AS kutuk serangan terhadap pers di Haiti
Kamis, 1 Juli 2021 9:27 WIB
Seorang pria melempar tabung gas air mata balik ke arah polisi saat protes terhadap Presiden Haiti Jovenel Moise di Port-au-Prince, Haiti, Rabu (10/2/2021). ANTARA FOTO/REUTERS/Jeanty Junior Agustin/WSJ/cfo
Port-Au-Prince (ANTARA) - Amerika Serikat pada Rabu (30/6) mengutuk apa yang digambarkannya sebagai pelanggaran sistematis terhadap hak asasi manusia, kebebasan mendasar dan serangan terhadap pers di Haiti, seraya mendesak pemerintah untuk melawan maraknya geng dan kekerasan. .
Kekerasan telah meningkat di negara Karibia yang miskin itu saat geng-geng yang bersaing bertempur satu sama lain dan polisi untuk menguasai jalan-jalan, menggusur ribuan orang dan memperburuk krisis kemanusiaan.
Pada Selasa (29/6) malam, sedikitnya 15 orang tewas sebagai pembalasan atas pembunuhan anggota serikat polisi Guerby Geffrard, kata Leon Charles, direktur jenderal kepolisian nasional, pada konferensi pers. Di antara mereka yang tewas adalah dua wartawan.
"Amerika Serikat sangat prihatin dengan hilangnya nyawa dan ketidakamanan umum sebagai akibat dari kekerasan terkait geng," kata kedutaan AS di Haiti di Twitter.
"Kekerasan, korupsi dan impunitas telah menghambat tujuan pembangunan Haiti dan aspirasi rakyat Haiti untuk kehidupan yang lebih baik."
Baca juga: China kecam transit kapal perang AS di Selat Taiwan
Baca juga: Wamenlu RI-AS bahas kerja sama penanganan COVID
Kelompok bersenjata telah menjadi semakin kuat di Haiti dalam beberapa tahun terakhir karena kerusuhan politik, meningkatnya kemiskinan dan rasa impunitas, demikian organisasi hak asasi seperti Pusat Analisis dan Penelitian Hak Asasi Manusia nirlaba mengatakan.
Pemilu yang dijadwalkan pada September bisa menjadi faktor meningkatnya kekerasan terhadap polisi baru-baru ini, yang tidak diperlengkapi senjata memadai untuk menghadapi anggota geng yang telah memperoleh senjata yang semakin canggih. (Reuters)
Kekerasan telah meningkat di negara Karibia yang miskin itu saat geng-geng yang bersaing bertempur satu sama lain dan polisi untuk menguasai jalan-jalan, menggusur ribuan orang dan memperburuk krisis kemanusiaan.
Pada Selasa (29/6) malam, sedikitnya 15 orang tewas sebagai pembalasan atas pembunuhan anggota serikat polisi Guerby Geffrard, kata Leon Charles, direktur jenderal kepolisian nasional, pada konferensi pers. Di antara mereka yang tewas adalah dua wartawan.
"Amerika Serikat sangat prihatin dengan hilangnya nyawa dan ketidakamanan umum sebagai akibat dari kekerasan terkait geng," kata kedutaan AS di Haiti di Twitter.
"Kekerasan, korupsi dan impunitas telah menghambat tujuan pembangunan Haiti dan aspirasi rakyat Haiti untuk kehidupan yang lebih baik."
Baca juga: China kecam transit kapal perang AS di Selat Taiwan
Baca juga: Wamenlu RI-AS bahas kerja sama penanganan COVID
Kelompok bersenjata telah menjadi semakin kuat di Haiti dalam beberapa tahun terakhir karena kerusuhan politik, meningkatnya kemiskinan dan rasa impunitas, demikian organisasi hak asasi seperti Pusat Analisis dan Penelitian Hak Asasi Manusia nirlaba mengatakan.
Pemilu yang dijadwalkan pada September bisa menjadi faktor meningkatnya kekerasan terhadap polisi baru-baru ini, yang tidak diperlengkapi senjata memadai untuk menghadapi anggota geng yang telah memperoleh senjata yang semakin canggih. (Reuters)
Pewarta : Mulyo Sunyoto
Editor : Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Dinas P3AP2KB: Kekerasan seksual mendominasi kasus terhadap anak di NTT pada 2025
11 February 2026 7:20 WIB
Menkum: Keadilan restoratif bukan untuk perkara korupsi dan kekerasan seksual
06 January 2026 9:20 WIB
DP3AP2KB NTT memperkuat deteksi dini dan cegah kekerasan anak disabilitas
05 December 2025 17:07 WIB
Terpopuler - Internasional
Lihat Juga
Militer AS mulai menempatkan rudal Patriot pada truk peluncur di pangkalan udara Qatar
11 February 2026 13:43 WIB
Duta Besar Iran menilai AS tidak layak pimpin inisiatif perdamaian di Gaza
11 February 2026 7:45 WIB
Indonesia ingin perkuat kerja sama dengan Iran dalam pemberdayaan perempuan
11 February 2026 7:38 WIB