Kupang (ANTARA) - Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Abdul Kadir Karding mengatakan setiap calon pekerja migran Indonesia (PMI) yang ingin bekerja di luar negeri wajib memiliki keterampilan yang mumpuni.
"Penyebab pekerja migran Indonesia mengalami kekerasan, eksploitasi, dan human traficking karena berangkat secara non-prosedural dan tidak memiliki keterampilan kerja yang mumpuni," katanya di Kupang, Kamis.
Dia mengatakan hal itu setelah melakukan penandatanganan nota kesepahaman antara Menteri P2MI dengan Gubernur NTT tentang pelindungan pekerja migran berasal dari NTT di Lobi Gedung Sasando Kantor Gubernur NTT di Kota Kupang.
Pasalnya, banyak kasus PMI berasal dari NTT yang berangkat ke luar negeri secara non-prosedural menjadi korban penganiayaan majikan di luar negeri, kemudian kembali ke daerah itu dengan tubuh tidak bernyawa.
Selain masalah minim keterampilan, katanya, calon PMI non-prosedural juga minim pengetahuan tentang bahasa dan budaya negara tujuan.
"Ada beberapa negara yang memang tidak butuh belajar bahasa, seperti Malaysia, hanya butuh keterampilan saja," ujar dia.
Namun, ujar dia, jika memilih bekerja di Jepang, calon pekerja migran wajib dibekali dengan keterampilan, belajar bahasa Jepang, serta budaya negeri itu.
Untuk memastikan pelindungan PMI di luar negeri, dirinya meminta kerja sama dan kolaborasi semua pemangku kepentingan terkait dengan ketenagakerjaan.
Menteri Abdul Kadir mendorong pemerintahan tingkat desa membuat peraturan desa tentang pelindungan pekerja migran.
Hal ini, katanya, penting supaya pemerintah desa terlibat bersama masyarakat dalam membangun ekosistem penempatan tenaga kerja.
Untuk mendukung dan mencegah banyak kasus PMI nonprosedural, Kementerian P2MI ingin menghadirkan Migran Center dan Class of Migran di daerah.
Tujuan lainnya, mendekatkan pelayanan informasi, memberikan pelatihan, dan persiapan kerja bagi para calon pekerja migran di daerah.
Terkait dengan peluang kerja di luar negeri, ia menyebut sebagai besar dan terbuka untuk semua, sejauh memenuhi kualifikasi yang dipersyaratkan negara tujuan.
"Peluang kerja di luar negeri itu besar. Banyak lulusan sarjana dan SMA yang nganggur saat ini, tentu ini harus dicarikan solusinya," ujarnya.
Dia mengatakan bahwa menjadi pekerja migran bisa jadi salah satu solusi peluang kerja mengingat kebutuhan tenaga kerja terampil yang cukup tinggi disertai gaji menjanjikan.

