Kupang (ANTARA) - Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur menggandeng sejumlah universitas luar negeri membahas tentang ilmu kedokteran hewan dan manusia.
Rektor Undana Kupang Maxs Sanam di Kupang, Selasa, mengatakan pembahasan itu disatukan dalam seminar internasional dengan tema "Evidence-Based Approached in One Health: Bridging Human, Animal, and Pharmaceutical Science”.
“Konferensi ilmiah dengan melibatkan para ilmuwan dari universitas terkemuka, baik di Indonesia dan luar negeri, itu tentunya akan menjadi modal agar bisa kemudian dipelajari oleh para pengambil kebijakan di daerah,” katanya.
Dia mengatakan seminar internasional itu menjadi forum ilmiah bergengsi yang mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, dan pemangku kepentingan dari dalam dan luar negeri untuk membahas isu-isu terkini dalam bidang kedokteran manusia, kedokteran hewan, dan ilmu farmasi.
Melalui pendekatan One Health, kata dia, konferensi ini menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dalam menjawab tantangan global di bidang kesehatan, terutama terkait zoonosis, resistensi antimikroba, dan inovasi farmasi.
Seminar itu menghadirkan sejumlah pembicara dari berbagai universitas, yakni Prof. Dr. Santad Wichienchot dari Prince of Songkla University, Thailand, Prof. Dr. Djoko Agus Purwanto dari Universitas Airlangga, Indonesia, Dr. Gillian Marshman, BMBS, FACD dari Flinders University, Australia, serta dr. Florindo Cardosa Gomes dari Timorese Catholic University, Timor Leste.
Dia berharap, pertemuan para pembicara dalam seminar internasional tersebut juga dapat menjadi bahan bertukar ide dan pikiran dalam hal ilmu kedokteran, baik ilmu kedokteran manusia maupun hewan.
Ketua panitia seminar internasional itu, Deif Tunggal, mengatakan kegiatan itu sebagai cara civitas academica melihat masalah kesehatan dari berbagai sudut pandang, baik kedokteran hewan, umum, maupun farmasi, bahkan visi pertanian.
“Jadi di sini kita melihat berbagai macam hal, salah satunya terkait resistensi anti mikroba. Contohnya dulu kita minum obat Amoxilin sudah bisa langsung sembuh, namun sekarang minum Amoxilin dalam jumlah banyak tidak sembuh-sembuh. Nah ini juga kita bahas,” ujar dia.
Dekan Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan (FKKH) Undana Christina Olly Lada menilai bahwa duduk bersama untuk membicarakan tentang aspek kesehatan itu hingga saat ini masih relatif kurang.
“Kita berharap agar dari seminar ini muncul berbagai terobosan bahasa ilmiah yang dapat diterjemahkan ke dalam bahasa ilmiah populer agar bisa dimengerti dan dilihat oleh para pemangku kepentingan,” ujar dia.

