Kupang (Antara NTT) - Deputi Bidang Partisipasi Masyarakat Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Agustina Erni mengatakan fenomena perilaku mengkonsumsi obat komix (ngomix) dan menghirup lem (ngelem) di kalangan generasi muda kian marak dan meresahkan.
"Kebiasaan anak yang memakai "ngomix dan ngelem" makin meresahkan dan menimbulkan kecanduan," katanya saat dihubungi Antara di sela-sela kegiatan Partisipasi Publik untuk Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PUSPA 2016) di Kupang, Rabu.
Dia mengatakan, pihaknya menemukan banyak fenomena perilaku tersebut di berbagai daerah yang dikunjungi, dan menurut dia, tidak menutup kemungkinan dilakukan oleh anak-anak atau pelajar.
Erni yang didampingi Kepala Biro Pemberdayaan Perempuan dan Anak NTT Erni Usbuko mengatakan, obat batuk komix dan lem dengan merk tertentu bisa menimbulkan kecanduan jika dikonsumsi secara berlebihan.
"Satu anak kalau minum tujuh saset komix bisa mabuk, dan kalau "ngelem" itu biasanya ditumpahkan di atas kertas lalu dihisap sampai mabuk," katanya.
Hal ini, katanya bisa berdampak pada kecanduan yang jika dilakukan terus-menerus akan berdampak buruk bagi perkembangan generasi muda.
Dia mengatakan perilaku seperti ini bisa mengalami kenaikan kelas dari konsumsi komix dan lem, kemudian salah menggunakan obat-obatan di apotek, hingga konsumsi narkotika dan obat-obat terlarang (narkoba).
"Jika sudah kecanduhan maka generasi muda kita bisa menjadi target dari para pelaku bandar narkoba," katanya.
Untuk itu, dalam pertemuan bersama tokoh agama, tokoh adat dan masyarakat, LSM, dan BPPPA provinsi maupun kabupaten itu, Erni mengimbau agar semua pihak mengawal perilaku anak-anak agar terhindar dari pengaruh barang-barang tersebut.
Selain itu, dia menambahkan, saat ini perilaku kekerasan pun semakin marak terjadi tidak hanya orang dewasa kepada anak namun juga anak dengan anak.
"Masalah kekerasan baik kepada perempuan maupun anak-anak juga sangat kompleks untuk itu butuh peran dari semua stakeholder untuk melakukan penanganan dan edukasi," katanya.
Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KBPPPA) Nusa Tenggara Timur Erni Usboko menambahakan salah satu faktor pemicuh kekerasan kepada perempuan dan anak-anak yakni ekonomi.
Untuk itu, lanjut dia, pemberdayaan terhadap perempuan dan anak-anak menjadi salah satu jalan untuk mengurangi tindakan kekerasan.
"Kita terus menerus memberikan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat untuk membangun pemahaman terhadap hak-hak perempuan dan anak-anak yang harus dilindungi," katanya.
Dia pun berharap agar semua pihak yang hadir dalam kegiatan partisipasi publik itu bisa menjadi mitra dalam upaya penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak yang rentan di daerah setempat.
"Kebiasaan anak yang memakai "ngomix dan ngelem" makin meresahkan dan menimbulkan kecanduan," katanya saat dihubungi Antara di sela-sela kegiatan Partisipasi Publik untuk Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PUSPA 2016) di Kupang, Rabu.
Dia mengatakan, pihaknya menemukan banyak fenomena perilaku tersebut di berbagai daerah yang dikunjungi, dan menurut dia, tidak menutup kemungkinan dilakukan oleh anak-anak atau pelajar.
Erni yang didampingi Kepala Biro Pemberdayaan Perempuan dan Anak NTT Erni Usbuko mengatakan, obat batuk komix dan lem dengan merk tertentu bisa menimbulkan kecanduan jika dikonsumsi secara berlebihan.
"Satu anak kalau minum tujuh saset komix bisa mabuk, dan kalau "ngelem" itu biasanya ditumpahkan di atas kertas lalu dihisap sampai mabuk," katanya.
Hal ini, katanya bisa berdampak pada kecanduan yang jika dilakukan terus-menerus akan berdampak buruk bagi perkembangan generasi muda.
Dia mengatakan perilaku seperti ini bisa mengalami kenaikan kelas dari konsumsi komix dan lem, kemudian salah menggunakan obat-obatan di apotek, hingga konsumsi narkotika dan obat-obat terlarang (narkoba).
"Jika sudah kecanduhan maka generasi muda kita bisa menjadi target dari para pelaku bandar narkoba," katanya.
Untuk itu, dalam pertemuan bersama tokoh agama, tokoh adat dan masyarakat, LSM, dan BPPPA provinsi maupun kabupaten itu, Erni mengimbau agar semua pihak mengawal perilaku anak-anak agar terhindar dari pengaruh barang-barang tersebut.
Selain itu, dia menambahkan, saat ini perilaku kekerasan pun semakin marak terjadi tidak hanya orang dewasa kepada anak namun juga anak dengan anak.
"Masalah kekerasan baik kepada perempuan maupun anak-anak juga sangat kompleks untuk itu butuh peran dari semua stakeholder untuk melakukan penanganan dan edukasi," katanya.
Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KBPPPA) Nusa Tenggara Timur Erni Usboko menambahakan salah satu faktor pemicuh kekerasan kepada perempuan dan anak-anak yakni ekonomi.
Untuk itu, lanjut dia, pemberdayaan terhadap perempuan dan anak-anak menjadi salah satu jalan untuk mengurangi tindakan kekerasan.
"Kita terus menerus memberikan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat untuk membangun pemahaman terhadap hak-hak perempuan dan anak-anak yang harus dilindungi," katanya.
Dia pun berharap agar semua pihak yang hadir dalam kegiatan partisipasi publik itu bisa menjadi mitra dalam upaya penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak yang rentan di daerah setempat.