Logo Header Antaranews Kupang

Bulog Jaga Harga Beli Gabah Petani

Selasa, 9 Mei 2017 10:54 WIB
Image Print
Kepala Bulog Divre NTT Sugeng Rahayu
Badan Logistik Divisi Regional (Divre) Nusa Tenggara Timur tetap berkomitmen menjaga Harga Pokok Pembelian (HPP) Gabah Kering kepada petani.

Kupang (Antara NTT) - Badan Logistik Divisi Regional (Divre) Nusa Tenggara Timur tetap berkomitmen menjaga Harga Pokok Pembelian (HPP) Gabah Kering kepada petani, kata Kepala Bulog Divre NTT Sugeng Rahayu di Kupang, Selasa.


"Di usia emasnya ke-50 yang akan jatuh pada Rabu (10/5) besok kami tetap berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat, dan yang terpenting adalah terus membela petani-petani kita dengan cara menjaga harga patokan pemerintah (HPP) gabah kering," katanya di Kupang disela-sela kegiatan jelang peringatan HUT ke-50 Bulog Divre.

Ia mengatakan hal tersebut merupakan sebuah bukti komitmen dari pemerintah, bahwa pemerintah benar-benar memperhatikan petani agar para petani tersebut memperoleh jaminan harga pada saat panen.

Karena menurutnya jika ada harga jatuh saat panen yang akibat bencana atau karena kualitasnya buruk, maka Bulog sendiri wajib membeli dengan harga yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.

"Istilah, untuk gabah di luar kualitas akan langsung dibeli oleh Bulog, sehingga petani tidak merasa merugi," tambahnya.

Saat ini lanjutnya, harga gabah kering panen yang ditetapkan pemerintah adalah sebesar Rp3.700 per kilogram, sementara untuk gabah yang rusak karena terendam banjir atau bencana lainnya maka Bulog akan tetap membeli dengan harga seperti harga gabah kering.

Ia menjelaskan, kedepannya Bulog sendiri akan terus berbenah agar pelayanan kepada masyarakat, serta pelayanan kepada para petani akan semakin ditingkatkan, sehingga kehidupan petani juga semakin membaik.

Sementara itu terkait berbagi kegiatan yang dilakukan oleh Bulog NTT jelang HUT ke-50, Sugeng mengatakan Bulog sendiri mengelar sosialisasi antara Bulog dengan Bank Indonesia terkait Rumah Pangan Kita (RPK). Disamping itu juga mengelar sosialisasi yang sama dengan pihak dari Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) yang akan digelar pada 17 Mei mendatang di Atambua Kabupaten Belu.

Tidak hanya itu saja, Bulog Divre NTT juga melalui CSR akan membangun gereja di Kabupaten Lembata, bantuan rehab Mesjid di Alor serta bantuan lainnya.

"Semua ini bagian dari BUMN hadir untuk negeri, sebagai wujud dari komitmen Bulog untuk tetap memberikan pelayanan dan membantu masyarakat di usianya yang sudah memasuki masa emas ini," demikian Sugeng.


49.000 ton
Ia menambahkan stok beras yang dikuasai Bulog Divre NTT hingga Selasa (9/5), mencapai 49.000 ton yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat NTT hingga tujuh bulan ke depan.

"Jadi, bisa dibilang stok untuk Lebaran aman, tidak ada masalah," katanya dan menambahkan jumlah stok beras yang disebutkan itu baru merupakan stok yang tersimpan di gudang. Namun, ada juga beras yang sedang dalam perjalanan menuju ke Kota Kupang.

"Saat ini, sekitar 11.000 ton yang sedang dalam perjalanan menuju ke Kupang untuk beberapa bulan ke depan lagi setelah Lebaran," katanya.

Di samping beras, kata dia, stok gula pasir juga dinyatakan aman hingga beberapa bulan ke depan. Namun, itu hanya Kota Kupang.

"Kalau gula, stoknya aman karena jumlahnya mencapai 400 ton dan itu khusus di Kota Kupang, belum termasuk di sejumlah daerah di NTT yang diperkirakan 1.400 ton," tuturnya.

Harga jual gula pasir sendiri saat ini di pasaran dan dijual oleh Bulog dalam operasi pasar sendiri mencapai Rp12.500,00 per kilogram.

Harga Rp12.500,00/kg tersebut menurut dia sudah menjadi keputusan pemerintah pusat agar bisa dijual secara satu harga di pasaran.

Namun, temuan pewarta di sejumlah pasar diketahui harga gula pasir sendiri saat ini berkisar dari Rp15 ribu hingga Rp16 ribu/kg.

Menanggapi hal tersebut, Sugeng menyatakan bahwa pada hari Rabu (10/5) akan digelar rapat koordinasi untuk membahas soal harga barang jelang Lebaran, khususnya mengenai satu harga gula pasir di pasaran.


Butuh 800.000 ton
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Nusa Tenggara Timur Yohanes Tay Ruba mengatakan NTT membutuhkan sekitar 700.000 - 800.000 ton beras setiap tahun untuk konsumsi dengan ratio setiap orang sebanyak 112 kg/kapita per tahun.

"Total kuota beras ini dihitung berdasarkan dengan jumlah penduduk NTT saat ini kurang lebih 5,4 juta jiwa," katanya dan menambahkan hingga musim panen 2016/2017 petani di Provinsi ini memproduksi gabah sebanyak 970.000 ton dengan tingkat penyusutan ketika hendak diproses menjadi beras sebesar 0,6 persen.

Dengan demikian, jumlah beras yang dihasilkan kurang lebih sebanyak 600.000 ton. Jumlah produksi ini memperlihatkan NTT masih kekurangan sekitar 200.000 ton beras dari luar daerah.

"Selama ini kita masih datangkan beras dari provinsi lain sekitar 115-130 ribu ton. Namun beras yang didatangkan itu lebih difokuskan untuk memenuhi kebutuhan program beras miskin (Raskin), gaji PNS, dan cadangan beras pemerintah yang tersimpan di Bulog," katanya.

Ia mengatakan pihaknya berkomitmen untuk menekan kekurangan atau selisih antara total produksi dan kebutuhan masyarakat NTT akan beras.

Komitmen ini dilakukan secara bertahap mulai dari 100.000 ton sampai pada akhirnya produksi lokal bisa memenuhi sendiri kebutuhan masyarakat.

Strategi yang dilakukan antara lain, menambah luas lahan tanam, luas panen dalam hal ini meningkatkan intensitas pertanaman dari sekali tanam menjadi dua kali tanam pada lokasi yang sama dan menjaga produktivitas tanam.

"Komitmen ini sebagai langkah untuk menyumbang pangan NTT untuk memenuhi kebutuhan lokal dan pada saatnya berkontribusi terhadap kebutuhan pangan nasional," katanya.

Ia mengatakan, pada prinsipnya upaya perwujudan swasembada pangan NTT mendukung swasembada pangan nasional. Karena itu, kerja sama dengan TNI untuk menyukseskan program upaya khusus (Upsus) padi, jagung dan kedelai (Pajale) terus ditingkatkan.

Salah satunya adalah penambahan luas tambah tanam dan perluasan panen. Ia mengatakan pada musim tanam April sampai September 2016, luas panen yang dicapai sebanyak 66.000 hektare lebih dari target 57.000 hektare.

Jika dihitung dari produksi gabah, maka sudah melampaui kebutuhan karena sudah mencapai 970.000 lebih ton. Atau dengan kata lain, produksi gabah sudah swasembada pangan. Produksi yang dicapai tidak terlepas dari keterlibatan TNI dalam program Upsus Pajale.

"Kita terus tingkatkan kerja sama dengan TNI, karena diyakini dengan kerja secara bersinergi, NTT mendapat hasil yang baik dalam mencapai total produksi pajale," katanya



Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2026