Logo Header Antaranews Kupang

NTT Alami Deflasi 0,01 Persen

Sabtu, 3 Juni 2017 05:26 WIB
Image Print
Kepala BPS Nusa Tenggara Timur Maritje Pattiwalapia (kiri)
"Deflasi ini terjadi akibat turunnya indeks harga pada empat dari tujuh kelompok pengeluaran," kata Maritje Pattiwalapia.

Kupang (Antara NTT) - Badan Pusat Statistik (BPS) Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatat pada Mei 2017, daerah ini mengalami deflasi sebesar 0,01 persen setelah bulan April 2017 mengalami inflasi 0,24 persen.

"Deflasi ini terjadi akibat turunnya indeks harga pada empat dari tujuh kelompok pengeluaran," kata Kepala BPS NTT Maritje Pattiwalapia di Kupang, Jumat.

Pada posisi deflasi itu, katanya, kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks harga tertinggi terjadi pada kelompok bahan makanan sebesar 0,54 persen, menyusul kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,49 persen.

Sementara kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks harga terbesar terjadi pada kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,63 persen. Menurut dia, deflasi yang terjadi pada Mei 2017 ini berbeda arah dengan yang terjadi di Mei 2016.

"Jika di Mei 2016 terjadi inflasi sebesar 0,61 persen, maka Mei 2017 terjadi deflasi sebesar 0,01 persen," katanya dan menambahkan kelompok pengeluaran memberi andil terbesar dalam pembentukan deflasi adalah kelompok bahan makanan dengan andil negatif sebesar 0,12 persen.

Disusul kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan dengan andil deflasi sebesar 0,09 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar memberikan andil positif sebesar 0,63 persen.

Sementara hasil penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Mei 2017, Kota Kupang juga mengalami deflasi sebesar 0,06 persen, atau terjadi penurunan IHK dari 129,57 pada April 2017 menjadi 129,49 pada Mei 2017.

Kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks tertinggi terjadi pada kelompok bahan makanan yang turun sebesar 0,66 persen, dan diikuti oleh kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,51 persen.

Sedangkan kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks harga terbesar adalah kelompok Perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar yang naik sebesar 0,63 persen.


Ikut defisit
Ia menambahkan dampak dari deflasi tersebut ikut mempengaruhi perdagangan komoditas daerah ini ke luar negeri yang ikut mengalami defisit sebesar 7.080.660 dolar AS selama empat bulan dalam periode Januari hingga April 2017.

"Dalam tenggat waktu empat bulan pertama 2017 perdagangan komoditas dari NTT ke luar negeri atau ekspor hanya 7.080.660 dolar AS atau defisit," kata Marije Pattiwaellapia.

Ia menyebut defisit itu disumbangkan oleh aktivitas ekspor dari NTT pada April 2017 hanya senilai 1.617.152 dolar AS dengan volume sebesar 6.459,52 ton, atau mengalami penurunan sebesar 13,15 persen jika dibandingkan dengan ekspor pada Maret 2017 yang mencapai 1.862.068 dolar AS.

Ekspor tersebut terdiri dari ekspor migas sebesar 186.599 dolar AS dan ekspor non migas sebesar 1.430.553 dolar AS. Komoditas ekspor dari NTT yang diekspor ke Timor Leste pada April 2017 senilai 1.613.863 dolar AS dan ke Singapura senilai 3.289 dolar AS.

Komoditas yang diekspor ke Timor Leste itu didominasi onderdil kendaraan bermotor senilai 351.847 dolar AS. Defisit perdagangan juga disebabkan masih terbatasnya negara tujuan ekspor dengan volume barang yang terbatas.


Negara Democratik Timor Leste harus diakui masih menjadi negara tujuan utama ekspor hasil-hasil pertanian, industri kerajinan dan automitf kendaraan dan beberapa negara ASEAN seperti Singapura.

Pada Maret 2017, nilai ekspor NTT sebesar 1.862.068 dolar AS dengan volume 8.936,23 ton, yang terdiri dari migas senilai 298.023 dolar AS dan ekspor non migas senilai 1.564.045 dolar AS.

Nilai ekspor tersebut justru mengalami kenaikan sebesar 24,80 persen atau bertambah 370.062 dolar AS, jika dibandingkan dengan nilai ekspor bulan Februari 2017 sebesar 1.492.006 dolar AS.

"Dan jika dibandingkan dengan total ekspor pada periode yang sama pada bulan Maret tahun 2016 sebesar 1.789.504 dolar AS, maka terjadi kenaikan sebesar 4,06 persen," katanya.

Dia menyebut komoditas ekspor Provinsi NTT Maret 2017 dikirim ke Timor Leste senilai 1.858.257 dolar AS dan Singapura senilai 3.811 dolar Singapura.


Pengiriman komoditas ekspor melalui pelabuhan Atapupu di Kabupaten Belu sebesar 1.567.470 dolar AS, Pelabuhan Tenau Kupang sebesar 290.787 dolar AS dan Bandara El Tari sebesar 3.811 dolar AS.

Komoditas dari NTT yang diekspor tersebut meliputi garam, belerang, kapur dengan nilai ekspor sebesar 469.910 dolar AS atau 25,24 persen dari total ekspor.


Nilai tukar petani
BPS NTT melaporkan pula bahwa nilai tukar petani (NTP pada Mei 2017 juga ikut menurun sebesar 0,23 persen jika dibandingkan April pada tahun yang sama.

"Hal ini terjadi akibat tingginya kenaikan indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga dibandingkan indeks harga hasil produksi pertanian.," kata Maritje Pattiwalapia.

Menurut dia, subsektor tanaman padi dan palawija mengalami penurunan sebesar 2,13 persen, hortikultura justru mengalami peningkatan sebesar 1,86 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat mengalami penurunan sebesar 0,71 persen.

Subsektor peternakan mengalami peningkatan sebesar 1,03 persen dan subsektor perikanan mengalami penurunan sebesar 0,22 persen.

Pada Mei 2017 indeks harga yang dibayar petani dilaporkan mengalami peningkatan dibandingkan April 2017 yaitu dari 125,67 menjadi 126,05 atau meningkat sebesar 0,30 persen.

Hal ini disebabkan karena indeks yang diterima (It) mengalami penurunan sebesar 1,85 persen sedangkan indeks yang dibayar (Ib) mengalami peningkatan sebesar 0,28 persen, yang dipengaruhi oleh penurunan pada semua subkelompok baik padi maupun palawija sebesar 1,81 persen dan 1,87 persen.

Sedangkan naiknya Ib dipengaruhi oleh peningkatan subkelompok konsumsi rumah tangga mengalami kenaikan sebesar 0,36 persen walaupun BPPBM (biaya produksi dan penambahan biaya modal) mengalami penurunan 0,06 persen.



Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2026