Rambangaru dilanda kekeringan meteorologis terpanjang

id Kekeringan

Petani berjalan di pematang sawah tanaman padi yang dilanda kekeringan akibat kemarau di areal persawahan Kelurahan Ranomeeto, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, Rabu (11/9/2019). (ANTARA FOTO/Jojon/hp).

Kekeringan meteorologis terpanjang melanda wilayah Rambangaruh, Kabupaten Sumba Timur di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan 178 hari tanpa hujan (HTH).
Kupang (ANTARA) - Kekeringan meteorologis terpanjang melanda wilayah Rambangaruh, Kabupaten Sumba Timur di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan 178 hari tanpa hujan (HTH).

"Wilayah yang mengalami kekeringan meteorologis terpanjang itu adalah sekitar Rambangaru," kata Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kelas II Kupang Apolinaris Geru di Kupang, Rabu (11/9).

Ia mengatakan berdasarkan monitoring hari tanpa hujan berturut-turut (HTH) Dasarian I September 2019, wilayah Rambangaru di Kabupaten Sumba Timur masuk dalam kategori kekeringan meteorologis terpanjang.

Baca juga: Kekeringan ekstrem landa NTT

Selain itu, BMKG juga mencatat, sejumlah wilayah di Kabupaten Sumba Timur saat ini juga mengalami kekeringan ekstrem. Wilayah-wilayah yang mengalami kekeringan ekstrem itu adalah wilayah sekitar Waingapu, Kanatang, Kawangu, Tanarara, Tawui, Lambanapu, Rambangaru dan Kamanggih.

Apolianris mengatakan, kekeringan ekstrem ini tentu akan berdampak pada sektor pertanian dengan sistem tadah hujan. "Selain berdampak pada pengurangan ketersediaan air tanah juga menyebabkan kelangkaan air bersih, serta meningkatnya potensi terjadinya kebakaran," katanya. 

Karena itu,Apolianris meminta  masyarakat  melakukan penghematan air, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun untuk pertanian dan peternakan. "Hal lain yang tidak kalah penting adalah harus ada gerakan bersama seluruh masyarakat untuk menjaga agar tidak terjadi kebakaran hutan," katanya.

Baca juga: Akibat kemarau, ribuan haktare sawah di Manggarai Barat gagal panen
Baca juga: NTT diambang siaga kekeringan
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar