
Inflasi di NTT 0,15 Persen

"Inflasi ini terjadi disebabkan oleh kenaikan indeks harga pada tiga dari tujuh kelompok pengeluaran," kata Maritje Pattiwalapia.
Kupang (Antara NTT) - Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur mencatat NTT pada Februari 2017 mengalami inflasi sebesar 0,15 persen, setelah bulan sebelumnya Januari 2017 mengalami inflasi sebesar 0,74 persen.
"Inflasi ini terjadi disebabkan oleh kenaikan indeks harga pada tiga dari tujuh kelompok pengeluaran," kata Kepala BPS NTT Maritje Pattiwalapia, di Kupang, Rabu (1/3).
Ia menyebutkan kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks harga tertinggi terjadi pada kelompok sandang yang naik sebesar 1,70 persen, diikuti oleh kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar naik 0,49 persen.
Sedangkan, kata dia lagi, kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks harga terbesar terjadi pada kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga yang turun sebesar 0,38 persen.
"Inflasi yang terjadi pada Februari 2017 ini sedikit berbeda searah dengan yang terjadi Februari 2016 lalu yang mengalami deflasi," katanya lagi.
Perbandingannya jika tahun lalu di Februari 2016 terjadi deflasi sebesar 0,33 persen, maka Februari 2017 terjadi inflasi sebesar 0,15 persen juga.
"Perbandingan inflasi bulanan, inflasi tahun kalender, dan inflasi year on year dalam lima tahun terakhir, tercatat pada bulan Februari NTT dua kali mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi tahun 2014 sebesar 1,48 persen," katanya lagi.
Sedangkan menurut kelompok pengeluaran, pemberi andil terbesar dalam pembentukan inflasi di NTT bulan Februari 2017 adalah kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar dengan andil inflasi sebesar 0,12 persen.
Disusul kelompok sandang dengan andil inflasi sebesar 0,08 persen dan kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau dengan andil sebesar 0,04 persen. Dari 82 kota sampel IHK Nasional, 62 kota mengalami inflasi dan 20 kota deflasi.
Inflasi tertinggi terjadi di Kota Manado sebesar 1,16 persen dan terendah terjadi di Kota Ternate dengan inflasi sebesar 0,03 persen. Deflasi terbesar terjadi di kota Jambi, sebesar 1,40 persen.
"Pemicu deflasi bulan Februari 2017 di Kota Maumere adalah karena turunnya indeks harga pada dua dari tujuh kelompok pengeluaran," kata Maritje Pattiwalapia.
Ia mengatakan, kelompok bahan makanan mengalami penurunan indeks terbesar, yakni sebesar 1,58 persen dan diikuti kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan yang turun sebesar 0,50 persen.
Kelompok pengeluaran yang memberikan andil terbesar dalam pembentukan deflasi di Kota Maumere di Februari 2017 adalah kelompok bahan makanan dengan sumbangan deflasi sebesar 0,49 persen, diikuti oleh kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan dengan andil deflasi sebesar 0,06 persen.
Sedangkan kata dia kelompok yang menghambat terbesar terhadap laju deflasi di Februari 2017 ini adalah kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar dengan sumbangan sebesar 0,25 persen.
Sementara menurut dia, komoditas yang memberikan sumbangan terbesar terhadap deflasi Kota Maumere antara lain turunnya harga ayam hidup, ikan layang, tarif pulsa ponsel, bawang merah, ikan selar, tarif angkutan udara, ikan tuna, daging ayam kampung, apel dan ikan asin belah.
"Komoditas dominan yang menghambat laju deflasi Februari 2017 di Kota Maumere antara lain naiknya harga kangkung, tukang bukan mandor, kue kering, upah pembantu rumah tangga, sawi hijau, rokok putih, pepaya, baju kaos berkerah, mobil dan rokok kretek filter," katanya.
Berbeda dengan sebelumnya, Februari 2016 Kota Maumere mengalami inflasi 0,27 persen, dan pada Februari 2017 ini Kota Maumere mengalami deflasi sebesar 0,05 persen.
Demikian pula di Kota Kupang yang pada Februari 2017 ini Kota Kupang mengalami inflasi sebesar 0,18 persen atau terjadi kenaikan IHK dari 130,09 pada bulan Januari 2017 menjadi 130,32 pada Februari 2017. Inflasi Februari 2017 didorong oleh empat dari tujuh kelompok pengeluaran.
Kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks tertinggi terjadi pada kelompok sandang yang naik sebesar 1,68 persen, dan diikuti oleh kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar yang juga naik 0,40 persen.
Sedangkan kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks harga terbesar adalah kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga yang turun sebesar 0,49 persen.
Berbeda dengan tahun sebelumnya, dimana pada Februari 2016 yang lalu Kota Kupang mengalami deflasi sebesar 0,42 persen, maka pada Februari 2017 ini juga mengalami inflasi sebesar 0,18 persen.
Pewarta : Hironimus Bifel
Editor:
Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
