: Malaysia dan Jepang prihatin serangan Israel terhadap kota Rafah
Baca juga: Israel ingin pegang kendali militer di Gaza usai perang
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: AS desak serangan ke warga Gaza yang menunggu bantuan diselidiki
Pewarta : Nabil Ihsan
Editor : Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Menkop: PLTS skala mini mendukung Kopdes Merah Putih dan penyediaan listrik di desa
20 April 2026 16:12 WIB
Menkop: Kopdes merah putih akan dilengkapi dengan pos pengaduan perempuan dan anak
01 April 2026 7:39 WIB
KKP mendorong pembangunan 2 KNMP di Kupang untuk menggerakkan ekonomi pesisir
25 February 2026 22:42 WIB
Anggota DPR: Impor 105.000 unit mobil dari India kontras dengan komitmen Prabowo
21 February 2026 22:33 WIB
Terpopuler - Internasional
Lihat Juga
Menlu: Kapal Amerika Serikat di Selat Malaka merupakan bagian dari kebebasan navigasi
22 April 2026 16:21 WIB