Ketua KPU Lembata Dianiaya
Kamis, 11 Mei 2017 14:20 WIB
Ketua KPU Nusa Tenggara Timur Maryanti Luturmas Adoe
Kupang (Antara NTT) - Komisi Pemiliham Umum Provinsi Nusa Tenggara Timur menyesalkan tindakan penganiayaan terhadap Ketua KPU Lembata Petrus Payong Pati oleh kuasa hukum satu pasangan calon bupati Lembata 2017-2022.
"Kami mengutuk keras tindakan penganiayaan tersebut dan meminta aparat keamanan mengusut tuntas kasus ini, dan mengambil tindakan tegas untuk menghukum tersangka pelaku agat tidak terjadi kasus serupa di kemudian hari," kata Ketua KPU Provinsi NTT Maryanti Luturmas Adoe, di Kupang, Kamis.
Ketua KPU Lembata Petrus Payong Pati dianiaya oleh Melky Pranata Koedoeboen, kuasa hukum dari pasangan Herman Wutun-Viani Burin, salah satu pasangan calon bupati Lembata yang gagal usai sidang di Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP), Rabu (10/5).
"Dari foto yang dikirim dari KPU Lembata, mulut Petrus mengalami luka memar dan mengeluarkan darah," katanya menjelaskan.
Dia mengatakan, pemukulan tersebut tidak patut dilakukan oleh pekerja hukum. Tindakan ini sangat melukai perasaan KPU sebagai lembaga pegiat demokrasi.
KPU kata dia, mengutuk keras tindakan penganiayaan kepada ketua KPU Lembata dan minta aparat keamanan mengusut tuntas kasus ini.
Menurut dia, KPU NTT dan KPU Kabupaten dan Kota se-NTT akan terus melakukan pengawalan terhadap kasus ini sampai tuntas.
Dia juga mengajak semua pihak untuk menghormati hasil Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati 2017 di Lembata.
Secara terpisah, Melky Pranata Koedoeboen kepada wartawan mengakui telah memukul Petrus Payong Pati.
"Iya, saya pukul. Itu spontanitas. Tidak ada perintah dari Pak Herman atau Pak Vian," ujarnya.
"Saya mau salaman sama dia, tetapi dia (kasih tangan) dari samping. Itu saya tersinggung. Orang tidak tau sopan santun namanya itu. Buka CCTV juga boleh, bisa dilihat. Saya kan panggil, `Pak Ketua, saya mau salaman. Tetapi, dia salaman menyamping," katanya.
Karena memberi salaman dari samping itulah, kata Melky ia pun melayangkan pukulan ke Petrus Payong.
"Saya tersinggung dong. Coba kalau situ posisinya di saya, seperti apa. Saya mengajak salaman, saya panggil pak ketua, mau salaman, malah kasih tangan dari samping. Itu tidak sopan namanya. Kita nakal, tetapi nakal yang berpendidikanlah, nakal yang terpimpin," katanya menambahkan.
"Kami mengutuk keras tindakan penganiayaan tersebut dan meminta aparat keamanan mengusut tuntas kasus ini, dan mengambil tindakan tegas untuk menghukum tersangka pelaku agat tidak terjadi kasus serupa di kemudian hari," kata Ketua KPU Provinsi NTT Maryanti Luturmas Adoe, di Kupang, Kamis.
Ketua KPU Lembata Petrus Payong Pati dianiaya oleh Melky Pranata Koedoeboen, kuasa hukum dari pasangan Herman Wutun-Viani Burin, salah satu pasangan calon bupati Lembata yang gagal usai sidang di Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP), Rabu (10/5).
"Dari foto yang dikirim dari KPU Lembata, mulut Petrus mengalami luka memar dan mengeluarkan darah," katanya menjelaskan.
Dia mengatakan, pemukulan tersebut tidak patut dilakukan oleh pekerja hukum. Tindakan ini sangat melukai perasaan KPU sebagai lembaga pegiat demokrasi.
KPU kata dia, mengutuk keras tindakan penganiayaan kepada ketua KPU Lembata dan minta aparat keamanan mengusut tuntas kasus ini.
Menurut dia, KPU NTT dan KPU Kabupaten dan Kota se-NTT akan terus melakukan pengawalan terhadap kasus ini sampai tuntas.
Dia juga mengajak semua pihak untuk menghormati hasil Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati 2017 di Lembata.
Secara terpisah, Melky Pranata Koedoeboen kepada wartawan mengakui telah memukul Petrus Payong Pati.
"Iya, saya pukul. Itu spontanitas. Tidak ada perintah dari Pak Herman atau Pak Vian," ujarnya.
"Saya mau salaman sama dia, tetapi dia (kasih tangan) dari samping. Itu saya tersinggung. Orang tidak tau sopan santun namanya itu. Buka CCTV juga boleh, bisa dilihat. Saya kan panggil, `Pak Ketua, saya mau salaman. Tetapi, dia salaman menyamping," katanya.
Karena memberi salaman dari samping itulah, kata Melky ia pun melayangkan pukulan ke Petrus Payong.
"Saya tersinggung dong. Coba kalau situ posisinya di saya, seperti apa. Saya mengajak salaman, saya panggil pak ketua, mau salaman, malah kasih tangan dari samping. Itu tidak sopan namanya. Kita nakal, tetapi nakal yang berpendidikanlah, nakal yang terpimpin," katanya menambahkan.
Pewarta : Bernadus Tokan
Editor : Laurensius Molan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
KPK: Dugaan korupsi di KPU dan gas air mata Polri belum naik ke penyelidikan
21 November 2025 12:07 WIB
Ketua Komisi II DPR mengingatkan kasus jet pribadi harus jadi pelajaran bagi KPU
29 October 2025 14:20 WIB
Komisi II DPR meminta KPU mengklarifikasi soal rahasiakan data diri capres
16 September 2025 13:08 WIB
Menelisik dokumen capres yang dikecualikan KPU dan peluang uji materi ke Mahkamah Agung
16 September 2025 12:13 WIB
KPU menetapkan 16 dokumen syarat capres-cawapres yang tidak bisa dibuka ke publik
15 September 2025 14:18 WIB, 2025
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto divonis 3,5 tahun penjara terbukti terlibat suap anggota KPU
25 July 2025 17:54 WIB, 2025