Kupang (AntaraNews NTT) - Sebanyak 14 bandara aktif di Nusa Tenggara Timur belum dilengkapi dengan alat pendeteksi narkotika dan obat-obatan berbahaya (narkoba), sehingga berpotensi dijadikan sebagai sarana untuk menyebar barang-barang mematikan itu.

"Bandara El Tari Kupang pun belum dilengkapi alat pendeteksi narkoba, sehingga kami perlu bekerja ekstra untuk mendeteksi dan memberantasnya," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat BNNP Nusa Tenggara Timur Yos Gadhi di Kupang, Jumat (23/3).

Ia mengemukakan hal tersebut terkait fasilitas pendukung upaya BNNP NTT dalam melakukan pencegahan dan pemberantasan, penyalahgunaan, dan peredaran gelap narkoba (P4GN) di daerah setempat.

Menurutnya, tidak hanya alat pendeteksi narkoba yang belum terpasang di bandara, namun petugas khusus yang ditempatkan di titik pintu kedatangan pesawat untuk melakukan pendeteksian, juga belum ada.

Selain bandara, lanjutnya, pelabuhan-pelabuhan laut di provinsi berbasiskan kepulaun ini maupun sejumlah titik pintu perbatasan antanegeara dengan Timor Leste juga belum dilengkapi dengan alat pendeteksi narkoba dan petugas.

Namun untuk upaya P4GN, pihaknya bekerja sama dengan aparat keamanan maupun instansi terkait di pintu masuk seperti di bandara, pelabuhan, dan juga pos perbatasan negara.

Baca juga: BNNP bentuk komunitas media daring antinarkoba
Baca juga: Peredaran narkoba di NTT melalui jalur laut Dirnarkoba Polda NTT Kombes Pol Viktor Sihombing (tengah) sedang menunjukkan sejumlah barang bukti berupa dua paket sabu-sabu dan sejumlah barang bukti lainnya yang diperoleh dari dua pengguna shabu di Kupan
(ANTARA Foto/Kornelis Kaha) "Seperti titik-titik pos perbatasan negara dengan Timor Leste di Pulau Timor kami sudah bekerja sama dengan pihak imigrasi maupun aparat TNI-Polri yang ada di sana," katanya.

Menurutnya, upaya P4GN saat ini cukup terbantu dengan adanya kendaraan X-Ray yang siaga di kantor BNNP NTT dan siap dioperasikan secara mobile di Pulau Timor.

Para petugas BNNP, katanya, juga didukung dengan perlengkapan keamanan berupa belasan pucuk senjata api dan peluru berpesifikasi khusus.

BNNP NTT, lanjut Gadhi, juga mendapatkan jatah dua ekor anjing pelacak yang didatangkan dari Belanda yang masih dalam tahap persiapan.

"Aspek pendukung seperti pawang dan kandang untuk anjing pelacak masih dalam proses persiapan, selain itu biaya operasionalnya juga mahal sehingga belum diadakan," katanya.

Ia menambahkan, jumlah penyalahgunaan narkoba di provinsi setempat terkoreksi menurun, namun daerah ini tetap rawan dari peredaran gelap narkoba dengan wilayah provinsi yang luas dan bercirikan kepulauan yang terdiri dari 22 kabupaten/kota.

Pihaknya mencatat, jumlah pengguna narkoba di provinsi ini mencapai 36.022 orang atau sebanyak 0,9 persen dari jumlah penduduk usia 10-59 tahun, atau terkoreksi menurun dari 2016 sebanyak 49.000 orang.

Baca juga: Narkoba di NTT mulai turun Bandara Komodo di Labuan Bajo, Manggarai Barat. (ANTARA Foto/dok)

Pewarta : Aloysius Lewokeda
Editor : Laurensius Molan
Copyright © ANTARA 2024