Logo Header Antaranews Kupang

Peristiwa Pekanbaru Jadi Pelajaran

Kamis, 11 Mei 2017 05:21 WIB
Image Print
Polisi tengah meringkus sejumlah tahanan dari sekitar 200 tahanan yang kabur dari Rutan Sianglang Bungkuk di Pekanbaru, Provinsi Riau, pekan lalu.(Foto ANTARA)
"Saya minta semua Karutan, Kalapas kita di NTT agar bisa berkaca, belajar dari peristiwa kaburnya ratusan tahanan dari Rutan Klas IIB Sianglang Bungkuk, Pekanbaru pada Jumat pekan lalu," kata M Diah.

Kupang (Antara NTT) - Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Provinsi Nusa Tenggara Timur M Diah meminta Kepala Rutan dan Lapas setempat untuk mengambil pelajaran dari peristiwa kaburnya ratusan tahanan di Pekanbaru, Provinsi Riau.

"Saya minta semua Karutan, Kalapas kita di NTT agar bisa berkaca, belajar dari peristiwa kaburnya ratusan tahanan dari Rutan Klas IIB Sianglang Bungkuk, Pekanbaru pada Jumat pekan lalu," kata M Diah di Kupang, Rabu.

Menurut dia, peristiwa itu menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi Karutan-Kalapas serta petugas dan operator Lembaga Pemasyarakatan di provinsi kepulauan itu.

Peristiwa itu telah berakibat fatal dan memprihatinkan yang membuat Kepala Rutan setempat telah dicopot jabatannya.

Bukan hanya itu, kata dia, yang bersangkutan juga diberhentikan secara tidak hormat dari statusnya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS).

"Tidak hanya di situ saja tapi juga isu pungli dan pemerasan yang dilakukan teman-teman kita di sana membuat Pak Menteri langsung memerintahkan kapolda Riau segera melakukan penyidikan dan penyelidikan," katanya.

Ia mengatakan, tidak hanya berheti pada pencopotan jabatan itu, namun jika dalam penyidikan Kepolisian mendapati adanya unsur pidana yang dilakukan oleh Karutan maupun petugas maka akan diproses secara hukum.

Diah mengakui, kehidupan warga binaan di Rutan tersebut sangat memprihatinkan. Sebagian besar hak kemerdekaan mereka sudah dicabut. Ditempatkan di tempat yang tidak manusiawi dengan ruangan yang melebihi kapasitas yang membuat mereka susah tidur dan sebagainya.

"Tapi ada teman-teman petugas kita di sana yang tidak bekerja dengan hati sehingga warga binaan masih saja dipungli, masih diperas, keluarga yang datang di situ masih dimintai macam-macam, masih dipersulit, di mana hati nurani kita," katanya dalam nada tanya.

Untuk itu, Diah secara tegas meminta kepala unit pelaksana tugas baik di lingkungan Lembaga Pemasyarakatan maupun Imigrasi agar bekerja keras, jujur dan dengan hati yang ikhlas.

"Mari kita tanya hati kita, tanya perasaan kita, bagaimana kalau diri kita pribadi sekarang berada sebagai posisi warga binaan di dalamnya," katanya.

Ia mengatakan, sistem penanganan warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan harus dilakukan dengan prinsip membina, mengayomi, melayani, hingga melatih mereka sehingga ketika mereka kembali ke masyarakat bisa memiliki kompetensi dan keahlian untuk membangun hidup yang lebih layak.

"Jangan lagi menggunakan sistem dan cara-cara lama dengan kekerasan, pemerasan, intimidasi dan lainnya," katanya.

Diah pun mengimbau pihak pengelola Rutan setempat agar segera membuat rencana-rencana pendistibusian warga binaan jika kondisinya sudah melebihi kapasitas sehingga menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

"Kalau kondisi kapasitasnya sudah penuh harus segera buat rencana pendistibusian, tidak boleh di tahan-tahan namun segera dipindahkan ke tempat lain yang bisa menampung," kaanya.



Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2026