Setiap Tahun Ikan Paus Terdampar Di Sabu
Rabu, 3 Oktober 2012 16:09 WIB
Kupang (Antara NTT) - Bupati Sabu Raijua, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Marthen Diratome mengatakan, setiap tahun selalu saja ada satu atau dua ekor ikan paus yang terdampar di Pantai Liea, Sabu Raijua.
"Setiap tahun selalu ada ikan paus yang terdampar, tetapi tahun ini jumlahnya terlalu banyak hingga mencapai 44 ekor," kata Dira Tome kepada ANTARA melalui telepon genggam, Rabu.
Pada Senin (1/10) sekitar pukul 20.00 WITA, 44 ekor paus biru terdampar di Pantai Liea, Kabupaten Sabu Raijua.
Ikan Paus yang masih kategori anak puas itu, semuanya mati karena tidak bisa tertolong oleh masyarakat yang bermukim di kawasan pantai itu.
Dia menjelaskan, saat mengetahui ikan-ikan paus itu terdampar di pantai, warga bersama aparat berusaha mengembalikannya ke lautan lepas, tetapi selalu kembali lagi ke laut dangkal dan terdampar di tepi pantai karena terbawa arus.
"Masyarakat berusaha berkali-kali tapi selalu gagal, karena ikan paus itu selalu kembali ke darat," paparnya.
Dia mengatakan, warga kemudian memotong ikan untuk dimakan karena tidak ingin dibiarkan mati dan membusuk di pantai.
Tanda alam
Bupati Diratome menambahkan, para tua-tua adat memandang terdamparnya ikan-ikan paus itu sebagai sebuah tanda alam yang bakal terjadi di Sabu Raijua.
Karena itu, para tua adat ingin melakukan rutual adat dan pemerintah mempersilakan para tua adat menggelar ritual.
Hanya saja, secara rasional terdamparnya ikan paus itu merupakan fenomena alam karena diduga arus laut yang kencang, sehingga mamalia laut itu terdampar di tepi pantai itu.
"Kalau di Kabupaten Alor, pada waktu tertentu banyak ikan mati karena arus laut yang berubah drastis, tetapi di Sabu, hanya ikan paus biru yang terdampar. Ini fenomena alam," ungkapnya.
"Setiap tahun selalu ada ikan paus yang terdampar, tetapi tahun ini jumlahnya terlalu banyak hingga mencapai 44 ekor," kata Dira Tome kepada ANTARA melalui telepon genggam, Rabu.
Pada Senin (1/10) sekitar pukul 20.00 WITA, 44 ekor paus biru terdampar di Pantai Liea, Kabupaten Sabu Raijua.
Ikan Paus yang masih kategori anak puas itu, semuanya mati karena tidak bisa tertolong oleh masyarakat yang bermukim di kawasan pantai itu.
Dia menjelaskan, saat mengetahui ikan-ikan paus itu terdampar di pantai, warga bersama aparat berusaha mengembalikannya ke lautan lepas, tetapi selalu kembali lagi ke laut dangkal dan terdampar di tepi pantai karena terbawa arus.
"Masyarakat berusaha berkali-kali tapi selalu gagal, karena ikan paus itu selalu kembali ke darat," paparnya.
Dia mengatakan, warga kemudian memotong ikan untuk dimakan karena tidak ingin dibiarkan mati dan membusuk di pantai.
Tanda alam
Bupati Diratome menambahkan, para tua-tua adat memandang terdamparnya ikan-ikan paus itu sebagai sebuah tanda alam yang bakal terjadi di Sabu Raijua.
Karena itu, para tua adat ingin melakukan rutual adat dan pemerintah mempersilakan para tua adat menggelar ritual.
Hanya saja, secara rasional terdamparnya ikan paus itu merupakan fenomena alam karena diduga arus laut yang kencang, sehingga mamalia laut itu terdampar di tepi pantai itu.
"Kalau di Kabupaten Alor, pada waktu tertentu banyak ikan mati karena arus laut yang berubah drastis, tetapi di Sabu, hanya ikan paus biru yang terdampar. Ini fenomena alam," ungkapnya.
Pewarta :
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
KPK membawa koper biru berisi bukti penetapan tersangka Hasto Kristiyanto
10 February 2025 11:07 WIB, 2025
Artikel - Mendukung swasembada pangan lewat pemanfaatan pangan biru
01 November 2024 12:00 WIB, 2024
Artikel - Menjaga ekosistem laut dan pesisir Indonesia dengan ekonomi biru
21 May 2024 19:00 WIB, 2024
Pertamina uji cobakan program Langit Biru di 71 SPBU NTT untuk lingkungan lebih baik
04 May 2024 10:38 WIB, 2024
Presiden Jokowi perintahkan PSSI buat peta biru sepak bola setelah bertemu FIFA
31 March 2023 15:56 WIB, 2023
Terpopuler - Daerah
Lihat Juga
Kemenag mempercepat implementasi wajib halal di Kabupaten Sumba Timur NTT
11 February 2026 13:59 WIB
Undana dan GMIT kolaborasi perkuat ketahanan pangan dan pendidikan di NTT
09 February 2026 19:20 WIB
BMKG mengimbau warga pesisir NTT waspadai potensi rob pada 5-7 Februari 2026
05 February 2026 11:29 WIB