NTT kehilangan tokoh lintas zaman
Senin, 18 Mei 2020 18:14 WIB
EP da Gomez (kedua dari kiri) pada usianya ke 79 tahun, EP da Gomez meluncurkan buku ke-29 berjudul "Memaknai Nilai Ketokohan dan Kepemimpinan," yang mengupas cerita sekilas tentang Frans Seda, VB da Costa, Ben Mang Reng Say, P.S. da Cunha, dan Laurentius Say. (ANTARA/HO-Istimewa)
Kupang (ANTARA) - Politisi PDI Perjuangan Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Kolfidus mengatakan, NTT kehilangan seorang politisi lintas zaman dengan wafatnya EP da Gomez di Maumere, Flores pada usia 79 tahun, Senin, (18/5).
"Semasa hidupnya, EP da Gomez adalah pribadi dan lebih khusus politisi lintas zaman," kata Emanuel Kolfidus kepada ANTARA di Kupang, Senin, (18/5).
Baca juga: PDIP NTT prihatin mahalnya biaya rapid test mandiri
Baca juga: PDIP tetap membangun solidaritas di tengah pandemi COVID-19
Menurut dia, almarhum adalah pribadi yang teguh dalam prinsip, keras dalam sikap, namun bersahabat dalam politik dan fair dalam berdemokrasi.
Dia mengatakan, amarhum adalah figus yang selalu dekat dengan orang muda, menjadi teman diskusi yang hangat dan motivator ulung.
"Ia politisi sekaligus penulis otodidak yang luar biasa, bahkan dirinya bisa disebut sebagai buku sejarah Kabupaten Sikka bahkan NTT," kata Emanuel Kolfidus yang mengaku banyak belajar politik dari almarhum.
Almarhum menurut dia, sangat tekun mengumpulkan perjalanan sejarah, secara rinci, tuntun dan lengkap, lalu menuangkan dalam berbagai buku.
"Kabupaten Sikka dan NTT kehilangan seorang tokoh politik lintas zaman," kata Emanuel Kolfidus.
Pada usianya ke 79 tahun, EP da Gomez meluncurkan buku ke-29 berjudul "Memaknai Nilai Ketokohan dan Kepemimpinan," yang mengupas cerita sekilas tentang Frans Seda, VB da Costa, Ben Mang Reng Say, P.S. da Cunha, dan Laurentius Say.
Buku pertamanya berjudul, PDI, Pemilu dan DPRD Kabupaten Sikka.
"Semasa hidupnya, EP da Gomez adalah pribadi dan lebih khusus politisi lintas zaman," kata Emanuel Kolfidus kepada ANTARA di Kupang, Senin, (18/5).
Baca juga: PDIP NTT prihatin mahalnya biaya rapid test mandiri
Baca juga: PDIP tetap membangun solidaritas di tengah pandemi COVID-19
Menurut dia, almarhum adalah pribadi yang teguh dalam prinsip, keras dalam sikap, namun bersahabat dalam politik dan fair dalam berdemokrasi.
Dia mengatakan, amarhum adalah figus yang selalu dekat dengan orang muda, menjadi teman diskusi yang hangat dan motivator ulung.
"Ia politisi sekaligus penulis otodidak yang luar biasa, bahkan dirinya bisa disebut sebagai buku sejarah Kabupaten Sikka bahkan NTT," kata Emanuel Kolfidus yang mengaku banyak belajar politik dari almarhum.
Almarhum menurut dia, sangat tekun mengumpulkan perjalanan sejarah, secara rinci, tuntun dan lengkap, lalu menuangkan dalam berbagai buku.
"Kabupaten Sikka dan NTT kehilangan seorang tokoh politik lintas zaman," kata Emanuel Kolfidus.
Pada usianya ke 79 tahun, EP da Gomez meluncurkan buku ke-29 berjudul "Memaknai Nilai Ketokohan dan Kepemimpinan," yang mengupas cerita sekilas tentang Frans Seda, VB da Costa, Ben Mang Reng Say, P.S. da Cunha, dan Laurentius Say.
Buku pertamanya berjudul, PDI, Pemilu dan DPRD Kabupaten Sikka.
Pewarta : Bernadus Tokan
Editor : Kornelis Aloysius Ileama Kaha
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Galeri Indonesia Kaya perkenalkan alat musik NTT melalui Sasando Rhapsody
16 July 2023 8:59 WIB, 2023
Terpopuler - Politik & Hukum
Lihat Juga
Menteri PPPA: Penanganan kasus kekerasan seksual harus berperspektif korban
15 February 2026 11:04 WIB
KPK mendalami kaitan rangkap jabatan Mulyono dengan kasus restitusi pajak
15 February 2026 11:01 WIB
Presiden Prabowo: Kami tahu ada yang mengganggu Indonesia, kami tidak bodoh
14 February 2026 8:24 WIB
Eks Dirut PT PIS dituntut 14 tahun penjara pada kasus dugaan korupsi minyak
14 February 2026 8:16 WIB
Anak Riza Chalid dituntut 18 tahun penjara pada kasus dugaan korupsi minyak
14 February 2026 8:14 WIB
Gubernur NTT menegaskan proses hukum pihak memanipulasi data warga miskin
13 February 2026 18:36 WIB