La Nina Masih Lemah
Rabu, 7 Desember 2016 17:35 WIB
La Nina masih lemah
Kupang (Antara NTT) - Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Lasiana Kupang Lasiana Kupang Apolinaris Geru mengatakan, hingga awal Desember 2016, kondisi global masih menunjukkan gejala La Nina Lemah (weak nina).
Selain itu, suhu muka laut di perairan Indonesia (termasuk NTT) terpantau lebih hangat dari rata-ratanya, sehingga dapat menambah suplai uap air di atmosfer untuk pembentukan awan penghujan, kata Apolinaris Geru menjawab Antara di Kupang, Rabu, terkait antisipasi cuaca ekstrim La Nina.
Fenomena cuaca akstrim La Nina, yang antara lain menimbulkan curah hujan tinggi sudah terjadi di Tanah Air, dan pengaruhnya bisa berbeda-beda di setiap daerah, termasuk di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Cuaca akstrim yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia saat ini tidak tertutup kemungkinan terjadi juga di wilayah NTT.
"Berdasarkan hasil monitoring, sampai awal Desember 2016, kondisi global masih menunjukkan La Nina lemah (weak nina)," katanya.
Menurut dia, Monsun Asia (yg bersifat basah karena membawa banyak uap air), jadi sudah mulai aktif berhembus.
Kondisi dinamis atmosfer tersebut diatas memberi signal bahwa di sebagian besar NTT telah dan akan memasuki awal musim hujan 2016/2017, katanya menjelaskan.
Mengenai musim hujan, dia mengatakan, sebagian zona musim di wilayah Nusa Tenggara Timur telah memasuki awal musim hujan.
"Berdasarkan analisis terhadap data hujan dari pos kerja sama se-NTT yang kami terima, sampai dengan akhir November 2016, dan kondisi cuaca hingga awal Desember 2016, diketahui bahwa sebagian besar zona musim di NTT telah memasuki awal musim hujan 2016/2017," katanya.
Khusus untuk wilayah Ende atau Flores bagian tengah, mulai pekan lalu sudah memasuki awal musim hujan, katanya menjelaskan.
Kecuali wilayah Flores bagian Timur seperti Maumere dan Flores Timur, yang diprediksi akan memasuki awal musim hujan pada akhir Desember 2016.
Tentang curah hujan, dia mengatakan, berdasarkan prakiraan curah hujan dasarian I Desember 2016, pada umumnya wilayah NTT mengalami curah hujan berkisar 20-100 milimeter (mm) sebesar 70-90 persen.
Namun, kata dia untuk peluang curah hujan 100 milimeter sebesar 20-80 persen dan peluang curah hujan 150 milimeter sebesar 10-60 persen.
Selain itu, suhu muka laut di perairan Indonesia (termasuk NTT) terpantau lebih hangat dari rata-ratanya, sehingga dapat menambah suplai uap air di atmosfer untuk pembentukan awan penghujan, kata Apolinaris Geru menjawab Antara di Kupang, Rabu, terkait antisipasi cuaca ekstrim La Nina.
Fenomena cuaca akstrim La Nina, yang antara lain menimbulkan curah hujan tinggi sudah terjadi di Tanah Air, dan pengaruhnya bisa berbeda-beda di setiap daerah, termasuk di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Cuaca akstrim yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia saat ini tidak tertutup kemungkinan terjadi juga di wilayah NTT.
"Berdasarkan hasil monitoring, sampai awal Desember 2016, kondisi global masih menunjukkan La Nina lemah (weak nina)," katanya.
Menurut dia, Monsun Asia (yg bersifat basah karena membawa banyak uap air), jadi sudah mulai aktif berhembus.
Kondisi dinamis atmosfer tersebut diatas memberi signal bahwa di sebagian besar NTT telah dan akan memasuki awal musim hujan 2016/2017, katanya menjelaskan.
Mengenai musim hujan, dia mengatakan, sebagian zona musim di wilayah Nusa Tenggara Timur telah memasuki awal musim hujan.
"Berdasarkan analisis terhadap data hujan dari pos kerja sama se-NTT yang kami terima, sampai dengan akhir November 2016, dan kondisi cuaca hingga awal Desember 2016, diketahui bahwa sebagian besar zona musim di NTT telah memasuki awal musim hujan 2016/2017," katanya.
Khusus untuk wilayah Ende atau Flores bagian tengah, mulai pekan lalu sudah memasuki awal musim hujan, katanya menjelaskan.
Kecuali wilayah Flores bagian Timur seperti Maumere dan Flores Timur, yang diprediksi akan memasuki awal musim hujan pada akhir Desember 2016.
Tentang curah hujan, dia mengatakan, berdasarkan prakiraan curah hujan dasarian I Desember 2016, pada umumnya wilayah NTT mengalami curah hujan berkisar 20-100 milimeter (mm) sebesar 70-90 persen.
Namun, kata dia untuk peluang curah hujan 100 milimeter sebesar 20-80 persen dan peluang curah hujan 150 milimeter sebesar 10-60 persen.
Pewarta : Bernadus Tokan
Editor : Laurensius Molan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
BMKG sebur La Nina melemah picu peningkatan curah hujan hingga bulan November
31 August 2022 21:24 WIB, 2022
BMKG ingatkan dampak curah hujan tinggi di Ende, Sikka, dan Nagekeo
23 November 2021 15:06 WIB, 2021
Wabup Payong Boli imbau warga area lereng evakuasi saat hujan panjang
19 November 2021 10:45 WIB, 2021
BMKG ingatkan masyarakat waspada potensi hujan lebat disertai angin kencang
04 November 2021 7:28 WIB, 2021
Terpopuler - Ekonomi
Lihat Juga
Pemkot Kupang memacu PAD dan program prioritas lewat Perubahan APBD 2026
26 September 2026 15:06 WIB
BI mencermati fasilitas kredit Rp2.500 T belum cair, permintaan bayar meningkat
25 September 2026 4:26 WIB